(Bahorok, Juli 2022) Seekor kambing hutan sumatera (Capricornis sumatraensis) mengejutkan warga Dusun Perteguhen, Desa Telagah, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat. Satwa langka yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini turun ke perladangan warga dekat pemukiman pada Senin(11/7) pukul 15.00 WIB.

Seorang warga yang juga merupakan anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Taman nasional Gunung Leuser (TNGL). Merespon laporan tersebut bersama mitra petugas TNGL langsung turun menuju lokasi kejadian, tiba pukul 19.30 WIB di Perteguhen.

Berdasarkan informasi dan hasil pengecekan petugas, kambing hutan tersebut mengidap penyakit kulit di sekujur tubuhnya. Fisiknya juga terlihat lemah. Kondisi ini membuat si kambing tak sanggup bertahan. Hidupnya pun berakhir pada jam delapan malam.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Bohorok, Palber Turnip mengatakan kondisi satwa liar tersebut memang dalam keadaan sekarat. “Iya, kudis hampir di semua permukaan kulit, plus karna sakitnya mungkin jadi tidak ada selera makan, maka sangat kurus saat ditemukan,” ujar Palber.

Tim yang terdiri dari petugas, mitra dan warga akhirnya mengevakuasi kambing hutan tersebut ke perkebunan warga tempatnya ditemukan. Petugas kemudian menguburkan satwa liar tersebut disaksikan oleh warga.

Kambing hutan Sumatera yang ditemukan tersebut memiliki jenis kelamin jantan. Usianya juga diperkirakan sudah dewasa terlihat dari panjangnya tanduk yang dimiliki. Dugaan bahwa satwa ini memiliki penyakit kulit (scabies) di sekujur tubuhnya yang mengakibatkan kelemahan fisik.

Sebagai informasi tambahan bahwa Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis) merupakan jenis kambing hutan dari genus Capricornis, subfamili Caprinae, famili Bovidae. Kambing ini masuk dalam kategori satwa liar yang dilindungi (Permen LHK Nomor P.92 Tahun 2018). Mereka biasanya hidup dalam habitat hutan – hutan dataran tinggi.

Masyarakat Karo sekitar kawasan TNGL menyebut satwa bertanduk ini, Beidar. Beidar dikenal mampu menaklukan berbagai medan di gunung – gunung Sumatera. Bahkan satwa ini sanggup berlari kencang di tanjakan curam dan juga mampu melewati tebing jurang di pegunungan.

Kambing Hutan Sumatera mempunyai perawakan yang besar serta kekar. Berat badan kambing dewasa antara 50 – 140 kg, dengan panjang badan 140 – 180 cm, dan tinggi 85 – 94 cm. Panjang tanduk kambing hutan Sumatera antara umumnya pada kisaran 12 – 16 cm. Bentuk tanduk ramping, pendek dengan arah pertumbuhan lurus ke belakang, mirip dengan tanduk antelop.

Tubuhnya ditutupi rambut kasar berwarna hitam hingga hitam keabuan. Bagian moncong mirip seperti moncong kerbau dan antelop. Telinga kambing hutan Sumatera kecil, panjang, serta berdiri.

International Union for the Conservation of Nature anda Natural Resources (IUCN) mengkategorikan Kambing Hutan Sumatera ini masuk dalam kategori redlist – rentan. Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan kambing hutan dari Sumatera sebagai satwa dilindungi (Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999). Kategori Vulnerable (VU; Rentan) adalah status konservasi yang diberikan kepada spesies yang sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang. Kondisi ini mengartikan bahwa populasi Kambing Hutan Sumatera ini berada di ambang kepunahan apabila tidak dilakukan sebuah upaya perlindungan dan pengawetan.

Perlu kita ketahui bahwa perusakan hutan baik perambahan maupun illegal logging sangat mendukung kepunahan satwa yang melambangkan semangat dan kegigihan ini. Perambahan hutan di Taman Hutan Raya, perbatasan Karo Langkat sangat mungkin menyebabkan habitat Kambing Hutan Sumatera ini terganggu sehingga sampai harus keluar dari hutan.

[teks&foto©bbtngl, Salmen|12072022]

Category
Tags

Comments are closed

Masukkan alamat email:



Artikel Terkini

Berita Terkini

Locations of Site Visitors
Archives
Categories