• Depan
  • › Kategori: Berita
  • › Nostalgia Dirjen Ksdae Di Leuser : Dari Restorasi Hingga Berendam Di Sei...

Nostalgia Dirjen KSDAE di Leuser : Dari Restorasi hingga Berendam di Sei Batang Serangan

Diskusi dengan Keleng UkurMinggu 17 September 2017, hari ke 4 kunjungan kerja Dirjen KSDAE di Taman Nasional Gunung Leuser mengunjungi Restorasi Ekosistem Cinta Raja dan Tangkahan. Kedua tempat tersebut merupakan tempat spesial bagi Wiratno. Di Restorasi Cinta Raja, beliau ingin mengunjungi pohon Kabu-Kabu (Bombax malabaricum) yang ditanamnya 11 Februari 2011 sedangkan Tangkahan merupakan lokasi Wisata Alam yang dirintisnya pada saat menjabat sebagai Kepala Balai TNGL.

Pondok Restorasi Cinta Raja 1Balai Besar TNGL didukung UNESCO pada tahun 2009 melakukan Restorasi Ekosistem yang pertama. Terletak di Cinta Raja, dengan perawatan yang intensif dan terjaga 24 jam, 27 Hektar area restorasi berimbas dengan terjaganya ratusan hektar kawasan di sekitarnya. Keberhasilan Restorasi Ekosistem Cinta Raja 1 telah direplikasi ke beberapa lokasi lainnya di TNGL, salah satunya adalah lokasi Cinta Raja 3 yang baru di mulai di tahun 2017 ini. Dirjen menyampaikan apresasi atas kinerja Tim Balai Besar TNGL bersama mitra kerja YOSL–OIC atas usahanya dalam mengembalikan fungsi Kawasan TNGL seluas 75 Ha di lokasi Restorasi Ekosistem Cinta Raja 3.

Kabu-kabuDi Tangkahan, Wiratno sangat terkesan dengan perkembangannya selama 10 tahun ditinggalkan. Tidak terbayang olehnya ternyata kemajuan Wisata Alam di Tangkahan telah melebihi dari ekspetasinya. Sejalan dengan Rudkita Sembiring, salah satu tokoh masyarakat yang terlibat dalam proses berdirinya Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT), “Saya mengira bahwa anak sayalah nanti yang bakal menikmati keberhasilan Tangkahan, tapi ternyata Sayapun sudah bisa menikmatinya sekarang”. Direktur Kawasan Konservasi, Suyatno Sukandar yang baru pertama kali ke Tangkahan juga terkesan dengan keterlibatan masyarakat dalam menjaga Kawasan melalui kegiatan Wisata Alam. Sedangkan Kepala Balai Besar Kerinci Seblat, Arif Tongkage berpendapat bahwa Tangkahan ini merupakan contoh yang sangat baik dari pengelolaan Kawasan bersama masyarakat yang harus dikembangkan ke tempat-tempat yang lain.

CRUDari dialog dengan Raniyun, yang lebih akrab disapa Wak Yun, salah satu tokoh masyarakat, bahwa Tangkahan saat ini masih sangat tergantung dengan keberadaan 9 gajah jinak. Tetapi sangat disayangkan bahwa 3 dari 6 anak gajah yang lahir di Tangkahan mati di bawah usia 2 tahun. Menurut keterangan Drh. Muhammad Wahyu (Vesswic) dan Wahdi Azmi (CRU) Fenomena kematian gajah ternyata terjadi di semua belahan dunia. Elephant endotheliotropic herpes virus (EEHV) adalah penyebab utamanya yang saat belum ditemukan obat ataupun vaksinnya. Untuk itu Vesswic dan CRU meminta Dirjen KSDAE untuk meningkatkan riset-riset tentang penyakit gajah tersebut.

mandiAcara ditutup dimana tak ada lagi pembatas jabatan antara Dirjen, Direktur, Kepala Balai, staff, mitra ataupun masyarakat, semua mandi dan bercanda bersama di dinginnya sungai Batang Serangan.

[teks&foto©bbtngl| 19092017]

Berita lainnya