• Depan
  • › Kategori: Berita
  • › Kematian Jenifer Dalam Gendongan Sang Induk

Kematian Jenifer dalam Gendongan sang Induk

(Bukitlawang, Juli 2018) Seekor anak Orangutan Sumatera ditemukan mati dalam gendongan induknya (30/6). Jenifer (jantan), anak orangutan yang lahir pada tanggal 7 Januari 2015 silam tak lagi bernyawa namun tetap dibawa sang induk, Jeki.

Informasi kematian Jenifer diterima petugas SPTN wilayah VI Bahorok pada pukul 15.30 wib. Keesokan harinya petugas mencoba mengambil Jeniper namun tak membuahkan hasil karena sang anak orangutan yang berbobot sekitar 6kg ini dibawa Jeki ke atas pohon.

Tim SPTN V yaitu Edizon Simanjuntak, Wisnu Irawan, Bram Umbari dan Roy Iwan Perdana Lubis bersama 2 (dua) orang Tim HOCRU YOSL-OIC kembali ke lokasi untuk mengevakuasi Jenifer (1/7) .

IMG_20180711_153324_299Pukul 17.00 WIB, tim berhasil mengambil Jenifer dari Jeki dan membawanya langsung ke kantor SPTN V di Bukit Lawang. Proses nekropsi dilakukan oleh drh. Ricko Laino Jaya (YOSL-OIC) dan drh. Yenni Saraswati (YEL). Sampel organ paru dan usus diambil untuk diteliti lebih lanjut perihal penyebab kematian Jenifer. Petugas kemudian mengubur Jenifer di sekitar Visitor Center Bukit Lawang pada pukul 18.45 WIB.

2018_0711_11235500Medan (11/7) dalam konferensi pers yang digelar Balai Besar TNGL, drh. Yenny menyebutkan bahwa penyebab kematian Jenifer tidak dapat dipastikan karena kondisi organ yang telah mengalami pembusukan.  “Yang jelas, organ bagian lambung dan usus kosong. Hal ini terjadi bila lebih dari dua hari tidak mendapat asupan”, ujarnya.

Pada awalnya, Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera (PPOS) Bukit Lawang merupakan Pusat Rehabilitasi Orangutan . Satwa yang masuk kesini merupakan hasil sitaan, penyerahan ataupun konflik dengan masyakarat, kemudian direhabilitasi untuk dilepasliarkan setelah dinilai cukup layak dari segi kesehatan dan perilaku.

Upaya konservasi orangutan yang telah dilakukan dan masih berjalan di Bukit Lawang berupa : 1. Pengamanan; melalui monitoring keberadaan orang-utan yang sudah teridentifikasi secara rutin; 2. Menghindarkan kontak langsung dan pemberian pakan oleh pengunjung terhadap orangutan guna menghindari penularan jenis penyakit; 3. Pencegahan potensi konflik dengan pengkayaan pakan orangutan di dalam kawasan taman nasional dan penanganan terhadap upaya orang-utan memasuki areal milik masyarakat melalui penghalauan ataupun dengan tindakan pembiusan; 4. Peningkatan kegiatan patroli guna antisipasi dan penindakan perburuan orangutan: 5.sosialisasi peraturan perundangan.

Upaya tersebut tentu saja memerlukan dukungan baik dari mitra, pemerintah daerah, dan masyarakat luas.

[teks&foto©bbtngl|110718]

Berita lainnya