Hutan Punya Cara Sendiri

Seorang dari enam warga Kecamatan Trenggulun tewas dimangsa harimau. Kejadian berawal dari sekelompok orang yang mencari kayu Alim atau gaharu yang memasang jerat untuk rusa dan mengakibatkan seekor anak harimau mati terkena jerat (3/7/2013). Induk harimau yang mengetahui anaknya terkena jerat kemudian meraung-raung memanggil harimau yang lain hingga semua berjumlah 3 ekor yaitu 2 ekor harimau dewasa, 1 ekor anak harimau. Secara bersamaan harimau tersebut kemudian membuat formasi menyerang sekawanan pencari kayu Alim itu. Enam orang pencari kayu itu kemudian mencoba melarikan diri dari serangan harimau dengan memanjat pohon, namun naas salah seorang dari mereka tewas diserang harimau.

Lain cerita lain pula pengakuan. Setelah beberapa hari bertahan di pohon, akhirnya kelima pencari kayu dapat diselamatkan oleh tim gabungan aparat, masyarakat dan pawang. Kelima orang tersebut mengatakan bahwa alasan Datung Belang (sebutan masyarakat sekitar bagi Harimau Sumatera) menyerang mereka karena mereka telah mendirikan camp di tempat keramat leluhur harimau tersebut bukan karena terjeratnya anak harimau. Mana yang benar seharusnya bisa diusut secara tuntas oleh pihak yang berwenang dan fakta yang terjadi adalah meninggalnya 1 korban manusia.

Lokasi kejadian berada di luar kawasan TNGL tepatnya di Gunung Pandan yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kabupaten Gayo Lues. Kondisi vegetasi hutan yang masih alami dengan dominasi pohon-pohon besar merupakan habitat bagi Harimau Sumatera yang masih menguasai hutan itu.  Kata orang harimau adalah Raja Hutan bukan sesuatu omong kosong saja, Kejadian tersebut membuktikan eksistensi harimau sumatera memang harus diakui dalam menjaga kelompok dan habitatnya.

harimau sumatera camera trap

Kejadian itu kembali mengingatkan kita akan definisi dari ekosistem, dimana dalam ekosistem terjadi hubungan yang saling terkait antar faktor biotik dan abiotik dan apabila hubungan itu terganggu maka secara alami akan menyeimbangkan sendiri. Hutan hujan tropis adalah sebuah ekosistem yang paling kompleks yang ada di darat/terestrial karena di dalam hutan terdapat berbagai jenis flora dan fauna dan hutan menjamin seluruh yang tinggal di dalamnya dapat hidup dengan kecukupan.

Deforestasi
Secara terminologi Deforestasi berarti Pengawahutanan yaitu menghilangkan tumbuhan atau pohon yang berada di atas permukaan tanah sehingga fungsi hutan dapat dialihkan.  Laju deforestasi di Indonesia pada kurun waktu 1996 hingga 2003 adalah 3,5 juta hektar rata-rata per tahun.  Pada tahun 2013 sudah bisa ditekan hingga tinggal 450 ribu hektar saja.  Laju deforestasi sudah sangat berkurang hingga tinggal 15 %, namun demikian segala upaya harus dilakukan untuk terus menekan hingga mendekati titik nol.

Menurut pengumuman resmi Kementerian Kehutanan menurunnya laju deforestasi di Indonesia setelah diterapkannya Moratorium Hutan Nomor 10 tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut .  Kebijakan pemerintah ini dinilai efektif dalam mempertahankan kondisi hutan Indonesia dari ancaman alih fungsi hutan.    Namun apabila dianalisa lebih mendalam tentang data deforestasi tersebut di atas ternyata belum memasukkan data konversi hutan alam menjadi HTI, sepertinya data mengenai deforestasi yang telah disampaikan perlu dikaji ulang apakah tanaman di HTI bisa menjamin fungsi hutan sebagaiman hutan alam.

Degradasi
Pengertian degradasi hutan adalah suatu penurunan kerapatan pohon dan atau meningkatnya kerusakan hutan yang menyebabkan hilangnya hasil-hasil hutan dan berbagai layanan ekologi yang berasal dari hutan.  Penyebab degradasi hutan adalah pembalakan liar, kebakaran hutan  dan perubahan peruntukan kawasan hutan.   Pada tahun 2013 degradasi hutan konservasi di Indonesia mencapai 4,69 juta hektar.  Kondisi ini sangat memprihatinkan karena masyarakat aseli sekitar hutan semakin sulit mendapatkan peluang dalam mendapatkan manfaat dari hutan sebagai sumber kehidupan.

Kearifan lokal masyarakat sekitar hutan yang selama ini secara turun temurun diwariskan oleh leluhur kita seakan tidak lagi sanggup membendung pengaruh global yang dengan mudah menerobos hingga masyarakat di sekitar kawasan hutan.  Perlaku konsumtif telah mengubah pola tingkah laku generasi saat ini untuk memanfaatkan hutan dengan jalan pintas.  Masyarakat sekitar kawasan hutan tidak bisa dikatakan bodoh tetapi beberapa kasus terjadinya perambahan hutan di kawasan TNGL diduga ada peran oknum yang menjadi provokator dalam perambahan hutan secara masif.  Mereka sebenarnya sudah paham betul apa akibat dari perbuatan mereka namun akal dan pikiran mereka telah dikalahkan oleh nafsu mereka yang ingin terus merambah dan atau memperjual belikan kawasan hutan secara illegal.

Keseimbangan Alam
Alam semesta ini senantiasa bergerak secara dinamis untuk menjaga keseimbangannya.  Konsepsi keseimbangan alam sudah hampir diketahui oleh seluruh umat manusia dari masa awal peradaban hingga saat ini.  Konsep keseimbangan alam seakan hanya dijadikan semacam kurikulum dalam kehidupan manusia namun dalam tingkah laku manusia sebagai pemegang peranan di muka bumi banyak sekali yang bertentangan dengan konsep tersebut.  Sebagian dari kita baru menyadari akan pentingnya keseimbangan alam biasanya setelah terjadi bencana.

Alam atau alami atau alamiah atau nature atau natural selalu tergambar dalam pikiran kita adalah sesuatu yang bernuansa hutan, laut, padang pasir, angkasa luas dan segala sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan teknologi atau bernuansa hijau atau green.  Mekanisme alam seolah-olah tidak ada campur tangan  manusia, padahal manusia adalah bagian dari alam.  Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diusahakan manusia adalah juga bagian dari alam sehingga aksi yang disebabkan oleh penggunaannya akan menimbulkan reaksi oleh alam yang berjalan secara alami.

Hutan adalah bagian dari alam yang sebagian besar menutupi permukaan daratan bumi, hutan sebagai suatu ekosistem yang menciptakan keseimbangan alam adalah sesuatu yang mudah kita bayangkan dan mudah kita lihat dan rasakan keberadaanya.   Keberadaan yang umunya kita kenal sebagai paru-paru dunia akan senantiasa menyediakan oksigen dan menjaga suhu bumi agar stabil.  Terjadinya deforestasi dan degradasi hutan akan mengakibatkan kenaikan suhu permukaan bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim.

Pemanfaatan hutan dengan berbagai metode senantiasa menggunakan alat-alat mekanis baik itu yang sederhana maupun yang canggih buatan manusia sebagai akibat dari perubahan kondisi hutan itu maka bumi akan bereaksi secara alami untuk menyeimbangkan dirinya.  Terjadinya keseimbangan akibat perubahan alam itu belum tentu bisa diikuti oleh manusia tertutama dari sisi kekuatan dan ketahanan tubuh manusia demikian pula dengan makhluk hidup yang lain.  Dalam proses penyeimbangan alam itulah terkadang manusia tidak kuat dan itulah yang diistilahkan sebagai bencana alam yang menyebabkan korban.

Keberadaan flora dan fauna yang berada di hutan sebagai komponen penyusun hutan juga senantiasa dinamis dalam menjaga keseimbangan habitatnya.  Hutan sebagai habitat bagi berbagai flora dan fauna telah menciptakan mekanisme alami terbaiknya, campur tangan manusia yang tidak bijak akan menyebabkan kerugian bagi manusia sendiri.  Contoh sederhana adalah seperti kejadian yang diungkapkan di awal tulisan ini.

Hutan memang mempunyai cara mengamankan dirinya sendiri, apabila mereka dirusak maka hutan akan tetap menuntut balas dengan mekanisme alam dan kerugian besar tetap berada di pihak manusia.  Kejadian perambahan hutan di kawasan TNGL yang telah mengubah fungsi hutan menjadi lahan perkebunan dan pertanian secara serakah akan berakibat datangnya bencana besar yang akan datang dalam waktu cepat atau lambat.  Setelah bencana itu terjadi mereka baru tersadar akan arti pentingnya TNGL bagi kehidupan mereka dan generasi mendatang.

Penulis : Slamet Indarjo, S.Hut, penyuluh kehutanan BBTNGL, ditulis untuk Buletin Jejak Leuser edisi tahun 2013
Gambar : kamera trap BBTNGL

 

Artikel lainnya