Linsang, memiliki nama ilmiah “Prionodon linsang”. Dikenal juga dengan sebutan “Banded linsang” dalam bahasa Inggris. Di Indonesia, linsang termasuk satu dari 137 mamalia yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Secara global, saat ini linsang menduduki status Least Concern dalam IUCN Redlist dan masuk pada kategori appendix II CITES. 

Mamalia dengan bobot badan 0.5 – 0.8 kg ini memiliki perawakan langsing. Tubuhnya tertutupi bulu berwarna krem kekuningan dengan garis belang-belang dan bercak hitam atau coklat gelap. Terkadang linsang disangka musang belang (Hemigalus derbyanus), yang ukurannya lebih besar dengan pola ekor yang berbeda. 

Spesies yang dapat hidup hingga 10 tahun dalam penangkaran ini, memiliki leher dan ekor yang relatif panjang. Panjang ekor linsang berkisar antara  29,5 – 42 cm. Hampir sama dengan panjang badannya, yaitu antara 35 – 45 cm. Sedangkan cakar linsang dapat ditarik kedalam seperti cakar kucing, seperti pada jenis musang (Viverridae) lainnya.

Sebagai satwa yang aktif pada malam hari (nokturnal), spesies ini tidur pada siang hari di sarang yang dibuatnya dalam sebuah lubang di bawah tanah atau di dalam pohon. Linsang termasuk hewan yang aktif di atas permukaan tanah (terrestrial) dan terkadang di pepohonan (arboreal). Ia dapat memanjat dengan baik meskipun menghabiskan banyak waktunya di tanah. Makanannya meliputi mamalia kecil, burung, reptil dan artropoda.

Habitatnya dapat berupa hutan dataran tinggi, hutan sekunder maupun perkebunan. Spesies ini terdapat di Indonesia (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan), Malaysia, Myanmar dan Thailand. Berdasarkan hasil kamera trap dan patrol berbasis SMART, linsang ditemukan di seluruh wilayah lingkup bidang pengelolaan TN Gunung Leuser.

[teks Nurlaili, foto @bbtngl|28062021]

Category
Tags

Comments are closed

Masukkan alamat email:



Artikel Terkini

Berita Terkini

Locations of Site Visitors
Archives
Categories