Letak administrasi:

Tangkahan terletak pada zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Leuser dengan luas area 3.837,77 Ha. Zona pemanfaatan Tangkahan secara pengelolaan Taman Nasional masuk ke dalam dua wilayah Resor yaitu Resor Tangkahan dan Resor Cinta Raja, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah VI Besitang, Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah III Stabat. Lokasi ini berada di Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.  Keseluruhan zona pemanfaatan Tangkahan adalah ruang publik, artinya diperuntukkan bagi kegiatan wisata pengunjung.

Koordinat:

03°05’30’’ LU dan 098°04’26,8’’ BT

Aksesibilitas:

Untuk menuju Tangkahan dari propinsi lain di Indonesia melalui Bandar Udara Kuala Namu (Deli Serang) – Medan – Tangkahan. Kawasan Tangkahan dapat dicapai selama 3 sampai 4 jam perjalanan darat dengan kendaraan  umum maupun pribadi dengan jarak tempuh kurang lebih 95 km dari Kota Medan. Kondisi jalan relatif baik, walaupun terdapat kurang lebih 20 – 25 Km saat ini yang mengalami kerusakan sedang , tetapi dapat dilalui dengan kecepatan 20 – 30 Km/ jam.

Moda transportasi:

  1. Menggunakan kendaraan umum Minibus/Angkot “Pembangungan Semesta” dari Terminal Pinang Baris di Medan menuju Tangkahan, perjalanan kurang lebih 4 jam.
  2. Menggunakan kendaraan rental (milik perorangan/biro travel), perjalanan kurang lebih 4 jam.

Sejarah Kawasan

Produk Pariwisata Alam Tangkahan yang menjadi primadona Pariwisata Alam di Sumatera Utara pertama kali diluncurkan di bulan Pebruari 2004, ditandai dengan kunjungan Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Sebelumnya, Tangkahan terkenal sebagai surganya pembalak liar yang membalak kekayaan hutan Tangkahan secara sistematis, dengan mengandalkan arogansi kekuasaan dan kekerasan. Adanya keterlibatan banyak pihak yang tidak mau menaati peraturan dan memikirkan dampak negatif yang nantinya akan menerjang masyarakat membuat perambahan dan penjarahan kekayaan hutan Tangkahan berlangsung dengan mulus dan dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Tingginya permintaan pasar akan kayu menimbulkan persoalan sosial di tengah masyarakat Tangkahan. Para penebang kayu dari desa-desa sekitar Tangkahan mulai masuk dan berebut kayu di lahan yang sama sehingga terjadi persaingan usaha. Pada saat itu Tangkahan sudah menjadi daerah tujuan wisata lokal untuk sekedar berlibur di pinggiran sungai. Adanya persaingan usaha pembalakan kayu ditambah dengan maraknya perjudian menimbulkan ketidakyamanan aktivitas berkunjung wisata di Tangkahan. Kondisi mulai menyurut seiring dengan tertangkapnya salah satu tokoh sekaligus pelaku pembalakan liar Ukur Depari atau lebih dikenal dengan Okor. Pada saat yang bersamaan sekelompok anak muda idealis akhirnya perlahan namun pasti dengan penuh perjuangan menghadapi segala hambatan dan tantangan dari masyarakat yang masih terlanjur terlena dengan pembalakan liarnya berhasil merubah pola pikir dan perilaku masyarakat Tangkahan menjadi peduli pada konservasi Tangkahan.

Balai Besar TNGL memfasilitasi pengelolaan kawasan TNGL bersama masyarakat yang berada di Tangkahan.  Tangkahan adalah nama yang ditetapkan untuk memperjelas sebutan pada batas kawasan pengelolaan dalam lingkup kesepakatan kerjasama (Memorandum of Understanding) yang ditandatandangani oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser dan Lembaga Pariwisata Tangkahan pada 22 April 2002 dan 23 Juli 2006 seluas 17.500 Ha, yang merujuk pada ketentuan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut–II/2004 tentang kolaborasi kawasan Pelestarian Alam dan Kawasan Suaka Alam. Kawasan pengelolaan kolaborasi tersebut terletak di wilayah resor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Tangkahan dan sebagian masuk dalam wilayah resor Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Cinta Raja, SPTN VI- Besitang pada wilayah BPTN III-Stabat, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser di bagian Propinsi Sumatera Utara, tepatnya di wilayah administratif Kabupaten Langkat.

Tiga tahun merupakan proses pembelajaran untuk membangun kehidupan baru Tangkahan hingga menjadi kawasan Pariwisata Alam. Produk Wisata Tangkahan diluncurkan pada Tahun 2004. Para pihak di Tangkahan juga memikirkan dampak pengembangan Pariwisata Alam terhadap kawasan lindung, tatanan sosial dan perekonomian. Masyarakat sepakat bahwa Pariwisata Alam Tangkahan harus berkelanjutan dan ini dituangkan dalam bentuk peraturan desa yang mengatur tentang pengembangan infrastruktur di kawasan Pariwisata Alam dan pengelolaan sampah. Kini peraturan desa itu sudah berjalan dan akan mengawal Pariwisata Alam Tangkahan secara berkelanjutan.

TNGL memiliki panjang batas kawasan lebih dari 1.022 km di wilayah provinsi Aceh dan Sumatera Utara yang terdiri dari delapan kabupaten (Gayo Lues, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Karo dan Langkat). Terdiri dari 40 kecamatan dan 111 desa. Berpenduduk lebih dari 4 juta jiwa (Wiratno, 2013). Apabila masyarakat mendapatkan manfaat dari Taman Nasional, terutama manfaat langsung yang dirasakan secara nyata untuk membantu kehidupan ekonominya sehari-hari, maka masyarakat akan secara otomatis membantu mengamankan kawasan hutan tersebut.

Pariwisata Alam Tangkahan adalah contoh nyata dari hasil kerjasama multi pihak, utamanya yang mendukung upaya perlindungan kawasan taman nasional khususnya kawasan hutan di wilayah sekitar Desa Sei Serdang dan Namo Sialang, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat. Dampak nyatanya memang terbatas di wilayah hutan di sekitar kedua desa tersebut saja, namun demikian, telah terjadi multiplier effect dalam bentuk peningkatan kesadaran para pihak khususnya yang bekerjasama. Tangkahan dikenal bukan saja sebagai kawasan wisata alam, tetapi juga menarik minat peneliti, mahasiswa, LSM, maupun kunjungan pejabat Kementerian Kehutanan, cq. Ditjen PHKA, untuk “menikmati” Tangkahan. Ini telah terjadi sejak Tahun 2004 sampai dengan saat ini.

Kondisi Fisik:

Bentang alam kawasan Tangkahan merupakan perpaduan hutan alami (Kawasan TNGL) dan sekitarnya yang terdiri dari: perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, perkebunan jeruk, pedesaan, sungai, bukit, tebing, goa-goa alam dan lembah adalah bagian dari sumberdaya alam kawasan, merupakan daya tarik wisata yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Kawasan Tangkahan terletak di pertemuan dua sungai yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan yang kemudian mengalir ke hilir dan bertemu Sungai Musam. Sungai Batang Serangan mengalir membelah Sungai Tanjung Pura sebelum sampai ke Pantai Timur Sumatera. Beberapa potensi unggulan di Kawasan ini diantaranya adanya sumber air panas, air terjun, goa-goa alam dan tebing.

Kawasan Tangkahan terletak pada dua tipe ketinggian yaitu, tipe ketinggian di luar kawasan hutan adalah 100 – 150  mdpl dan tipe ketinggian di dalam kawasan hutan antara 100 – 1.200 mdpl. Pada umumnya memiliki topografi relatif landai sampai dengan bergelombang dengan kemiringan 20–30% di luar kawasan hutan dan 45 – 90% di dalam kawasan hutan.  Jenis tanah diklasifikasikan terdiri dari jenis tanah Podsolik dan Litosol. Pada wilayah yang curam, terdapat batuan tanpa lapisan tanah. Bahan induk meliputi batu kapur bertufa dan batuan vulkan.

Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson dalam Guslim (1997), kawasan ini bertipe Iklim B dengan melihat perbandingan antara bulan kering (dengan curah hujan kurang dari 60 mm) dan bulan basah (curah hujan lebih dari 100 mm). Suhu udara rata – rata di kawasan ini antara 21,1˚C – 27,5˚C dengan kelembapan nisbi antara 80 – 100 %. Musim hujan merata sepanjang tahun tanpa mengalami musim kering yang berarti dengan curah hujan rata – rata 2.000 – 3.200 mm/ tahun.

Kondisi Ekologi:

Kawasan Tangkahan merupakan kawasan hutan tropis yang menjadi bagian kawasan TNGL. Kawasan ini merupakan habitat alami dari berbagai jenis satwa liar yang memiliki wilayah jelajah tertentu. Kawasan ini memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi, sebagian besar kawasan Tangkahan merupakan hutan hujan tropis mulai dari hutan primer Dipterocarpaceae dan hutan primer campuran. Kawasan ini secara umum didominasi oleh tumbuhan dari famili Dipterocarpaceae, Meliaceae, Burseracea, Euphorbiacae, dan Myrtaceae. Pohon-pohon besar dengan diameter di atas 1 meter (di antaranya adalah pohon kayu jenis damar, meranti, dan kayu raja) masih dapat ditemui pada jalur-jalur yang relatif mudah dicapai. Hutan di kawasan Tangkahan memiliki 6 (enam) spesies primata seperti orangutan sumatera (Pongo abelli), siamang (Hylobates syndactilus), kedih (Prisbytis sp.), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), dan beruk (Macaca nemestrina). Fauna lainnya yang  mudah dilihat di sekitar kawasan Tangkahan adalah burung rangkong (Buceros rhinoceros), srigunting batu (Dicrurus paradiceus) dan elang (Haliartus sp). Sedangkan orangutan sumatera dan burung  kuau (Phasianidae) dapat dilihat pada waktu tertentu saja.

Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya:

Penduduk di sekitar kawasan terdiri dari beberapa suku dengan Suku Karo sebagai mayoritas yang mendiami perkampungan-perkampungan di sekitar hutan. Sedangkan Suku Jawa, Batak, Melayu adalah mereka yang tinggal sebagai pekerja perkebunan kelapa sawit dan karet. Ikatan keluarga menjadi rantai yang tidak terputuskan dalam kehidupan sosial di sekitar kawasan Tangkahan. Pesona budaya tampak pada acara-acara adat seperti perkawinan ritual tolak bala dan rutinitas adat lainnya. Kehidupan beragama sangat toleran antara pemeluk agama Islam, Katolik dan Kristen Protestan yang menganjurkan manusia untuk saling tolong-menolong, hal ini yang menjadi kekuatan kultural kawasan Tangkahan, sehingga suasana tetap kondusif dan stabil. Kesenian tradisional, makanan khas, dan pengobatan tradisional masih terdapat di kawasan yang dapat dijadikan sebagai daya tarik pengembangan pariwisata alam kawasan.

Jumlah penduduk Desa Namo Sialang dan Sei Serdang lebih kurang berjumlah 1.950 KK pada tahun 2014. Mata pencaharian penduduk kebanyakan adalah bertani dan bekerja di sektor perkebunan, ada juga yang bekerja sebagai pegawai negeri. Sebagian lagi melakukan aktivitas berdagang, beternak dan mengusahakan perikanan. Sumber energi desa 95% berasal dari kayu dan 5% minyak. Sedangkan penggunaan listrik berkisar hingga 80%. Sumber air desa berasal dari mata air, sungai dan hujan.

Penginapan

  1. Mega Inn
  2. Bamboo River
  3. Masta Inn
  4. Egi Inn
  5. Green Forest Tangkahan
  6. Tangkahan Inn

Homestay

  1. Ulih Sabar
  2. Jungle Lodge
  3. Dream Land
  4. Linnea Resort
  5. Sapo Family
  6. Green Hill River
  7. Mountain View
  8. Green Lodge

Rumah Makan

Terdapat sebanyak 5 warung

Sarana dan Prasarana wisata di dalam site

Jembatan Nini Galang, visitor centre, papan interpretasi, jalan trail, camping ground, Toilet

Aktivitas yang dapat dilakukan pengunjung

Pengamatan gajah jinak, jungle patrol bersama gajah, caving, memancing, tubing, trekking hutan, camping

Layanan umum terdekat

Pasar, Puskesmas, Bank

Jasa Pemandu Wisata dan Informasi Wisata

Community Tour Operator (CTO) Tangkahan

Phone & Fax : (061) 8452203

Email : [email protected]

Website : www.sumatraecotourism.com www.elephantjunglepatrol.com

Waktu Kunjungan Terbaik

Januari-Desember