(Bahorok,   Juni 2021) Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Sumatera Hijau Lestari (SHL) mengusung program pertanian organik di beberapa desa di Kecamatan Bahorok. Dengan dukungan dana Small Grants Programme Indonesia (SGP Indonesia), program ini akan berlangsung selama satu tahun di Desa Lau Damak dan Desa Batu Jong Jong, Kecamatan Bahorok. Kedua desa tersebut merupakan desa penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan TN Gunung Leuser.

Kegiatan pelatihan dan pendampingan masyarakat di kedua desa tersebut dimulai dari tahap pembentukan kelompok hingga pasca panen. Kelompok telah dibentuk pada bulan April dan Mei lalu. Setelahnya, digelar sekolah lapang pada Jum’at (19/6) dan Sabtu (20/6).

Sekolah lapang fokus pada tanaman kakao dan aren. Alasan memilih dua komoditas tersebut selain pernah menjadi favorit masyarakat adalah kedua tanaman tersebut merupakan tanaman yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain itu kombinasi tanaman tersebut juga melawan sistem monokultur sawit dan karet yang begitu masif di masyarakat.

Tahun 1980 s.d. 2000 an tanaman kakao sempat menjadi primadona daerah Sumatera Utara termasuk Langkat Hulu. Tanaman kakao atau yang populer dikenal dengan “cokelat” di Desa Lau Damak dan sekitarnya pada masa tersebut merupakan salah satu penghasil kakao terbaik. Seiring banyaknya hama dan berbagai penyakit menyerang tanaman kakao, masyarakat akhirnya beralih. Saat ini tidak lebih dari 10% masyarakat Lau Damak menanam kakao, kebanyakan dari mereka menanam sawit dan karet. 

Keinginan masyarakat mengembalikan kejayaan kakao ternyata masih ada. Hal tersebut bukan tidak beralasan. Harga kakao kering sepanjang tahun 2020 tidak pernah berada di bawah harga Rp. 23.000/kg. Bahkan memiliki tren kenaikan harga secara terus menerus. Selain itu kakao juga merupakan komoditas internasional. Harga internasional sepanjang tahun 2021 terendah berada di kisaran US$ 2.537/MT.

Mungkin inilah yang jadi salah satu motivasi peserta sekolah lapang tampak begitu semangat mengikuti hari pertama kegiatan yang digelar di dusun Namo Cengkeh, Desa Lau Damak. Sebanyak 20 orang petani menyimak materi yang sengaja didatangkan langsung dari Perkumpulan Pertanian Organik Seluruh Nusantara (PPANSU), Yunus. Narasumber ini memberikan pengetahuan dan pengalaman berkebun cokelat secara organik di Serdang Bedagai dan dari berbagai wilayah Nusantara.

Usai materi pengenalan bibit unggul sampai pengelolaan panen peserta kemudian mengikuti praktik lapang. Lokasi praktik di salah satu kebun cokelat peserta, Sada Kata Singarimbun. Di sini peserta belajar cara pengadaan bibit unggul baik seedling, grafting dan sambung samping. Selain itu petani juga belajar mengenai pengendalian hama terpadu secara organik dengan memanfaatkan musuh alami hama seperti pengembangan semut dan sebagainya.

Esoknya, sekolah lapang berlokasi di kantor Desa Batu Jongjong. Jumlah peserta sebanyak 20 orang. Rahman Abdel Rouf, manajer Community Development SHL mengatakan bahwa lembaganya telah mendampingi Desa Batu Jong Jong selama hampir dua tahun. Fokus SHL di Batu Jong Jong adalah pertanian organik, hal tersebut dianggap sejalan dengan konservasi.

“Dengan kesibukan dan penghasilan cukup di lahan pertanian, mereka akan lupa untuk mengganggu atau merambah hutannya” tambahnya.

Pengenalan pengelolaan pertanian ramah lingkungan diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan hutan. Dengan demikian semboyan Masyarakat Sejahtera Hutan Lestari dapat terwujud secara bertahap.

[teks & foto ©bbtngl, Salmen Sembiring, S.Sos|29062021]

 

Category
Tags

Comments are closed

Masukkan alamat email:



Artikel Terkini

Berita Terkini

Locations of Site Visitors
Archives
Categories