• Depan
  • › Kategori: Berita
  • › Press Release Kongres Petani Hutan Konservasi

Press Release Kongres Petani Hutan Konservasi

IMG-20180308-WA0022PRESS RELEASE
PENDEKATAN BARU DALAM KONSERVASI TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER DI BESITANG

Langkat, 22 Februari 2018. Kongres Petani Hutan Konservasi desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang digelar di resort Sekoci, desa PIR ADB, kecamatan Besitang. Kongres ini diinisiasi oleh masyarakat dari 12 kelompok tani hutan konservasi yang didukung oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Sumatera, Pemerintah Daerah Langkat, GEF Tiger, Yayasan Ekosistem Lestari, Yayasan Orangutan Sumatera Lestari, Wildlife Conservation Society, Yayasan Scorpion Indonesia, dan The Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation.

IMG-20180308-WA0024Acara yang diikuti oleh sekitar 1.000 orang ini dihadiri oleh Wiratno selaku Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, San Afri Awang selaku Penasehat Senior menteri LHK dan Hanni Adiati selaku Staff KhususMenteri LHK, Abdul Karim Asisten I Pemerintah Kabupaten Langkat, Ralen selaku Ketua DPRD Langkat, LETKOL (Inf) Deni Eka Gustiana selaku Komandan KODIM 0203 Langkat, KOMPOL Hendrawan selaku Waka POLRES Langkat, Misran selaku Kepala Balai Besar, Sultan Azwar Abdul Djalil Rahmadsyah Al Hajj dari kerapatan adat Kesultanan Negeri Langkat dan berbagai pihak diantaranya adalah, pejabat di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (dari direktorat teknis dan UPT-UPT di wilayah Sumatera Utara), kelompok tani hutan konservasi TNGL, perwakilan masyarakat desa-desa sekitar TNGL, perwakilan eks pengungsi konflik Aceh, akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat, para mitra Balai Besar TNGL dan media massa.

Hasan Sitepu selaku ketua pelaksana menyampaikan bahwa masyarakat sebagai subyek dalam pengelolaan hutan siap melakukan kemitraan dengan prinsip-prinsip konservasi yaitu melindungi, meletarikan dan memanfaatkan.
Kami masyarakat PIR ADB siap menjadi yang terdepan dalam pemulihan ekosistem dan berkomitmen untuk menjaga Taman Nasional Gunung Leuser, tegasnya dalam penutup sambutannya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Ilham Bakti, kepala desa PIR ADB, harapannya perekonomian di desa maupun di kabupaten dapat semakin meningkat.

IMG-20180308-WA0026Sultan Langkat dalam sambutannya menyampaikan bahwa konflik di Besitang sudah hampir 20 tahun seperti pertikaian antara Arab dan Israel, namun konflik di Besitang ini bisa diselesaikan. Masyarakat adat mendukung program pemerintah dan pemerintah harus melindungi masyarakat yang telah ada.

Memilih memiliki apa menikmati? Tanya Sultan kepada peserta kongres. Menikmati, jawab peserta kongres dengan diiringi tepuk tangan.
Saya nggak pernah dengar istilah geran datuk tapi kemarin itu keluar istilah geran datuk ini suatu pembodohan yang luar biasa terhadap masyarakat, ungkapnya yang paling penting masyarakat itu merasa dijamin mempunyai pendapatan dari sekitar hutan, lanjutnya.
Sultan kembali menceritakan tentang sejarah kawasan yang saat ini bernama Taman Nasional Gunung Leuser. Kerapatan Adat Langkat sejak tahun 1938 telah bersepakat dengan pemerintah Belanda bahwa kawasan yang menjadi lokasi kongres ini merupakan cagar alam dan seterusnya hingga di tetapkan menjadi kawasan TNGL dan bahkan saat ini UNESCO telah menetapkan sebagai salah satu warisan dunia.

IMG-20180308-WA0030Wiratno dalam sambutannya diawali dengan permohonan maaf kepada masyarakat atas terjadinya konflik di Besitang selama ini. “konflik kehutanan harus berhenti sejak sekarang, tegas Wiratno, kita ingin cara cara yang beradab untuk mengurus hutan sampai 1000 tahun kedepan, lanjutnya.

Selaku Dirjen KSDAE, dia menegaskan bahwa akan berusaha menyelesaikan permasalahan ini dengan rampung. Merubah cara mengurus hutan kita, penyelesaian masalah dengan duduk bersama. Pada akhir sambutannya Wiratno mengajak seluruh perserta dari kelompok-kelompok untuk sujud memohon maaf pada alam dan Tuhan.

Menurutnya ada 6.000 hektar kawasan hutan yang rusak dan terambah oleh petani dari 30.000 hektar kawasan hutan TNGL di Langkat, Aceh Tenggara dan Gayo Lues yang ada. Selama 20 tahun lebih terjadi konflik horizontal.

San Afri Awang menyampaikan bahwa dalam penyelesaian masalah jangan mengembangkan konflik tetapi kembangkan persaudaraan. Melibatkan pemerintah dan berbagai pihak dari tokoh agama, tokoh adat, masyarakat, LSM, perguruan tinggi dan sekolah-sekolah.

Masyarakat mengharapkan pemerintah dapat membantu berupa bibit tanaman petai, jengkol, durian cempedak dan tanaman yang bermanfaat untuk menambah perekonomian. Masalah pendidikan anak-anak serta sarana jalan dan penerangan listrik juga menjadi harapan agar diperhatikan pemerintah.

IMG-20180308-WA0025Penghujung acara dilakukan pelepasan burung sebagai simbol perdamaian, peyerahan bibit secara simbolis, penandatanganan kerjasama antara Balai Besar TNGL dengan Pemerintah Daerah Langkat dan penanaman pohon di lokasi kongres.

Setelah acara di resort Sekoci, Wiratno dan rombongan menuju ke Barak Induk desa Harapan Maju kecamatan Sei Lepan, melakukan dialog dengan masyarakat eks pengungsi konflik Aceh di ruang kelas Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Asy Syakirin.

IMG-20180308-WA0027Hasil dialog tersebut beberapa hal penting yang perlu ditindaklanjuti adalah terkait alas hak untuk fasilitas umum dan fasilitas sosial di Barak Induk akan dicoba dengan program TORA, meminta pihak desa untuk mengurus status keabsahan lokasi Barak Induk, Listrik merupakan fasilitas umum, ada alternatif membangun kabel bawah tanah atau dengan solar cell, dan harus dilakukan inventarisasi kepemilikan lahan.

Ikuti aja program ini, kita tidak akan menyengsarakan masyarakat, San Afri Awang menyakinkan masyarakat di Barak Induk.

Untuk Informasi lebih lanjut dapat menghubungi: Sudiro – Kassubag Evaluasi, Data, Pelaporan dan Humas (081263331400)

[teks&foto ©bbtngl|2018|slmt]

Berita lainnya