(Blang Pidie,  Desember 2021) Sebagai  Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser mengelola seluas 830.268,95 hektar kawasan Taman Nasional di sebagian wilayah Provinsi Aceh dan sebagian Provinsi Sumatera Utara. Dengan sistem pengelolaan berdasarkan Zonasi, TNGL dikeliling 247 desa yang sebagian besar penduduknya merupakan petani pekebun.

Pada Selasa (14/12) BBTN Gunung Leuser untuk ke tiga kali dalam kurun waktu 3 tahun terakhir melaksanakan pelatihan bagi masyarakat sekitar kawasan yang berada di wilayah Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya. Sebanyak 60 orang masyarakat sekitar TNGL di Aceh Selatan dan 60 orang masyarakat di Aceh Barat Daya pada tahun 2019 dilatih untuk menjadi masyarakat yang adaptif sehingga menjadi menjadi masyarakat yang produktif. Pelatihan lebah madu yang dilaksanakan 3 tahun lalu saat ini telah meningkatkan pendapatan anggota kelompok yang ada di Desa Suka Damai Kecamatan Lembah Sabil Aceh Barat Daya. Demikian juga dengan pelatihan pembuatan Virgin Coconut Oil yang diproduksi oleh KIM (Kelompok Ingin Mandiri) di Wilayah Desa Pasie Lembang Kecamatan Kluet Selatan telah membawa perekonomian kelompok menjadi lebih baik.

Tahun 2020, pelatihan dilaksanakan khusus untuk kaum perempuan dengan mengusung tema kesetaraan gender, sehingga pelatihan ekonomi produktif yang ditujukan untuk pemberdayaan perempuan mandiri, mampu menyokong perekonomian keluarga dan masyarakat sekitar kawasan TN Gunung Leuser.

Dari penuturan Vitri Ludiana Harahap selaku Ketua Pelaksana, Ada yang berbeda pada pelatihan kali ini, pelatihan yang digelar selama  tiga hari ini mengusung tema “ Mencintai Alam dan Memelihara Kearifan Lokal “. Mencintai alam karena memanfaatkan bahan-bahan yang disediakan alam. Memelihara kearifan lokal sebagai Paya mempertahankan budaya leluhur yang telah ada. 

Kegiatan pelatihan dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi, UKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Aceh Barat Daya Amri AR yang juga merupakan Ketua Harian Dekranasda Aceh Barat Daya. Dalam sambutannya Amri AR merasa senang sekali karena ternyata peran pemberdayaan masyarakat di wilayah Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya bukan menjadi tanggungjawab Pemda setempat semata.

“Ternyata ada peran dari instasi vertikal seperti BBTNGL  yang memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya”,ujar Amri. Harapannya kedepan kelompok masyarakat yang dilatih saat ini dapat bergabung dengan UKM lainnya yang berada di Kabupaten.

Peserta pelatihan diajak oleh Pupung Pursita narasumber yang berasal dari Purwokerto yang telah mengajarkan teknik eco printing di berbagai instasi pemerintahan maupun swasta untuk memanfaatkan daun dari tumbuhan yang ada di sekitar untuk diaplikasikan pada kain dari pewarna alami atau dengan istilah eco print sehingga menjadi kain bernilai ekonomis tinggi.

Pada proses ekstraksi  warna dari daun, dipilih dedaunan yang mengeluarkan warna yang kuat sehingga menghasilkan warna yang awet tidak mudah pudar. Bukan saja memanfaatkan daun sebagai pewarna, namun daun dan ranting dari tumbuhan juga dimanfaatkan sebagai motif pada kain.

Untuk memelihara kearifan lokal, pada pelatihan yang sama  BBTNGL mengundang M. Zuhri yang berprofesi sebagai pengrajin Rencong di Aceh Besar untuk mentransfer ilmu dan pengetahuannya kepada peserta laki-laki. Melatih peserta laki laki untuk dapat membuat Rencong hingga memproduksinya kelak,  sama dengan melestarikan budaya dan memelihara kearifan lokal.

Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan setiap peserta mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaanya, sehingga program pelatihan ini  menjadi program yang efektif bagi BBTNGL untuk  mengaktualisasikan tujuan SDGs yaitu Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.

[teks&foto©bbtngl,ludiana harahap|20122021]

Category
Tags

Comments are closed

Masukkan alamat email:



Artikel Terkini

Berita Terkini

Locations of Site Visitors
Archives
Categories