CRU Mobile: Secercah Harapan yang Masih Tersisa

Pada awalnya semua orang menganggap tidak ada lagi celah yang dapat dilakukan untuk menghentikan aktivitas illegal logging dan permasalahan lainnya di Seksi Konservasi Wilayah IV Besitang Balai Taman Nasional Gunung Leuser. Namun berkat kejelian pihak FFI (Fauna & Flora International) dalam melihat situasi yang berkembang dan didukung oleh pendanaan yang cukup, terbukalah sedikit celah yang memungkinkan kita untuk melakukan kegiatan penangkapan di jalur-jalur keluar kayu guna memutus mata rantai distribusi kayu dari dalam kawasan.

Apa itu CRU?

CRU merupakan salah satu program yang ditawarkan FFI untuk merangkul berbagai pihak dalam rangka penyelamatan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan memanfaatkan satwa gajah dalam kegiatan operasionalnya.

Dalam kegiatannya, selain melibatkan Balai TNGL, FFI juga melibatkan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Nanggroe Aceh Darussalam serta masyarakat di sekitar kawasan hutan dan selanjutnya diharapkan kebersatuan ini menjadi salah contoh format kolaborasi yang ideal dalam penanganan permasalahan kawasan pelestarian.

Sejarah CRU

Kerusakan kawasan hutan di Seksi Konservasi Wilayah IV Besitang yang telah mencapai ± 43.000 ha (data citra landsat tahun 2002) dimana ± 21.000 ha diantaranya sudah berada pada kondisi kritis, mengundang keprihatinan banyak pihak terutama organisasi yang bergerak di bidang konservasi. Salah satu pihak yang peduli dengan keadaan tersebut adalah Fauna & Flora International (FFI), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang berbasis pada konservasi lingkungan hidup. Dan didasari pada kondisi kawasan TNGL yang semakin memprihatinkan itulah, FFI mencoba mencari format penyelesaian terhadap berbagai permasalahan tersebut dengan membentuk satu unit khusus yang diberi nama CRU (Conservation Response Unit).

CRU yang dibentuk pada awal tahun 2003 mempunyai kegiatan yang bersifat preventif dan persuasif di dalam penanganan permasalahan. Observasi dan Monitoring merupakan bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan oleh tim CRU. Dari kegiatan yang telah dilakukan selama ini, tim CRU telah banyak mengumpulkan data tentang permasalahan kawasan meliputi luas kerusakan , jenis permasalahan, peta “pemain” setiap permasalahan serta data lain yang diharapkan dapat membantu pihak-pihak terkait dalam menyelesaikan setiap permasalahan, terutaman permasalahan kawasan.

Pada tahap awal pihak FFI mencoba melaksanaan program melalui CRU ini pada 2 (dua) lokasi, yaitu di Resort Sekoci dan Tangkahan. Pengambilan lokasi pada kedua resort tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa pengelolaan manajeman permasalahan pada kedua resort tersebut dapat dikatakan sebagai dua sisi yang saling bertolak belakang, Pada satu sisi, Resort Sekoci merupakan resort dengan berbagai macam permasalahan, baik permasalahan kawasan maupun secara manajerial, dan di sisi lain resort Tangkahan merupakan salah satu resort percontohan dalam hal pemberdayaan masyarakat.

Pada perkembangan selanjutnya, kehadiran Tim CRU di kedua resort tersebut ternyata sangat banyak membantu Balai TNGL dalam menyelesaikan (atau paling tidak mengurangi) berbagai permasalahan di kedua resort tersebut. Satu dari banyak sumbangan Tim CRU adalah penyediaan data yang cukup lengkap yang sangat berharga sebagai bahan kajian Balai TNGL dalam ‘menentukan sikap’ terhadap berbagai permasalahan di kawasan tersebut.

Setelah berjalan selama 1 (satu) tahun di Resort Sekoci, dan aktifitas Tim CRU di kawasan itu dianggap telah berjalan optimal meskipun belum memperoleh solusi yang konkrit terhadap segala permasalahan di sekitar resort tersebut, serta belum dapat menghentikan laju kerusakan TNGL di kawasan tersebut; pada awal tahun 2004 pihak pihak FFI menghentikan program ini. Namun kegiatan di Tangkahan tetap jalan terus.

Namun, berhentinya kegiatan Tim CRU di Sekoci tidak berarti berhenti juga komitmen FFI untuk perang terhadap perusakan kawasan TNGL. Pihak FFI mulai memikirkan alternatif solusi untuk menurunkan intensitas kerusakan, karena di satu sisi bila hanya mengandalkan kegiatan CRU yang selama itu hanya bersifat preventif dan persuasif, maka tidak banyak yang bisa diharapkan. Dan di sisi lain, bila dilakukan kegiatan represif (terutama tanpa persiapan dan pertimbangan yang matang) juga agak sulit implementasinya mengingat banyak faktor yang perlu dipertimbangkan terutama keberadaan pengungsi yang selalu dikaitkan dengan isu kemanusiaan serta semakin kuatnya jaringan kerja illegal logger.

Kegiatan penangkapan di luar kawasan hutan melalui jalur-jalur keluar kayu merupakan alternatif solusi yang saat ini paling mungkin mungkin diterapkan. Kegiatan ini diharapkan dapat menurunkan aktifitas illegal logging karena bila dapat direalisasikan secara maksimal, tentunya (sangat diharapkan) akan dapat memutuskan mata rantai distribusi kayu dari dalam kawasan.

Anggota Tim CRU Mobile

Dalam kegiatannya di lapangan, FFI secara aktif juga melibatkan personel Balai TNGL. Pada tahap awal, FFI merekrut 3 (tiga) orang polhut TNGL untuk bergabung dengan CRU Mobile, dan ditambah lagi perekrutan 1 (stu) orang Polhut TNGL lagi selang 3 bulan kemudian. Penentuan personel balai TNGL untuk dapat bergabung dengan Tim CRU Mobile ini didasarkan atas kemampuan, track record (bersih dan jujur) serta rekomendasi dari Balai TNGL.

Keberadaan jumlah personil yang hanya 4 (empat) orang dirasakan masih jauh dari cukup untuk meng-handle permasalahan illegal logging yang sudah cukup mengkhawatirkan, utamanya di Wilayah Besitang. Sehingga didasarkan atas keterbatasan jumlah personil tersebut pada bulan Maret dan April 2005 ada penambahan 3 (tiga) orang personil lagi masing-masing 2 (dua) orang Polhut dan 1 (satu) orang personel sebagai back up proses hukum.

Metoda Kerja

Metoda kerja yang diterapkan Tim CRU Mobile sama persis dengan metode yang digunakan dalam tugas rutin Polhut. Secara garis besar cara kerja Tim CRU dibagi ke dalam 3 tahapan yaitu pengumpulan informasi melalui kegiatan patroli dan intelijen, penangkapan, dan proses hukum.

Kegiatan patroli dan intelijen dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang aktivitas illegal logging meliputi jalur distribusi kayu, modus operandi, peta pemain kayu, waktu operasi pemain serta data lain yang dianggap dapat membantu kegiatan penangkapan.

Kegiatan penangkapan tentunya akan dapat dilakukan dengan cantik apabila data yang diperoleh dari kegiatan patroli dan inteligen bersifat akurat. Karena tuntutan ini, usaha menggandeng pihak lain (terutama masyarakat sekitar kawasan hutan) menjadi hal yang sangat krusial untuk mendukung kegiatan di atas. Selama ini, sudah banyak anggota masyarakat yang membantu kegiatan ini dengan memberikan informasi-informasi penting khususnya tentang sekitar aktor dan modus operandi praktek illegal logging.

Keberhasilan kegiatan penangkapan selanjutnya diikuti dengan kegiatan pemeriksaan awal terhadap para pelaku di kantor Seksi Konservasi Wilayah IV Besitang yang nantinya menghasilkan output berupa laporan kejadian dan Berita Acara Interogasi. Setelah proses ini, para pelaku berikut barang bukti hasil tangkapan diserahkan kepada pihak berwajib untuk dilakukan proses lanjutan guna menghasilkan keputusan hukum tetap dari pengadilan.

Dalam pelaksanaan kegiatannya, tidak sedikit bahkan banyak sekali, tantangan dan hambatan yang dihadapi tim CRU Mobile. Salah satunya adalah bahwa hampir semua pelaku illegal logging di-backing oleh oknum aparat keamanan dengan persenjataan lengkap, sedangkan Tim CRU Mobile hanya bersenjatakan keberanian dan tanggung jawab moral.

Rencana Ke Depan

Untuk banyak kasus, ternyata kegiatan yang sifatnya represif tidak menjamin dapat menyelesaikan permasalahan bahkan bisa jadi bumerang kalau dilakukan tidak dengan hati-hati dan penuh pertimbangan. Oleh karena itu, FFI melauli Tim CRU berpikir bahwa apabila kegiatan represif dianggap tidak populer, bentuk kegiatan lain harus disiapkan dengan disesuaikan kebutuhan lapangan plus mempertimbangkan masukan para pihak dan program TNGL ke depan. Diharapkan kegiatan bentukan tersebut dapat bersifat edukatif (dan tentunya persuasif) dengan memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan.

Pemberdayaan Polhut

CRU Mobile menerapkan pola penanganan terhadap pelaku illegal logging melalui kegiatan yang sifatnya represif dengan menempatkan polhut TNGL di garis terdepan yang berarti memegang peranan penting bagi sukses tidaknya kegiatan tersebut.

Pemberdayaan Polhut, melalui kegiatan seperti ini merupakan hal baru yang kiranya dapat dijadikan model percontohan dalam penanganan terhadap illegal logger yang kian hari cenderung meningkat. Bagi Polhut program seperti ini merupakan peluang yang harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan cara meningkatkan kualitas diri agar selalu siap bila suatu saat dibutuhkan dalam program-program lain yang membutuhkan peranannya.

Sangat mungkin program pemberdayaan Polhut akan cendrung meningkat seiring dengan makin parahnya kerusakan hutan dan makin besarnya perhatian pemerintah terhadap kerusakan tersebut. Hal tersebut menuntut kejelian Polhut membaca peluang agar tetap sejalan dengan perubahan pola penanganan terhadap illegal logging yang sedang dikembangkan.***

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>