• Depan
  • › Kategori: Berita
  • › Terperosok, Bayi Gajah Ditemukan Telah Menjadi Bangkai

Terperosok, Bayi Gajah Ditemukan telah menjadi Bangkai

bayi gajah mati(Langkat, Oktober 2017) Seekor bayi gajah ditemukan mati di Dusun Sumber Waras Desa Sei Serdang Kecamatan Batang Serangan Kab Langkat (21/10). Lokasi berdekatan dengan batas Taman Nasional Gunung Leuser dengan Pal Batas TN 824. Tim konflik satwa yang merupakan gabungan dari petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Orangutan Information Center (OIC), The Wildlife Conservation Society (WCS), Conservation Response Unit (CRU) Tangkahan menemukan bangkai bayi gajah tersebut terperosok di lubang yang disinyalir bekas tunggul kayu.

Bangkai anak gajah tersebut selanjutnya dikubur keesokan harinya (22/10). Dilihat dari kondisinya, kematian anak gajah diperkirakan 3-4 hari sebelumnya. Si bayi gajah diperkirakan berumur kurang dari 3 bulan dengan panjang ujung belalai hingga pangkal ekor 110 cm.

IMG-20171024-WA0022Kejadian bermula dari laporan Kadus Sumber Waras kepada petugas BBKSDA Sumut, bahwa sekawanan gajah liar merusak 5 bangunan warga milik Legino, Juali, Marno, Paryono, Nenek Dikun, dan merobohkan 9 pohon kelapa, 8 pohon sawit, dan 1 pohon nangka pada hari Selasa malam (17/10/17). Dari laporan tersebut Tim Konflik satwa melakukan pengecekan dan jaga malam di lokasi. Penjagaan ini penting dilakukan mengingat intensitas datangnya kawanan gajah sangat tinggi sambil mengeluarkan suara-suara peringatan. Kawanan gajah ini berjumlah 7-12 ekor, terdiri dari 2 jantan besar, beberapa induk dan anak-anak.

Sabtu siang (21/10/17) tim menemukan bayi gajah mati di batas kawasan. Kawanan gajah masih berada di sekitar bangkai bayi gajah dengan jarak 200 meter. Tim mengurungkan untuk proses pemakaman dan pendokumentasian.

evakuasi bayi gajahTim dengan jumlah berkisar 20 orang bersama warga dusun melanjutkan untuk pengecekan dan pemakaman pada hari Minggu (22/10/17) pukul 14.00 Wib dengan waktu secepat mungkin. Areal sekitarnya masih dijaga oleh kawanan gajah yang berkali kali memberikan peringatan. Bayi gajah terperosok setengah badan dengan kondisi ke empat kaki berada didalam tanah. Hanya bagian punggung dan kepala saja yang tersisa. Tim selanjutnya mengubur di lokasi tersebut dengan menimbun tanah, dan segera meninggalkan lokasi.

Melihat kondisi kawasan, tutupan lahan di areal tersebut sangat baik. Kawanan gajah memang sering meliwati areal tersebut sekitar 3 bulan sekali. Masyarakat pun terbiasa dengan kehadiran gajah. Konflik pun tidak pernah terjadi antara gajah dan masyarakat. Baru kali ini gajah mengamuk dan ternyata menginformasikan adanya kemalangan pada kelompok gajah tersebut.

Dusun Sumber Waras berjumlah 20 Kepala Keluarga dan seluruhnya bekerja di PT. Mutiara sebuah perkebunan kelapa sawit. Jarak anatara dusun tersebut dengan kawasan TNGL sekitar 1 km. Hasil pengecekan tim konflik satwa tidak menemukan tanda-tanda mencurigakan berupa racun, perangkap, maupun hal-hal yang membahayakan. Kondisi sekitar mayat bayi gajah telihat bersih dari rumput atau semak belukar, nampak telah dibersihkan oleh gajah. Tanah pada lubang disekitar terperosoknya bayi gajah nampak telah padat akibat aktivitas upaya menolong bayi gajah. Tim konflik gajah sementara bersepakat bahwa kematian bayi gajah dan bersifat alamiah, hingga ditentukan oleh dokter hewan yang berkompeten untuk menyimpulkan.

[teks & foto ©bbtngl | 241017]

Berita lainnya