Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (Vesswic) menyelenggarakan Pelatihan Teknis SMART Patrol, Survei Okupansi, Camera Trap (Kamera Jebak), Model Spasial Kesesuaian Habitat, dan Implementasi Metode dan Penilaian Kesesuaian Habitat secara faktual di Guest House Cafe D&D Medan dan virtual zoom meeting (28/09/2021) serta praktik lapangan di Resor Tangkahan (29/09/2021).

Pelatihan bertujuan memberikan pembekalan dan praktik langsung berbagai teknik dan metode pengumpulan data hingga analisisnya yaitu, Patroli Berbasis SMART untuk mengidentifikasi tingkat ancaman kehidupan Gajah Sumatera, Survei Okupansi Gajah untuk mengetahui wilayah sebaran dan tingkat hunian Gajah Sumatera, Pemasangan Kamera Jebak untuk mendapatkan estimasi ukuran populasi dan jumlah populasi Gajah Sumatera dan Pemodelan Spasial Keterhubungan Habitat Gajah Sumatera dengan analisis dengan faktor-faktor spasial.

Sebanyak 25 peserta yang berasal dari dari Balai Besar TNGL dan Vesswic dibekali ilmu materi dan praktik oleh para narasumber. Narasumber yang berbagi ilmu di pelatihan ini adalah Samedi, Ph.D, Direktur Program TFCA Sumatera Utara, Prof. Dr. Lilik B. Prasetyo (Institut Pertanian Bogor), Donny Gunaryadi, M.Sc (Forum Konservasi Gajah Indonesia), Dr. Wanda Kuswanda, S.Hut., M.Sc (BP2LHK Aek Nauli), Adhi Nurul Hadi S. Hut, M.Sc (BBTNGL) dan Tarmizi, Leuser Landscape Manager WCS-IP.

Kegiatan pelatihan dibuka oleh drh. Indra Eksploitasia S, M.Si Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Jenderal KSDAE. “Diperlukan adanya pengumpulan data dan informasi untuk dapat dilakukannya upaya penyelamatan dan pemusnahan ancaman populasi gajah agar dapat melestarikan spesies gajah dan mempertahankan keanekaragaman genetik di Taman Nasional Gunung Leuser” kata drh. Indra.

Kegiatan hari pertama ditutup oleh Ir. Jefri Susyafrianto, M.M Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi Direktorat Jenderal KSDAE. “Terimakasih kepada Balai Besar TNGL dan Vesswic yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi kelestarian Gajah Sumatera, tetap semangat“ ujar Direktur KK.

Rabu (29/09) pagi, seluruh peserta, pemateri, dan panitia bergerak menuju Pusat Latihan Satwa Khusus (PLSK) di Resor Tangkahan untuk melakukan praktik lapangan. Plt. Kepala SPTN VI Besitang, Slamet Indarjo, S.Hut., M.Si membuka kegiatan pada hari kedua.

Ilmu dan teori yang telah dipelajari akan langsung disimulasikan pada 3 (tiga) sesi praktik lapangan. Setelah pengarahan, peserta kegiatan dibagi menjadi 2 (dua) tim dan dibimbing secara bergantian untuk efektifitas kegiatan dan efesiensi waktu.

Kegiatan di tim pertama dibimbing oleh Donny Gunaryadi, M.Sc dari Forum Konservasi Gajah Indonesia tentang prosedur, tahapan, pelaksanaan Metode SMART Patrol dan survei okupansi. Beliau memberikan penjelasan singkat tentang teknis navigasi sebelum memulai simulasi patroli di sekitar tempat pengangonan gajah.

Pada survei okupansi, peserta melakukan pengamatan dan melihat tanda-tanda keberadaan satwa seperti kotoran, bekas sisa makanan, dan sebagainya di sekitar hutan. Data ini kemudian dikumpulkan dan diolah dengan dua metode yang disimulasikan yaitu survei kotoran (dung count) dan survei DNA (fecal DNA).

Observasi kotoran gajah yang ditemui pada survei kotoran dimulai dari jenis kelas kotoran gajah, jumlah buangan, jenis kecambah yang tumbuh, dan sebagainya.  Sedangkan pada survei DNA dilakukan dengan mengambil sampel lendir pada kotoran baru yang ditemui untuk identifikasi individu gajah di laboratorium.

Dr. Wanda Kuswanda, S.Hut., M.Sc, Peneliti dari BP2LHK Aek Nauli membimbing kegiatan di tim kedua tentang pengukuran daya dukung habitat bagi populasi Gajah Sumatera pada Koridor Langkat. Pada pengukuran ini terdapat beberapa variabel yang dibutuhkan, salah satunya data tentang kuantitas pakan gajah baik produksi maupun kerapatannya.

“Klasifikasi pakan gajah terbagi dua yaitu tumbuhan bawah (rumput, semak, herba, dan liana) dan pohon yang terdiri dari tingkat semai dan pancang. Setiap orang dalam tim harus mengetahui dan mempelajari klasifikasi dan jenis tumbuhan pakan gajah yang ada di Koridor Langkat ini khususnya” jelas beliau.

Saat patroli dan menemukan tanda-tanda keberadaan gajah,  berbeda dengan survei okupansi yang fokus pada kotoran gajah. Pada pengukuran daya dukung habitat, peserta diarahkan untuk melakukan pengamatan di sekitar lokasi dan mencari tumbuhan sumber pakan gajah.

Kemudian peserta langsung mengidentifikasi jenis pertumbuhan pakan gajah yang ditemukan; mengukur diameter atau keliling, tinggi pohon,  tinggi bebas cabang, panjang tajuk; menghitung jumlah dahan, jumlah rata-rata cabang, jumlah rata-rata daun; serta menimbang berat basah pucuk tumbuhan pakan gajah. Data-data ini dituangkan pada tally sheet (lembar pencatatan) dan di-update ketika melakukan patroli berikutnya. Sehingga dapat menjadi sumber data lengkap dalam melakukan pengukuran produktivitas daun pakan gajah dan produktivitas serasah pakan gajah .

Tarmizi selaku Leuser Landscape Manager WCS-IP menyimulasikan prosedur pemasangan kamera jebak untuk gajah kepada peserta di sesi terakhir. Beliau mengatakan, ketika melakukan pemasangan kamera, pikiran peserta harus fokus dan selalu menggunakan insting terhadap gajah dalam penempatannya, sehingga hasil foto atau video yang didapatkan lebih maksimal.

Seluruh peserta sangat antusias dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan ini. “Saya sudah pernah mengikuti pelatihan sejenis tapi semuanya tentang harimau, kalau untuk gajah ini pengalaman baru bagi saya” ujar Yunus, salah satu peserta dari SPTN VI Besitang.

Direktur Vesswic, drh. Muhammad Wahyu mengungkapkan kegembiraan beliau atas terselenggaranya kegiatan ini. “Pelaksanaan kegiatan ini bagaikan mimpi jadi kenyataan, karena sudah direncanakan sejak lama” ujar beliau.  

Kegiatan praktik lapangan kemudian ditutup oleh Plt. Kepala SPTN VI Besitang, Slamet mengapresiasi dan berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dan mendukung kegiatan ini. “Selama ini ada beberapa kegiatan dari DIPA terkait populasi dan habitat Gajah Sumatera namun itu belum mencakup semua, jadi luar biasa sekali ada terobosan kegiatan di tahun ini” jelas pria yang juga merupakan penyuluh kehutanan ini.

 “Harapannya, dua tim pada SPTN Wilayah V Bohorok dan SPTN Wilayah VI Besitang ketika pelaksanaan di lapangan nanti bisa bekerja dengan optimal sehingga data target dari populasi dan habitat Gajah Sumatera ini dapat lebih terpantau dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah” pungkasnya.

[teks & foto ©bbtngl, balqis|01102021|wanda]

Category
Tags

Comments are closed

Masukkan alamat email:



Artikel Terkini

Berita Terkini

Locations of Site Visitors
Archives
Categories