• Depan
  • › Kategori: Berita
  • › Rawan Konflik, Bptn Gunung Leuser Wilayah I Tapaktuan Gelar Pelatihan...

Rawan Konflik, BPTN Gunung Leuser Wilayah I Tapaktuan Gelar Pelatihan Mitigasi Konflik Satwa Liar – Manusia

Diskusi Peserta  (Aceh Selatan, September 2017) Sekitar 40 orang warga Desa Indra Damai, Kec. Kluet Selatan, Kab. Aceh Selatan mengikuti pelatihan Mitigasi Konflik Satwa Liar (Harimau Sumatera/ Panthera tigris sumatrae). Acara yang digelar BPTN Gunung Leuser Wilayah I Tapaktuan ini berlokasi di Aula Kantor Desa pada Rabu (13/9/17).Menurut Kepala Desa Indra Damai_Samsuar_ peserta yang hadir merupakan tokoh adat dan hukum yang masing – masing memiliki fungsi penting dalam hal pengambilan kebijakan di desanya. Mereka adalah Tuha Peut, Tuha Lapan, Pawang Huteun, Keujrun Blang, Peutua Lhouk dan Pelaku Budidaya Tanaman Pertanian serta Perkebunan.

“Pelatihan mitigasi konflik satwa liar terhadap masyarakat di wilayah buffer zone TNGL ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap dunia konservasi, terutama bagi masyarakat desa rawan konflik satwa liar dengan manusia.”, ujar Pemaparanpejabat fungsional PEH BPTN Wilayah I Tapaktuan, Arif Saifudin, S.Si.Menurut Arif, penanganan konflik satwa liar dan manusia tidak ada solusi tunggal. Perlu dipikirkan suatu tindakan berupa win – win solution dalam penanganan konflik yang terjadi di landscape Leuser dengan melibatkan multipihak (statekholder).

Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tapaktuan telah menggelar kegiatan pelatihan mitigasi konflik satwa liar di 6 desa yaitu Desa Jambo Papeun dan Desa Alue Baro (Kec. Meukek), Desa Ujung Tanah (Kec. Samadua), Desa Jamboe Apha (Kec. Tapaktuan), Desa Krueng Batu (Kec. Kluet Utara) dan Desa Lawe Cimanok (Kec. Kluet Timur). Sedangkan Desa Indra Damai merupakan desa lanjutan yang diinisiasi melalui program (KfW BCCPGLE – BBTNGL) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Foto BersamaTenaga Teknis Perlindungan Keanekaragaman Hayati BPTN Wilayah I Tapaktuan, Efa Wahyuni berharap masyarakat di daerah dampingan TNGL dapat memahami arti penting menjaga kelestarian hutan. “Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat mampu mensiasati serta mencegah konflik antara manusia dan satwa liar yang dilindungi. Kata kuncinya yaitu manusia dan satwa liar sama pentingnya di alam”, imbuhnya.

{teks & foto ©bbtngl | 14092017|Efa Wahyuni, YA]

Berita lainnya