• Depan
  • › Nilai Eksistensi

Nilai Eksistensi

1. Nilai Eksistensi

Taman Nasional Gunung Leuser menyandang 2 status yang berskala global yaitu sebagai Cagar Biosfer pada tahun 1981 dan sebagai Warisan Dunia pada tahun 2004. Kedua status tersebut ditetapkan oleh UNESCO dan World Heritage Committee atas usulan Pemerintah Indonesia setelah melalui rangkaian proses seleksi yang ketat. Disamping itu terdapat nilai eksistensi lain yang menjadi potensi dari TNGL yang dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Cagar Biosfer

Cagar Biosfer didefinisikan sebagai kawasan ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program Man and the Biosphere UNESCO (MAB-UNESCO) untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam. Cagar Biosfer melayani perpaduan tiga fungsi yaitu (1) kontribusi konservasi lansekap, ekosistem, spesies, dan plasma nutfah, (2) menyuburkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya, dan (3) mendukung logistik untuk penelitian, pemantauan, pendidikan, dan pelatihan yang terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global. Sebagai hasil KTT Bumi 1992, berbagai fungsi Cagar Biosfer serta Jaringan Cagar Biosfer Dunia telah didefinisikan dan diuraikan dalam “Strategi Seville dan Kerangka Hukum Jaringan Dunia” (LIPI, 2004).

b. Warisan Dunia (World Heritage)

Konvensi Warisan Dunia (World Heritage Convention) mengenai Perlindungan Warisan Budaya dan Alam diadopsi pada sidang ke-17 Konferensi Umum UNESCO di Paris tanggal 16 November 1972, dan berlaku efektif sejak 17 Desember 1975. Sampai dengan bulan Maret 2005, Konvensi Warisan Dunia telah diratifikasi oleh lebih dari 180 negara, termasuk Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 29 tahun 1989. Hingga tahun 2006, terdapat 830 situs di 138 negara yang telah tercantum di dalam Daftar Warisan Dunia, terdiri dari 644 situs budaya, 162 situs alami dan 24 situs campuran.

Warisan Dunia adalah warisan yang: (1) Terdiri dari Warisan Alam dan Warisan Budaya, (2) Melestarikan warisan yang tidak dapat digantikan dan warisan yang memiliki “Nilai Universal Istimewa”, (3) Perlu melindungi warisan yang tidak dapat dipindahkan, dan (4) Menjadi tanggungjawab kesadaran dan kerjasama kolektif international (UNESCO, 2004).

Sampai saat ini, Indonesia memiliki 9 situs yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia. Candi Borobudur (1991), Candi Prambanan (1991), situs arkeologis Sangiran (1996) yang termasuk dalam Situs Warisan Budaya. Sedangkan Situs Warisan Alam adalah, TN. Ujung Kulon (1991), TN. Komodo (1991), TN. Lorentz (1999) dan TRHS, Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (2004), yaitu hutan hujan tropis Sumatera yang terdiri dari TN. Gunung Leuser, TN. Kerinci Seblat dan TN. Bukit Barisan Selatan. Ketiga kawasan ini ditetapkan pada Sidang ke-28 Komite Warisan Dunia yang berlangsung di Suzhou, Cina, pada tanggal 27 Juni sampai 7 Juli 2004.

Mengingat adanya ancaman yang serius di kawasan The Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS) ini, World Heritage Committee mengirim utusan untuk melakukan Reactive Monitoring Mission. Salah satu hasilnya menyarankan agar pemerintah Indonesia membuat Emergency Action Plan (EAP) untuk mengatasi ancaman dan permasalahan terhadap keutuhan TRHS. Rencana Strategi ini merupakan salah satu bagian dari kerangka penyelesaian masalah sesuai EAP.

c. Laboratorium Alam

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan laboratorium alam yang kaya keanekaragaman hayati sekaligus juga merupakan ekosistem yang rentan. MacKinnon and MacKinnon (1986) menyatakan bahwa Leuser mendapatkan skor tertinggi untuk kontribusi konservasi terhadap kawasan konservasi di seluruh kawasan Indo Malaya. Leuser merupakan habitat sebagian besar fauna, mulai dari mamalia, burung, reptil, ampibia, ikan, dan invertebrata.

Merupakan kawasan dengan daftar burung terpanjang di dunia dengan 380 spesies, dimana 350 diantaranya merupakan spesies yang tinggal di Leuser. Leuser juga rumah bagi 36 dari 50 spesies burung “Sundaland”. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari 205 spesies mamalia besar dan kecil di Sumatera tercatat ada di tempat ini.

Ekosistem Leuser merupakan habitat orang utan Sumatera (Pongo abelii), harimau Sumatera (Panthera tigris), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), owa (Hylobathes lar), kedih (Presbytis thomasii), dan masih banyak yang lainnya. Di samping rumah bagi berbagai fauna kunci, di TN. Leuser kita bisa menemukan lebih dari 4.000 spesies flora. Juga ditemukan 3 jenis dari 15 jenis tumbuhan parasit Rafflessia di Leuser. Demikian pula, Leuser merupakan tempat persinggahan dari banyak jenis tumbuhan obat (Brimacombe & Elliot, 1996).

Sebagai laboratorium alam, TNGL merupakan surga bagi para peneliti (internasional dan nasional). Stasiun Riset Orangutan di Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara misalnya, telah menjadi salah satu Stasiun Riset terbesar dan berpotensi sebagai pangsa pasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

d. Sistem Penyangga Kehidupan (life support system)

Taman Nasional Gunung Leuser menyediakan suplai air bagi 4 (empat) juta masyarakat yang tinggal di Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara. Hampir 9 (sembilan) kabupaten tergantung pada jasa lingkungan TNGL, yaitu berupa ketersediaan air konsumsi, air pengairan, penjaga kesuburan tanah, mengendalikan banjir, dan sebagainya. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dilindungi oleh TNGL dan Ekosistem Leuser sebanyak 5 (lima) DAS di wilayah Provinsi Aceh, yaitu DAS Jambo Aye, DAS Tamiang-Langsa, DAS Singkil, DAS Sikulat-Tripa, dan DAS Baru-Kluet. Sedangkan yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah DAS Besitang, DAS Lepan, dan DAS Wampu Sei Ular.

Studi yang dilakukan oleh Beukering, dkk (2003) mensinyalir bahwa Nilai Ekonomi Total Ekosistem Leuser, termasuk TNGL di dalamnya, dihitung dengan suku bunga 4% selama 30 tahun adalah USD 7.0 milyar (bila terdeforestasi), USD 9.5 milyar (bila dikonservasi), dan USD 9.1 milyar (bila dimanfaatkan secara lestari). Hal ini menunjukkan bahwa peran dan fungsi kawasan hutan di Ekosistem Leuser dan TNGL sangat besar dalam mendukung sistem penyangga kehidupan (life support system) dan keberlanjutan pembangunan (sustainable development) khususnya di daerah hilir.

2. Potensi

a. Wisata Berbasis Ekologis (Ekowisata)

Terdapat 8 lokasi potensial untuk pengembangan ekowisata di kawasan TNGL. Lokasi-lokasi tersebut (Gambar 7) adalah Kruengkila, Kedah, Marpunge, Lawe Gurah, Tangkahan, Rantau Sialang, Danau Laut Bangko, dan Bukit Lawang. Selain ke-8 lokasi tersebut, masih didapati 4 lokasi sebagai Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) yang juga memiliki potensi pengembangan, yaitu: Muara Situlen, Marike, Sei Glugur, dan Sei Lepan.

Beberapa Lokasi Obyek Wisata Potensial di TNGL

Beberapa Lokasi Obyek Wisata Potensial di TNGL

Salah satu obyek wisata yang menjadi primadona adalah Bukit Lawang dengan icon orangutan dan ”tracking in the jungle”. Kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara mengalir ke lokasi tersebut.

Disamping Bukit Lawang, terdapat lokasi lain yang tidak kalah pentingnya yaitu Tangkahan. Tangkahan merupakan potret Bukit Lawang di awal 1970-an. Pengembangan ekowisata Tangkahan merupakan anomali, karena tidak dimulai dengan latar belakang sekedar pengembangan ekowisata. Tetapi juga untuk mengembangkan upaya-upaya perlindungan kawasan taman nasional, sebagai aset ekowisata.

Inisiatif Tangkahan dimulai pada akhir tahun 1999 dengan fokus desa sebagai basis pengamanan kawasan TNGL, sehingga baru pada 22 April 2001 dibentuk Tangkahan Simalem Ranger, dan dilanjutkan dengan dikukuhkannya Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) pada 19 Mei 2001. MoU pertama antara Balai TNGL dengan LPT ditandatangani pada 22 April 2002. Pengembangan ekowisata ditingkatkan lagi setelah Indecon mendampingi proses mulai September 2002. Pola pengamanan TNGL ditingkatkan dengan dibentuknya Conservation Response Unit (CRU) bekerjasama dengan FFI pada Januari 2003. Dengan demikian pengembangan ekowisata merupakan langkah baru dan berbeda dengan latar belakang pengembangan wisata di Bukit Lawang. Setiap turis mancanegara yang pulang dari Tangkahan selalu berpesan ingin melihat Tangkahan seperti kondisi saat ini (komunikasi pribadi dengan Wak Yun, salah seorang pegiat pengembangan ekowisata Tangkahan). Mereka tidak menhendaki mass-tourism terjadi di Tangkahan. Akhirnya para 24 September 2004, inisiatif Tangkahan mendapatkan penghargaan “Inovasi Kepariwisataan Indonesia“ oleh Menbudpar R.I, I Gede Ardika.

Saat ini sedang diujicoba, Safari gajah yang menembus Tangkahan – Bukit Lawang, dengan waktu 4 hari 3 malam. Inisiatif YEL dan FFI ini masih perlu dikaji potensi pengembangannya dan sekaligus dampaknya, khususnya pada jalur-jalur trekking yang dilaluinya. Namun demikian, hal ini merupakan terobosan yang penting untuk memecah kebekuan paket-paket wisata alam yang selama ini sudah dikembangkan di Bukit Lawang dan Tangkahan.

Beberapa lokasi potensial lainnya terdapat di Provinsi Aceh. Pengembangan ekowisata di provinsi ini menjadi peluang pangsa pasar di masa yang akan datang. Misalnya, Sungai Alas dengan event rafting, pendakian puncak-puncak gunungnya seperti di puncak Leuser dan puncak Bendahara, pembukaan kembali Gurah, wisata pantai dan pengamatan penyu di Singgamata, penelusuran Danau Bangko, pengamatan burung di Agusan, trekking Rafflesia di Ketambe, dan lain sebagainya. Pengembangan wisata alam di wilayah Aceh merupakan peluang besar, terlebih dengan memadukan kearifan lokal berbasiskan nilai-nilai budaya dan agama menjadi faktor penentu keberhasilan pengembangan wisata alam di Aceh.