ABSTRAK

                Pentingnya penelitian ini dilakukan adalah selain untuk mendeskripsikan gejala hukum dari pengelolaan lingkungan hidup dan pengelolaan hutan di kawasan EkosistemLesuer juga menjelaskan gejala dalam hidup lingkup otonomi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah tentang penerpan prinsip-prinsip hukum pengelolaan lingkungan hidup dan pengelolaan hutan di kawasan Ekosistem Lesuer, pengelolaan hutan dalam perspektif Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daeah yang telah di ganti dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 dan Faktor-Faktor enyebab kegagalanya.

                Metode penelitian yang dgunakan dalam disertasi ini adalah penelitian hukum normatif sosialogi dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan untuk selanjutnya spesifikasi penelitian dengan menggunakan pendekatan multi entry artinya penelitian ini bukan saja dianalisis menurut norma-norma hukum pengelolaan lingkungan hidup dan pengelolaan hutan yang terdapat dalam berbagai peraturan melainkan juga meliputi aspek non hukum. Dari pendekatan ini akan diperoleh bahan masukan yang bersifat yuridis sosiologi dan hal-hal yang bersifat normatif, aspek ekonomis dan politik dapat menjawab pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dan pengelolaan hutan khususnya di Nanggroe Aceh Darusslam. Responden penelitian dipilih dan di tentukan berdasarkan hasil survei yang dilakukan di dalam penelitian ini. Teknik penarikan sampel di tentukan dengan cara purposive sampling. Alat pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini dalah kuesioner, pedoman wawancara, observasi dan sudi dokumen untuk selanjutnya dilakukan analisis kualitatif.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan karbohidrat, protein dan lemak dari daun tumbuhan sebagai sumber pakan alternatif pada saat keberadaan buah menjadi sangat jarang. Penelitian ini dilakukan di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukitlawang, Taman Nasional Gunung Leuser pada bulan April – Mei 2013. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dimana sampel yang diambil dari lapangan kemudian diteliti kandungannya di laboratorium. Sampel berfokus pada 5 famili yang mendominasi di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera yaitu Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Fagaceae, Sapindaceae, dan Moraceae. Dari kelima famili tersebut diambil 13 species untuk diteliti daunnya. Dari 13 sampel daun yang diteliti, kandungan karbohidrat tertinggi terdapat pada Shorea lepidota (45,19 %), Eugenia claviflora (40,48 %), Shorea acumilata (29,35 %). Kandungan protein tertinggi terdapat pada Ficus curtipes (13,39 %), Ficus elastica (13,9 %), Castonopsis tengurut (12,53 %). Kandungan lemak tertinggi pada Eugenia filiformis (12,53 %), Castonopsis tengurut (10,73 %), Nephelium mutabile (10,64 %).

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi pakan orangutan Sumatera (Pongo abelii) diluar musim buah, mengetahui spesies tumbuhan pakan yang berbuah selama pengamatan dan juga jenis pakan yang dimakan orangutan sumatera di luar musim buah, Penelitian ini dilakukan di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera, Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser pada bulan April – Juni 2012. Penelitian ini menggunakan metode survey dan metode transek untuk mengetahui spesies tumbuhan pakan yang berbuah dan Animal Focal Sampling untuk mengamati aktivitas pakan orangutan, objek penelitian ini adalah 3 ekor orangutan sumatera yaitu Suma, Sandra dan Mina. Hasil penelitian ini menunjukkan 17 jenis tumbuhan pakan yang berbuah yang berasal 13 famili dan family Moraceae yang lebih banyak berbuah (25%). 3 jenis pakan yang sama-sama di pilih orangutan yaitu rayap (kelas : insekta), daun Meranti (Shorea sp) dan daun Liana (Fam : Piperaceae ]. Bagian dari jenis pakan yang paling banyak di pillih orangutan adalah daun (61,70%), buah (12,76%), bunga (4,25%), serangga (12,76%), kulit kayu (4,25%) dan jamur (4,25%). Sumber perolehan pakan oleh orangutan saat penelitian ini adalah pakan alami (83,92%%), pemberian pakan di Feeding platform (8,92%) dari wisatawan yang berkunjung (7,14%).

Keyword: (-)

ABSTRAK

                Kawasan  hutan Taman Nasional Gunung Leuser merupakan ekosistem yang dihuni oleh berbagai jenis satwa liar, di antaranya adalah Gajah Sumatera ( Elephas Maximus Sumatranus). Akibat terfragmentasinya habitat gajah, muncul masalah seperti konflik antara manusia dengan gajah. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi faktor fisik tempat terjadinya konflik gajah dengan manusia serta mengetahui tingkat kerusakan tanaman akibat konflik gajah dengan manusia di Resort Tangkahan, Cinta Raja dan Sei Lepan serta kawasan Ekosistem Leuser. Dengan memanfaatkan koordinat kejadian konflik gajah, kemudian diolah dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis dapat di ketahui beberapa faktor yang dapat menyebabkan konflik antara gajah dan manusia di antaranya ketinggian tempat, kelerengan, jarak dari sungai, jarak dari hutan dan pengunaan lahan di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser serta kawasan Ekosistem Leuser.

                Melalui penelitian ini dapat di ketahui bahwa kejadian konflik lebih banyak terjadi pada ketinggi antara 0-200 mdpl, pada kelerengan 0-8%, 8-15% dan 15-25% kemudian jarak 0-400 meter dari sungai di wilayah Taman nasional Gunung Leuser dan Kawasan Eksosistem Leuser. Hubungan antara masing masing faktor fisik dengan jumlah kerusakan akibat kejadian konflik gajah di uji menggunakan korelasi spearman. Hasil uji menunjukkan bahwa faktor fisik kawasan yang paling kuat mempengarui kejadian konflik adalah fakror kelerengan dan yang paling lemah adalah faktor jarak dari hutan.

Kata Kunci : Gajah, Konflik Gajah dan Manusia,SIG TNGL

ABSTRAK

                Pada dewasa ini tela terjadi perambahan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) oleh sekitar 1.500 orang pendatang yang terdiam yang berdiam di wilayah Sei Minyak Kasio, Damar Hitam, Desa Hamparan Jaya Kecamatan sei Lepan Langkat merambah sekitar 1.000 Hektare hutan yang dioah menjadi tempat tinggal dan pertanian (Media Indonesia, 30/11/2000) dan diperhitungkan saat ini telah mencapai sekitar 1.500 ha, hal ini merupakan suatu perubahan yang sangat besar bagi masyarakat di sekitar Taman nasional Gunung Leuser (TNGL) yang selama ini berpuluh-tahun selalu menjaga kelestarian hutan TNGL.

Tujusn penelitian ini untuk pengaruh akibat kegiatan perambahan hutan di KEL ole masyarakt pendatang terhadap terhadap perubahan pendapatan, pendidikan, pertanian permukiman, pelayan kesehatan masyarakat disekitarnya. Dan untuk melihat faktor-faktor apakah yang mempengarui perambahan hutan di KEL.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan serta hasil pembahasan data-data dengan menggunakan alat bantu statistik pada program komputer SPSS 11.000, dapat di tarik kesimpulan adalah bahwa pengarui perambahan hutan di daerah Kawasan Ekosistem Leuser pada umumnya memberikan pengaruh yang baik (positif) dalam jangka oendek yang di tandai dengan semakin besar pendapatan masyarakat, semakin membaiknya pelayankesehatan, juga meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat serta semakin tegaknya hukum dan mulai di galakkanya organisasi-organisasi kemasyarakatan di daerah penelitian. Namun dalam jangka panjang akan memberikan kerusakan bagi masyarakat di sekitar.

                Faktor-faktor yang mempengarui pemanfaatan huta secara kostruktif dalam pengelolaan lingkungan adalah : (1) Kesiapan masyarakata, (2) pengetahuan, (3) penyuluhansedangkan yang mempengarui secara destruktif adalah : (1) kepatuhan terhadap hukum, serta (2) keanggotaan organisasi kemasyarakatan. Dimana faktor yang paling dominan mempengarui peramabahan hutan adalah yaitu kesiapan masyarakat menerima perambahan hutan itu sendiri.

ABSTRAK

                Dalam penelitian ini bersifat Deskriptif analitis. Lokasi penelitian yaitu Kota Medan, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Aceh Tenggara (KuaCane). Pendekatan yang adalah Yuridis normatif, dan pendekatan yuridis empiris hanya sebagai penunjang, yaitu dengan milih beberapa informan yaitu Kepala Balai TNGL, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Langkat, Camat Bahorok, Kepala Resosrt TNGL wilayah Langkat, Unit Managemen Taman Nasional Gunun Leuser, dan Kepala Desa Batu Jongjong. Kemudian dianalisis dengan pendekatan Kualitatif dedukatif.

                Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan hukum lahan enclave pada kawasan taman Nasional Guung Leuser masih berdasarkan pada Besluit Selfbesjuur No. 138 Tahun 1935 yang di tetapkan ke dalam tiga enclave yaitu lahan enclave Semberlin, lahan enclave sapo padang dan taman Nasional Gunung Leuser. Ketentuan yang terkait dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Langkat terhadap lahan enclave adalah Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, dan Keputusan Presiden Nomor 33.

ABSTRAK

                Penelitian ini termasuk kategori survey mengingat banyaknya populasi yang dapat dijadikan sebagai unit penelitian. Tempat penelitian dilakukan di Taman Wisata Alam punti kayu palembang. Variabel dan masing-masing indikator yang digunakan adalah tingkat kepuasan pelanggan dengan indikator harga tiket masuk, lokasi taman wisata alam, tempat ibadah, fasilitas parkir, kuantitas hiburan, jenis hiburan, keamanan, kebersihan lokasi, keramahan dan komunikasi yang efektif. Populasi penelitian adalah seluruh konsumen Taman Wisata Alam Punti kayu Palembang yang diambil 100 orang secara accidental sampling. Data primer yang diperlukan adalah jawaban responden terhadap kuesioner dan dokumentasi. Analisi data yang dilakukan adalah analisis kuantatif dan kuantatif dengan teknik analisis Indeks Kepuasan Pelanggan (IKP).

                Hasil analisis menunjukkan pengunjung merasa tidak puas untuk 10 indikator pelayanan jasa tersebut. Tingkat kinerja pelayanan sebesar 33,47 rata-rata kinerja pelayanan sebesar 3,34, nilai IKP dengan nilai rata-rata IKP sebesar -0,8. Indikator tertinggi terdapat pada atribut harga tiket masuk dengan IKP sebesar -0,17 sedangkan indikator yang paling kecil terdapat pada atribut kuantitas hiburan dengan IKP sebesar -1,3.

Kata Kunci : Tingkat Kepuasan Pelanggan, Pelayanan.

ABSTRAK

                Tujuan peneltian ini adalah untuk mengindentifikasi dan memetakan potensi wisata alam yang terdapat di sepanjang jalur wisata alam gajah di Kawasan Ekowisata Tangkahan, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat. Pengambilan data dilakukan dengan pengambilan titik koordinat potensi di tampilkan dengan peta dasar. Hasil observasi potensi wisata dianalisis secara deskriptif dan tabulasi.

                Potensi wisata yang di temukan adalah potensi flora, fauna dan alam. Potensi flora, fauna dan alam tersebar di sepanjang jalur. Potensi flora ditemukan sebanyak 63 jenis. Potensi alam yang di temukan yaitu panorama alam, air terjun sei garud, ceruk, pantai kupu-kupu, gua kalong, gua air panas sekucib, dan gua kambing.

Kata Kunci : Tangkahan, Wisata, Potensi, Peta, Jalur

ABSTRAK

                Hasil penelitian ini berdasarkan korelasi rank Spearman (rs) dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara perencanaan kebijakan dengan partisdipasi masyarakat. Hubungan ini dapat dilihat dari nilai rs = 0,455 dan nilai t hitung = 4,570 lebih besar dari t tabel = 1,67 yang artinya kebijakan dalam perencanaan dapat mempengarui tingkat peranserta masyarakat, begitu juga hubungan antara kebijakan dalam pelaksanaan mempunyai hubungan sedang. Hubungan ini dapat kita lihat nilai rs = 0,635 dan nilai t hitung = 7,924 lebih besar dari t tabel = 1, 67, sedangkan hubungan nilai rs = 0,635 yang menunjukan hubungan kuat dimana t hitung = 7,924 lebih besar dari t tabel = 1,67.

                Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa kebijakan yang diterbitkan pemerintah Kabupaten Aceh tenggara, baik kebijakan dalam perencanaan, maupun kebijakan dalam pelaksanaan dan kebijakan dalam pengawasan mempunyai korelasi positif dengan peran serta masyarakat.

ABSTRAK

                Kegiatan pembangunan jalan Ladia Galaska dalam Kawasan Ekosistem Leuser telah menjadi bahan perdebatan sejak lama. Masalahna adalah apakah keberadaan jalan yang akan di bangun dapat membuka akses kedunia luar bagi masyarakat yang terisolir atau akan membuka jalan bagi para pendatang untuk mengeksploitasi kawasan alami yang sebelum nya tidak tersentuh.

                Untuk itulah penelitian tertarik untuk melihat pengaruh pengembangan jalan sebahagian Ladia Galaska Blangkejeren – Kuta Cane terhadap sosial ekonomi masyarakat yang berada di Kawasan Ekosistem Leuser.

                Berdasarkan penjelasan diatas, maka perumusan masalah dalan penelitian in adalah : (1) apakah pengembangan jalan sebahagian Blangkejeren-Kuta Cane akanberpengaruh terhadap sosial ekonomi masyarakatyang berada di kawasan Ekosistem Leuser, (2) pengaruh apa yang akan di timbulkan dari pengembangan jalan sebahagian Blangkejeren – Kuta Cane terhadap kawasan hutan,lahan pertanian/perkeunan yang berada di sepanjang jalan pengembangan disekitar Kawasan Ekosistem Leuser.

 Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui pengeruh pengembangan jalan sebahagian Blangkejeren_Kuta Cane terhadap sosial ekonomi masyarakat yang berada di Kawasan Ekositem Leuser (2) Untuk mengetahui pengaruh dari pada pelebaran jalan sebahagian Blangkejeren-Kuta Cane terhadap kawasan hutan, lahan Pertanian/perkebunan yang berada disepanjang jalan pengembangan disekitar Kawasan Ekosistem Leuser.