Tangkahan

Tangkahan karena keindahannya terkenal sebagai surga tersembunyi di Leuser. Terletak di Desa Namo Sialang, Batang Serangan Langkat Sumatera Utara dengan luas sekitar 17.000 hektar. Keberadaan Patroli Partisipatif menggunakan gajah, menjadikan Tangkahan sebagai tujuan wisata yang digemari oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Antara tahun 1980 sampai 1990-an, masyarakat di sekitar Tangkahan dulunya giat membalak kayu hutan yang berasal dari Taman Nasional Gunung Leuser. Namun seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat kemudian sadar akan kerusakan dan kesalahan yang telah mereka lakukan. Atas kesepakatan bersama masyarakat di Tangkahan kemudian memutuskan untuk menghentikan pembalakan kayu ilegal dari dalam kawasan Leuser dan mengembangkan kawasan ekowisata Tangkahan. Pada tahun 2001, masyarakat Tangkahan berkumpul dan menyepakati peraturan desa yang melarang segala aktivitas ilegal dan mendirikan Lembaga Pariwisata Tangkahan.

Mencapai lokasi Tangkahan dapat ditempuh dari Kota Medan sekitar 3 jam perjalanan melewati Kota Binjai dan Tanjung Pura. Kondisi jalan baik dan sudah teraspal. Jalur lain melalui jalan memotong Kota Stabat-Simpang Sidodadi dengan waktu tempuh lebih cepat satu jam. Namun jalan alternative tersebut tidak cukup baik dan belum semuannya teraspal, terutama di kawasan perkebunan.

Fasilitas di Tangkahan meliputi sarana penginapan Bamboo River Lodge, memiliki enam kamar double dilengkapi dengan kamar mandi. Tarif berkisar antara Rp. 75.000 sampai dengan Rp. 100.000 per malam. Adapula penginapan lain dengan harga mulai dari Rp. 15.000 sampai dengan Rp. 150.000 per malam. Fasilitas lainnya yang tersedia adalah visitor centre, camping ground, dan warung makan tradisional milik masyarakat setempat. Para pemuda lokal banyak yang bekerja sebagai pemandu di lokasi wisata Tangkahan. Mereka tergabung dalam suatu wadah yang disebut Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT).