• Depan
  • › Kategori: Artikel
  • › Harmonisasi Alam Dan Seni Budaya Masyarakat Sekitar Tn Gunung Leuser Di...

Harmonisasi Alam dan Seni Budaya Masyarakat Sekitar TN Gunung Leuser di Pesisir Pantai Selatan Aceh

School visit SD Negeri 4 Kandang(Aceh Selatan, September 2018)Umumnya masyarakat Aceh memeluk agama Islam. Kendati demikian agama minoritas mendapat penghargaan yang tulus dari masyarakat mayoritas muslim. Kondisi itu menggambarkan bahwa kerukunan beragama jelas terjalin harmonis di daerah tersebut. Ikatan kekeluargaan antar sesama sangat erat menjadi cerminan kehidupan masyarakat yang majemuk.

Tingkat administrasi pemerintahan terkecil di Aceh adalah desa yang disebut Gampoeng. Gampoeng dipimpin oleh seorang kepala gampoeng yang disebut Keuchik. Dalam menjalankan tugas pemerintahan Keuchik didampingi seorang pemuka agama yaitu Teuku Imum (tokoh agama).

Di kabupaten Aceh Selatan terdapat beberapa etnis diantaranya suku Aceh, Kluet dan Aneuk Jame. Bahasa keseharian masyarakat, umumnya menggunakan bahasa Aceh sedangkan etnis lainnya menggunakan bahasa daerah masing – masing. Suku Aceh merupakan etnis terbesar, menyebar hampir di seluruh daerah di Aceh Selatan. Sementara itu etnis Kluet bermukim di dataran tinggi pegunungan dan suku Aneuk Jame di bagian pesisir pantai barat selatan Aceh.

School Visit SDN 4 Kandang_3Potensi sumber daya alam Kabupaten Aceh Selatan sangat berlimpah mulai dari pantai, dataran rendah hingga pegunungan. Kehidupan masyarakatnya berdampingan langsung dengan kawasan hutan konservasi TN. Gunung Leuser. Sudah tentu sinergisitas alam dan seni budaya erat hubungannya dengan kehidupan sosial, ekonomi masyarakat setempat. Upaya mempertahankan harmonisasi alam dan seni budaya masyarakat pesisir pantai selatan Aceh terus digelar dalam berbagai bentuk program. Salah satunya digagas pihak TN. Gunung Leuser dalam konteks hutan lestari masyarakat sejahtera.

Kondisi itu mulai terlihat dengan berdirinya Stasiun Pembinaan Populasi Penyu Rantau Sialang, SPTN Wilayah II Kluet Utara, BPTN Wilayah I Tapaktuan. Melalui SP. Penyu Rantau Sialang, seni budaya lokal diperkenalkan seperti kenduri laut pelepasan penyu yang dilaksanakan dua kali setahun. Kenduri laut merupakan budaya masyarakat Aceh pada umumnya, dengan menghadirkan tokoh agama, pawang laoet, perangkat adat dan hukum di desa – desa dampingan TN. Gunung Leuser.

Diharapkan dengan kehadiran stasiun ini masyarakat pesisir pantai selatan Aceh mampu memelihara dan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada secara benar dan lestari.

School Visit SDN 4 KandangDi sisi lain SP. Penyu Rantau Sialang juga tidak hentinya membangun semangat konservasi alam terhadap masyarakat sekitar. Bahkan kini telah merambah ke dunia pendidikan dengan sasaran lembaga pendidikan formal yang berada di wilayah program sasaran BCCPGLE – (KFW) – (BBTNGL) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dalam rangkaian kegiatan edukasi tersebut berbagai pemahaman tentang konservasi alam terus ditananamkan kepada generasi muda sejak dini. Keterampilan seni budaya masyarakat daerah juga diangkat ke publik seperti yang dilakukan pelajar SDN 4 Kandang siang tadi di SP. Penyu Rantau Sialang pada Kamis (20/9/18).

Kunjungan edukasi SDN 4 Kandang dimeriahkan dengan pertunjukan seni tari Marawis, Seulaweut Aceh dan tarian Agam Dara. Begitulah antusias generasi melenial tersebut terhadap pelestarian penyu laut di masa mendatang. Perwujudan itu tentunya mempengaruhi harmonisasi alam dan seni budaya masyarakat sekitar pantai kawasan.

[Teks Efa Wahyuni & Foto Musrizal | ©bbtngl| 21092018]

Artikel lainnya