• Depan
  • › Konflik Satwa Liar

Konflik Satwa Liar

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 48/Menhut-II/2008 Konflik antara manusia dan satwa liar terjadi akibat sejumlah interaksi negatif baik langsung maupun tidak langsung antara manusia dan satwa liar. Pada kondisi tertentu konflik tersebut dapat merugikan semua pihak yang berkonflik. Konflik yang terjadi cenderung menimbulkan sikap negatif manusia terhadap satwa liar, yaitu berkurangnya apresiasi manusia terhadap satwa liar serta mengakibatkan efek-efek detrimental terhadap upaya konservasi. Kerugian yang umum terjadi akibat konflik diantaranya seperti rusaknya tanaman pertanian dan atau perkebunan serta pemangsaan ternak oleh satwa liar, atau bahkan menimbulkan korban jiwa manusia. Disisi lain tidak jarang satwa liar yang berkonflik mengalami kematian akibat berbagai tindakan penanggulangan konflik yang dilakukan. Satwa liar yang sering berkonflik dengan manusia antara lain gajah, harimau, orang utan, buaya, dan lainnya.

Konflik terjadi sebagai bentuk akibat beberapa faktor, peralihan lahan hutan menjadi kebun dan pemukiman maupun eksploitasi berlebihan terhadap sumber pakan satwa liar di alam. Hilangnya lahan hutan atau beralihnya lahan hutan mengganggu wilayah jelajah satwa liar, dikarenakan setiap satwa liar memiliki wilayah jelajahnya dari semenjak hutan masih utuh dan belum mengalami degradasi. Tidak dapat dipungkiri kebutuhan lahan untuk pemukiman maupun lahan garapan pertanian – perkebunan membuat manusia mengeksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya alam yang berada dalam kawasan hutan sehingga memaksa satwa liar mencari sumber makanan di luar kawasan hutan.