• Depan
  • › Kategori: Artikel
  • › Rbm Di Tngl: Riwayatmu Dulu & Bagaimana Nanti

RBM di TNGL: Riwayatmu Dulu & Bagaimana Nanti

Sedari doeloe… Dari tahoen 2005-an kalau tak salah ingat… roh untuk ”kembali bekerja di lapangan” sangat terasa berhembus di setiap sudut wilayah TNGL. Bahkan selanjutnya pembekalan-pembekalan dalam bentuk training-training teknis pengambilan data lapangan (teknik dokumentasi, teknik survey – inventarisasi flora/fauna, pelatihan GPS) bagi personil resort serta training GIS dan database bagi petugas kantor seksi hingga balai telah pernah dilakukan. Pembahasan bentuk/model tallysheet, crosscheck-groundcheck dan verifikasi peta per resort, simulasi pengisian program database dan aliran data dari lapangan hingga operator di tingkat balai juga sudah pernah dimulai. Yah… tapi… itu kan, doeloe… Hidup adalah tentang hari ini, pengalaman itu masa lalu, sedangkan cita-cita, angan-angan itu adanya di masa depan… Jadi dimanakah benda abstrak bernama RBM ini di Leuser akan ditempatkan? Menjadi pengalaman (masa lalu), bagian kehidupan sehari-hari (masa kini), atau tetap berupa angan-angan (masa depan)?

RBM Sebagai Sebuah Unit Manajemen Kawasan

Resort Based Management (RBM) adalah program prioritas Direktorat Jenderal PHKA, Kementerian Kehutanan. Program tersebut merupakan tools untuk meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi. Inti dari RBM adalah menciptakan pola manajemen kawasan yang menyentuh semua aspek permasalahan riil di lapangan, sehingga semua tahapan pengelolaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi dapat lebih efektif dan tepat sasaran. Dengan sistem RBM, aliran data dan informasi beserta output dari hasil analisisnya diharapkan lebih aplikatif dan implementatif sesuai kebutuhan.

Ketika menerapkan RBM, proses menemu-kenali permasalahan dan potensi serta membuat prioritas penanganan pada masing-masing wilayah adalah skill dasar yang diharapkan muncul dari petugas lapangan. Demikian juga dengan staf kantor yang bertugas mengolah dan memverifikasi data dan informasi serta memformulasikan rencana kegiatan, akan sangat terbantu dalam melakukan cross check dan menentukan prioritas.

Sebagai unit pemangkuan terkecil dari kawasan konservasi, resort merupakan ujung tombak di level tapak. Petugas resort adalah personil yang sehari-hari berinteraksi dengan dinamika problem di dalam maupun di sekitar kawasan.

Dalam konteks pengelolaan taman nasional, beberapa UPT yang telah menerapkan RBM terbukti mampu menunjukkan performance pengelolaan yang lebih optimal dan efektif. Namun pada sebagian besar unit pengelola taman nasional, pemberdayaan resort masih belum optimal. Lemahnya pengelolaan di tingkat resort ini menjadi salah satu penyebab terkendalanya upaya penyelesaian permasalahan di lapangan.

Menyadari pentingnya menerapkan sistem manajemen berbasis resort tersebut, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) telah melakukan beberapa upaya monitoring dan evaluasi penerapan RBM di tiap wilayah. Upaya tesebut juga telah diformulasikan dalam Renstra BBTNGL 2010 – 2014. Namun disadari bahwa hal ini tidaklah mudah mengingat beberapa kendala dan keterbatasan yang dimiliki, sehingga proses pembelajaran baik dari kesuksesan maupun kegagalan (internal maupun eksternal) menjadi satu hal yang tak kalah penting. Untuk itu diperlukan sebuah strategi yang lebih realistis untuk diimplementasikan.

Resort Model: Sebuah Tawaran

Skala potensi dan permasalahan di wilayah kerja Balai Besar TNGL yang begitu besar memerlukan strategi pengelolaan yang tidak hanya komprehensif namun juga harus tepat sasaran. Pada level tersebut diperlukan fokus penanganan pada isu strategis serta skala prioritas yang membutuhkan perencanaan matang, bertahap, dan realistis.

Penerapan resort model diharapkan menjadi sebuah terobosan untuk optimalisasi RBM di BBTNGL. Skema resort model dipandang perlu mengingat beberapa permasalahan krusial sebagai berikut:

  1. Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser memiliki areal dengan luasan yang cukup besar, yaitu lebih dari 1 juta hektar dengan jumlah resort sebanyak 31 resort;
  2. Jumlah dan kualitas SDM personil resort masih belum memadai dibandingkan dengan cakupan wilayah yang harus dikelola dan intensitas permasalahan yang muncul di lapangan;
  3. Keterbatasan sarpras;
  4. Belum optimalnya dukungan pendanaan.

Secara umum, tujuan penerapan RBM melalui resort model ini adalah terciptanya pola pengelolaan kawasan TNGL yang optimal dan efektif, yang menyentuh permasalahan, potensi, dan kebutuhan riil di lapangan. Selain itu diharapkan dapat memberikan manfaat ikutan yang positif, diantaranya adalah:

  1. Mengimplementasikan penerapan RBM secara lebih fokus dan tepat sasaran pada kawasan-kawasan resort terpilih;
  2. Membuat percontohan dan memberikan dorongan bagi peningkatan kinerja pada kawasan-kawasan resort lainnya yang belum dijadikan model;
  3. Mendorong berjalannya sistem RBM secara komprehensif mulai dari tingkat tapak (resort) hingga mendapatkan output sebagai masukan perencanaan dan kebijakan di tingkat Balai Besar;
  4. Meningkatkan skill personil RBM mulai dari level resort, seksi, bidang wilayah, dan balai besar.

sketch map

Sket Map. Salah satu produk dasar dari personil resort yang tidak memerlukan skill khusus, sangat mudah dikerjakan, yang sangat berguna bagi pengelolaan di tingkat tapak. Berisi kondisi terkini yang semua terpetakan. Untuk bisa membuat ini, syaratnya hanya satu, rajin ke lapangan.

Resort Model: Bagaimana Memulainya?

Resort model merupakan salah satu cara yang dipandang rasional untuk mengimplementasikan program pengelolaan kawasan konservasi berbasis resort. Mengingat beberapa kendala yang dihadapi untuk menerapkan program RBM di semua (31 resort) di wilayah kerja BBTNGL, maka kondisi ideal bahwa RBM dapat diterapkan secara serentak untuk semua wilayah kerja resort masih memerlukan proses. Untuk itu target realistis dalam jangka 1 tahun adalah dengan melakukan pemilihan untuk menentukan 1 resort model di masing-masing seksi wilayah, sehingga akan terdapat 6 resort model terpilih. Resort model terpilih tersebut berfungsi sebagai areal kontrol dan percontohan bagi resort lainnya melalui fokus penerapan yang konsisten sesuai pedoman pelaksanaan RBM Dirjen PHKA mulai dari pengisian tallysheet, pelaporan, hingga pengolahan dan analisis data/informasi dan feedback hasil analisis untuk masing-masing resort. Pembentukan beberapa resort model ini bukan berarti akan melupakan pengelolaan resort-resort lainnya, namun resort yang belum terpilih diharapkan bisa termotivasi untuk mencontoh dan mengadopsi pola yang diterapkan di resort-resort model tersebut.

Pemilihan resort model tersebut bisa dimulai dari penilaian terhadap beberapa resort yang diusulkan oleh pengelola kawasan (bidang wilayah). Resort yang diusulkan merupakan perwakilan tipologi permasalahan kawasan (dan atau potensi yang akan dikembangkan) yang terdapat di wilayah kerjanya, track record pengelolaan, keaktifan personil, dan sarpras pendukung. Kriteria-kriteria tersebut merupakan dasar bagi tim penilai yang dibentuk melalui SK Kepala Balai Besar TNGL untuk memverifikasi usulan dari masing-masing bidang wilayah. Tim/pokja yang dibentuk tersebut juga bertugas menyediakan bahan (tallysheet) dan mengawal teknis pelaksanaan RBM di masing-masing resort terpilih.

Resort-resort yang terpilih akan dievaluasi/dikelola secara lebih baik dengan memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  1. Pemenuhan sarana dan prasarana standar;
  2. Dukungan pendanaan yang cukup;
  3. Sumber daya manusia yang handal dan cukup terutama kepala resort;
  4. Potensi lembaga lokal / dorongan pembentukan lembaga lokal di setiap desa yang berbatasan langsung dengan kawasan serta dukungan mitra terkait.

Indikator keberhasilan dari kegiatan ini adalah tertibnya laporan berupa updating data  kondisi lapangan, serta adanya list program kerja bulanan dari 6 resort model terpilih; meningkatnya pengetahuan dan skill personil resort dalam menggunakan alat bantu, pengisian tallysheet, dan penyusunan laporan; meningkatnya kehadiran personil resort di lapangan; dan efektifnya penggunaan data/informasi serta feedback hasil analisis dari tim pengawal RBM di bidang wilayah dan balai besar, serta munculnya program prioritas bagi masing-masing resort.

Dengan penerapan program resort model ini diharapkan dalam jangka waktu 5 tahun ke depan (6 resort per tahun) semua resort akan mendekati kondisi ideal dan dipandang siap untuk menerapkan RBM dalam tugas keseharian di lapangan.

Penulis: Ujang Wisnu Barata (PEH BBTNGL) untuk Jejak Leuser edisi Tahun 2013

 

Artikel lainnya