Tapaktuan | Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di Gampong Ujung Mangki, Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan pada Selasa (23/1/2024) sore.

Informasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan ini diterima langsung oleh petugas TN. Gunung Leuser berdasarkan laporan dari Geuchik (Kepala Gampong) setempat.

Begitu informasi tersebut diterima, petugas TN. Gunung Leuser beserta tim gabungan lainnya yang terdiri Damkar 05 Bakongan, Polsek Bakongan dan Koramil Bakongan bergegas melakukan respon penanggulangan KARHUTLA pada Rabu (24/1/2024) pagi.

Hasil pengecekan dilapangan, benar ditemukan adanya titik api atau bekas kebakaran hutan dan lahan yang merembet kedalam Kawasan TN. Gunung Leuser.

Untungnya alam bersahabat, api keburu padam di siram air hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Bakongan tersebut.

Berdasarkan keterangan warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa, titik api tersebut berasal dari lahan kosong (areal bukaan baru) milik inisial HB dkk.

Diketahui, HB dkk ini kesehariannya berprofesi sebagai petani asal Gampong setempat. Posisi lahan yang diusahakan beliau yaitu berada di dalam Kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) yang keberadaannya berdampingan langsung dengan Kawasan TN. Gunung Leuser.

Secara administrasi pengelolaan BBTN. Gunung Leuser berada di wilayah Resor Bakongan, SPTN Wilayah II Kluet Utara, BPTN Wilayah I Tapaktuan.

Saat dikonfirmasi oleh pihak media TNGL NEWS, Anggota Resor Bakongan, Jibril., mengatakan bahwa, "Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) ini telah meluluhlantakkan Kawasan TN. Gunung Leuser dengan menyisakan kerusakan sekitar kurang lebih seluas 0,65 Ha dan sisanya 0,52 Ha, merupakan kebun masyarakat". Tambahnya,total kerusakan yang terjadi akibat KARHUTLA tersebut seluas 1,17 Ha.

Atas insiden ini Kepala BPTN Wilayah I Tapaktuan, Fitriana Saragih, M.Si., menghimbau masyarakat perkebunan untuk tidak membuka atau membersihkan areal budidaya (lahan) dengan cara membakar tanpa adanya sekat bakar dan meninggalkannya begitu saja. Hal ini patal jika terus terjadi, dampak buruknya mengancam keutuhan Kawasan hutan konservasi dan bisa dikenakan jeratan hukum tutupnya (EW).

[Tek dan Foto : Efa Wahyuni - Jibril (PPNPN BBTNGL).

Penyunting : Dede Sarip, S.I.Kom (Humas BBTNGL)