• Depan
  • › Kategori: Berita
  • › Si Manis Kucing Hutan Sumatera Pun Dikembalikan Ke Tn Gunung Leuser

Si manis Kucing Hutan Sumatera pun dikembalikan ke TN Gunung Leuser

Petugas menyita Kucing Hutan Sumatera(Aceh Selatan, April 2018) Petugas Taman Nasional Gunung Leuser Wilayah I Tapaktuan menyita Kucing Hutan Sumatera (Felis bengalensis sumatrana) dari tangan beberapa orang pemuda di jalur lintas Tapaktuan – Medan, Desa Fajar Harapan, Kec. Pasie Raja, Aceh Selatan pada Sabtu (7/4). Kejadian berlangsung pada pukul 14.15 WIB.  Hewan yang dilindungi itu kemudian digiring ke Kantor BPTN Wilayah I Tapaktuan untuk diserahkan kepada Kepala Resort Konservasi Wilayah 15 Tapaktuan, Aceh Selatan.

Serah Terima Kucing Hutan Sumatera ke BKSDA AcehKucing Hutan yang disita berjenis kelamin jantan dan diperkirakan berumur 2 tahun. Setelah diserahterimakan dengan petugas BKSDA Aceh, satwa menggemaskan ini dilepasliarkan secara bersama di kawasan hutan konservasi TNGL yaitu di dalam blok hutan rawa Rantau Sialang. Pelepasliaran dilakukan pada pukul, 16. 25 WIB melibatkan Balai Besar TNGL, BKSDA Aceh dan lembaga mitra WCS – IP.

PelepasliaranKucing Hutan Ke kawasan TNGLKucing Hutan (Felis bengalensis) termasuk satwa liar mamalia yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa: Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) (Pasal 40 ayat (2)).

Kucing Hutan SumateraBerukuran sama seperti kucing rumahan, Kucing Hutan memiliki bulu yang halus dan pendek. Warnanya khas, yaitu kuning kecoklatan dengan belang-belang hitam di bagian kepala sampai tengkuk Selebihnya bertotol-totol hitam. Pola warna ini sama sekali tidak terdapat pada kucing-kucing liar lainnya. Bagian bawah perut putih dengan totol-totol coklat tua. Ekornya panjang, lebih dari setengah panjang badannya.

Harapannya, masyarakat tidak lagi menangkap satwa yang dilindungi undang-undang termasuk Kucing Hutan Sumatera dengan ciri-ciri sebagaimana deskripsi diatas.

[teks&foto ©bbtngl |042018] 

Berita lainnya