• Depan
  • › Kategori: Artikel
  • › Keberadaan Gajah Di Hutan Leuser

Keberadaan Gajah di Hutan Leuser

Gajah yang terdapat di Kawasan Ekosistem Leuser adalah Sub spesies dari Gajah Asia yang memiliki habitat alami di hutan-hutan Pulau Sumatera. Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumateranus) merupakan jenis gajah terkecil diantara supspesies gajah lainnya yang terdapat di Asia. Dahulu, jenis Gajah ini ditemukan secara merata di seluruh Sumatera akan tetapi dalam beberapa dekade terakhir daerah persebarannya telah berkurang secara drastis dan sekarang hanya terdapat secara menyebar di beberapa tempat. Bahkan di Taman Nasional Gunung Leuser tidak terdapat kawanan gajah liar yang benar-benar terlindungi populasi dan habitatnya, perlahan habitat gajah di TNGL mulai hilang dan menyebabkan daya jelajahnya berkurang. Mengapa masalah daya jelajah (home range) yang memadai sangat penting bagi gajah ?

Persyaratan Habitat

Jawaban utama dari pertanyaan diatas terletak pada tipe habitat yang disukai Gajah.            Hutan hujan dataran rendah (Lowland rainforest) merupakan habitat yang sangat sesuai untuk Gajah Sumatera, hutan ini menyediakan pakan yang berlimpah, banyak terdapat sungai dan memiliki topografi yang ringan. Gajah biasanya menghindari daerah yang curam karena susah untuk memanjat, biasanya gajah membuat jalan-jalan yang dilaluinya di daerah perbukitan dengan mengikuti kontur bukit yang mudah dan tampak seperti jalan yang dirintis manusia.

Hutan Dataran rendah tidak hanya menyajikan topografi yang disukai gajah, akan tetapi juga merupakan habitat yang sangat baik bagi pertumbuhan pohon utama sumber makanan Gajah. Biasanya makanan gajah tumbuh secara optimal di bawah ketinggian 1000 mdpl. Bambu, rumput liar, beragam pisang, beberapa jenis liana, beberapa kulit pohon dan buah-buahan tertentu seperti durian, cempedak dan mangga merupakan makanan utama gajah liar. Tanpa ketersediaan makanan tersebut yang melimpah di hutan, maka akan sangat sulit bagi gajah untuk bertahan hidup. Dengan demikian, tanpa hutan hujan dataran rendah (Lowland rainforest) yang cukup, gajah akan punah dalam waktu yang sangat cepat.

Selain beberapa hal yang disebutkan di atas, terdapat juga beberapa prasyarat habitat lain yang penting bagi gajah :

  • Berkubang – Berendam di kubangan lumpur dan mandi di sungai adalah aktivitas penting yang selalu dilakukan gajah guna untuk melembabkan kulit dan mencegah penumpukan ekto-parasit di kulitnya. Gajah sering berkubang di lumpur pada waktu siang atau sore hari sambil mencari minum.
  • Mineral – Gajah juga membutuhkan garam-garam mineral, antara lain : calcium, magnesium, dan kalium. Garam-garam ini diperoleh dengan cara memakan gumpalan tanah yang mengandung garam, menggemburkan tanah tebing yang keras dengan kaki depan dan gadingnya, dan makan pada saat hari hujan atau setelah hujan. Terkadang, Gajah mencari garam dengan menjilat-jilat benda dan apapun yang mengandung garam dengan belalainya. Gajah juga sering melukai bagian tubuhnya agar dapat menyikat darahnya yang mengandung garam.

Bioekologi dan Kehidupan Gajah

Gajah liar yang terdapat di hutan leuser biasanya merupakan kelompok keluarga kecil antara 3-10 individu terdiri dari betina dewasa, gajah betina muda dan satu atau dua anak gajah. Pemimpin kelompok biasanya betina tertua, biasanya selama bertahun-tahun kelompok ini akan menjadi asosiasi yang lebih besar hingga mencapai 30-an ekor dan biasa disebut sebagai kawanan.

Secara berkala jantan soliter (yang sebagian besar waktu hidupnya sendiri dan jauh dari kelompoknya) akan menempuh perjalanan yang jauh mencari kelompoknya untuk kawin dengan betina dalam kelompok. Gajah betina siap bereproduksi setelah berumur 8-10 tahun, sementara gajah jantan setelah berumur 12-15 tahun. Gajah betina mempunyai masa reproduksi 4 tahun sekali, lama kehamilan 19-21 bulan dan hanya melahirkan 1 ekor anak dengan berat badan lebih kurang 90 kg. Seekor anak gajah akan menyusu selama 2 tahun dan hidup dalam pengasuhan selama 3 tahun.

Urusan merawat anak gajah adalah tanggung jawab bersama diantara kelompok gajah. Biasanya yang merawat anak gajah adalah induk betina dan kakak ataupun bibinya. Gajah betina yang sudah muda akan tetap tinggal bersama kelompoknya dan gajah jantan apabila sudah bisa mandiri akan di usir dari kelompoknya untuk hidup secara soliter. Jantan yang telah dewasa untuk mendekati kelompoknya biasanya akan menantang Gajah jantan lainnya agar bisa kawin.

Gajah tidak mempunyai musim kawin yang tetap dan bisa melakukan kawin sepanjang tahun, namun biasanya frekwensinya mencapai puncak bersamaan dengan masa puncak musim hujan di daerah tersebut. Gajah jantan sering berperilaku mengamuk atau kegilaan yang sering disebut musht dengan tanda adanya sekresi kelenjar temporal yang meleleh di pipi, antara mata dan telinga, dengan warna hitam dan berbau merangsang. Perilaku ini terjadi 3-5 bulan sekali selama 1-4 minggu. Perilaku ini sering dihubungkan dengan musim birahi, walaupun belum ada bukti penunjang yang kuat.

Secara alami gajah melakukan penjelajahan dengan berkelompok mengikuti jalur tertentu yang tetap dalam satu tahun penjelajahan. Jarak jelajah gajah bisa mencapai 7 km dalam satu malam, bahkan pada musim kering atau musim buah-buahan di hutan mampu mencapai 15 km per hari. Kecepatan gajah berjalan dan berlari di hutan (untuk jarak pendek) dan di rawa melebihi kecepatan manusia di medan yang sama. Gajah juga mampu berenang menyeberangi sungai yang dalam dengan menggunakan belalainya sebagai “snorkel” atau pipa pernapasan.

Selama menjelajah, kawanan gajah melakukan komunikasi untuk menjaga keutuhan kelompoknya.Gajah berkomunikasi dengan menggunakan soft sound yang dihasilkan dari getaran pangkal belalainya. Dewasa ini ditemukan bahwa gajah juga berkomunikasi melalui suara subsonik yang bisa mencapai jarak sekitar 5 km. Penemuan ini telah memecahkan misteri koordinasi pada kawanan gajah yang sedang mencari makanan dalam jarak jauh dan saling tidak melihat satu sama lain. Di daerah Bengkung yang berbatasan dengan Taman Nasional selalu bisa ditemukan migrasi gajah secara sangat teratur sampai tahun 1986. Akan tetapi, ketika aktivitas ilegal logging dimulai migrasi ini sudah sangat sulit ditemukan.

Gajah memiliki beberapa musuh alami selain manusia dan harimau (harimau biasanya memangsa anak gajah), faktor pembatas untuk umur panjang gajah adalah penyakit dan kerontokan pada gigi gajah. Apabila gigi Gajah telah tanggal maka gajah akan sulit untuk makan sehingga akhirnya akan cepat sakit dan mati. Gajah akan mampu berusia sampai 70 Tahun.

Ancaman Terhadap Populasi Gajah di Kawasan Ekosistem Leuser

Perburuan gajah bukanlah masalah yang paling utama dalam pengelolaan gajah di Kawasan Ekosistem Leuser, meskipun terkadang terkena perangkap yang dipasang untuk satwa liar lain seperti perangkap badak. Ada dua ancaman utama terhadap gajah di Leuser, yang pertama adalah gajah di tangkap atau di bunuh karena dianggap menggangu tanaman pertanian masyarakat yang berkebun di dekat ataupun dibunuh para perambah yang berkebun di dalam Taman Nasional. Ancaman yang kedua adalah terjadi kerusakan habitat pada daerah-daerah yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser yang biasanya dikonversi menjadi lahan perkebunan. Ancaman terakhir nampaknya merupakan permasalahan paling utama yang harus ditangani apabila ingin mempertahankan kelestarian gajah di KEL.

Populasi gajah di Sumatera bagian utara dan Aceh sampai saat ini masih menjadi perdebatan, menurut Santiapillai (1987) Gajah yang berada pada wilayah Aceh Timur – Aceh Utara diperkiraan memiliki populasi 300-400 ekor. Populasi ini merupakan populasi terbesar dari 4 titik populasi yang tersebar disekitar Aceh. Tiga populasi lainnya yaitu di sekitar Aceh bagian barat (200-300) ekor, Singkil dan Taman Nasional Gunung Leuser. Dua populasi terakhir merupakan populasi kecil (50-100) ekor. Menurut laporan Griffiths (1993), populasi gajah yang ada di kawasan ekosistem leuser diperkirakan mencapai 410-545 ekor.

Laporan terakhir dari Brett (1999) yang didasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Griffiths (1984-1995), Nelson (1993), Jabbar (1995), Bristol University UK & IPB (1998) dan van Schaik (1998) perkiraan populasi Gajah Sumatera di Ekosistem Leuser seperti yang tercantum pada tabel 1 :

Tabel. 1. Gajah

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk melindungi populasi gajah hal utama yang harus dilakukan adalah mempertahankan habitat gajah dan melindungi seluruh wilayah jelajah (Home range) Gajah. Tantangan terbesarnya adalah sebagian besar titik populasi gajah ternyata berada di luar Taman Nasional Gunung Leuser, yaitu menyebar di kawasan hutan lindung dan hutan produksi di Aceh. Mengingat Home Range Gajah sangat luas, maka sering terjadi populasi Gajah keluar dari habitatnya di hutan ke daerah sekitarnya yang berupa perkebunan, lahan pertanian maupun pemukiman. Hal inilah yang menimbulkan konflik antara Gajah dan manusia.

Penulis : Zulfan,S.Hut, penyuluh BBTNGL
ditulis untuk Buletin Jejak Leuser edisi tahun 2013

 

Artikel lainnya