Dahulu, Gajah Asia (Elephas maximus) tersebar hampir di seluruh Asia dan Indocina serta menempati berbagai macam habitat seperti hutan hujan tropis dan padang rumput. Saat ini populasi gajah Asia telah menurun secara drastis dan saat ini jumlahnya hanya sepersepuluh populasi gajah Afrika. Di Indonesia, gajah Asia hanya terdapat di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Populasi manusia yang semakin meningkat secara langsung maupun tidak langsung telah merusak habitat satwa tersebut. Persaingan yang ganas untuk mendapatkan ruang hidup (living space) mengakibatkan berbagai macam penderitaan, fragmentasi kawasan hutan, hingga hilangnya pentutupan hutan (forest cover). Konflik antara gajah dan manusia, serta perburuan gajah untuk diambil gading dan kulitnya menjadi faktor utama mempercepat laju kepunahan mamalia besar ini.

Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai negara mega-biodiversity. Diperkirakan sebanyak 300.000 jenis atau ? 17 % satwa dunia terdapat di Indonesia walaupun luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas daratan dunia. Sebanyak 515 jenis mamalia, 1539 jenis burung, dan sebanyak 45% ikan dunia hidup di Indonesia. Kebanggaan ini membuat kita terlena dalam pemanfaatan sumber daya hutan yang mengarah pada pemanfaatan tidak rasional dan tidak bijaksanan. Hal ini mengakibatkan dikenalnya Indonesia sebagai negara dengan daftar panjang tentang satwa liar yang terancam punah. Hingga saat ini jumlah jenis satwa liar Indonesia yang terancam punah adalah 104 jenis burung, 19 jenis reptil, 60 jenis ikan, 29 jenis invertebrata, dan 128 jenis mamalia termasuk Gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus ) di dalamnya.

Gajah dan Manusia

Gajah Asia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan manusia. Jaman dahulu, raja-raja dan para penguasa memelihara ribuan gajah yang digunakan untuk upacara, berburu, ataupun untuk keperluan berperang. Bagi orang Asia, gajah mempunyai arti yang lebih penting daripada hanya sekedar binatang beban atau perang. Gajah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan dan kebudayaan mereka. Karya Hindu kuno acap kali mengacu pada gajah, dan banyak karya-karya besar yang terilhami oleh mamalia itu. Salah satu dewa yang paling terkenal adalah Ganesha, putra Siwa yang berujud fisik berupa gajah. Sebagai Dewa kebijaksanaan dan penolak bala (remover of obstocles), Ganesha dihormati oleh masyarakat Hindu.

Saat ini gajah banyak digunakan di industri perkayuan dimana lebih dari 4000 ekor gajah dilatih untuk menarik kayu-kayu yang telah di tebang. Banyak anggapan bahwa gajah merupakan alat transportasi ideal untuk berbagai penelitian karena binatang buas (liar) biasanya tidak mengganggu gajah-gajah itu dan atau penunggangnya. Berkembang dari situ gajah kemudian dipakai untuk melakukan patroli di taman-taman nasional dan merupakan alat transportasi yang ideal didaerah-daerah yang sulit.

Gajah Sumatra Sebagai Bagian Dari Gajah Asia

Sebagai mamalia darat terbesar yang hidup hingga saat ini, gajah terdiri dari dua spesies yaitu Gajah Asia (Elephas maximus) dan Gajah Afrika (Loxodonta africana). Gajah Sumatra adalah sub-spesies dari Gajah Asia dan merupakan jenis yang terkecil diantara Gajah-gajah Asia. Dibandingkan dengan Gajah Afrika, Gajah Asia memiliki ukuran tubuh, daun telinga, dan gading yang cenderung lebih kecil. Dalam kehidupannya gajah lebih sering berkelompok dimana jumlah individu gajah dalam setiap kelompoknya berkisar antara 20 – 60 ekor dan dipimpin oleh seekor gajah betina dewasa. Kemudian berturut-turut diikuti dibelakangnya oleh gajah-gajah jantan dewasa bergading panjang, gajah-gajah betina dan anak-anaknya, dan yang paling belakang adalan gajah-gajah jantan muda. Dalam suatu rombongan selalu ada seekor gajah pejantan, yakni gajah jantan dewasa yang kuat dan biasanya berukuran lebih besar dari anggota lainnya. Pejantan ini akan digantikan oleh gajah jantan dewasa lainnya melalui suatu pertarungan. Pejantan yang kalah akan terusir dari kelompoknya dan hidup soliter/menyendiri dan biasanya akan berperilaku ganas.

Masa hidup mamalia raksasa ini dapat mencapai 70 tahun, akan tetapi dalam kehidupan liar umurnya relatif lebih pendek. Masa hamil gajah berkisar 19 sampai 21 bulan dimana umur kedewasaannya baru dimulai pada usia 25 tahun. Berat lahir seekor anak gajah dapat mencapai 90 kg dan pada usia dewasa berat tersebut akan terus bertambah hingga ?3000 kg dengan tinggi bahu 1,7- 2,6 meter. Mamalia – yang gemar akan tanaman pisang, palma, jahe-jahean, jenis bambu, dan berbagai tumbuhan merambat – ini dapat memakan 200 kg hijauan selama tiga hari untuk tiap seekornya.

Mengapa Harus Optimis ?

Dalam acara Workshop Strategi Pengelolaan Gajah Sumatra di Provinsi Riau dan Sumatra Utara, pada 19 July 2004 di Pekanbaru, John Kenedi (waktu itu masih menjabat sebagai Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Alam Riau) mengatakan bahwa pada tahun 1985 jumlah gajah di Riau diperkirakan mencapai 1067 hingga 1617 ekor. Kemudian menurun secara drastis sejak tahun 1999 sehingga pada tahun 2003 jumlahnya menjadi hanya sekitar 356 hingga 435 ekor saja. Dengan perkiraan itu jumlah Gajah Sumatera yang mati di Riau antara tahun 1985 hingga tahun 2003 adalah sekitar 1261 ekor. Itu artinya jumlah rata-rata kematian gajah di Riau mencapai 66 ekor setiap tahunnya, atau telah terjadi penurunan populasi gajah sekitar 77,95 % dalam kurun waktu 19 tahun terakhir. Hal yang sama juga terjadi di kantung-kantung habitat gajah lainnya, sehingga saat ini Gajah Asia menjadi salah satu satwa terancam punah (endangered).
Beberapa faktor utama penyebab kematian gajah dapat dirumuskan sebagai berikut:

Hilangnya Habitat

Saat ini sekitar 20 % populasi dunia hidup di dalam atau di sekitar sebaran gajah Asia. Dengan tingkat kenaikan jumlah penduduk yang besarnya 3 % pertahun, maka dalam waktu 23 tahun jumlah penduduk dunia akan menjadi dua kali lipat. Di sinilah letak akar masalah konservasi gajah Asia sebenarnya. Hutan sebagai tempat tinggal gajah telah berkurang menjadi hanya sebagian kecil saja dari hutan tempat tinggalnya dahulu. Hutan India yang dahulu sangat luas, dimana gajah bebas berkeliaran, sekarang luasnya kurang dari 20 % dari luas negara tersebut dan hanya setengahnya yang seseuai untuk hidup gajah. Di Pulau Sumatera, areal hutan yang sangat luas telah dibabat untuk memberikan akamodasi bagi jutaan orang yang ditransmigrasikan. Sementara itu hutan-hutan di Indocina hancur karena peperangan yang berlangsung selama 30 tahun terus-menerus, terutama karena digunakannya defoliat kimia, napalm, dan pemboman besar-besaran selama perang Amerika-Vietnam.

Fragmentasi Habitat Hutan

Fragmentasi habitat gajah sifatnya sangat merusak merusak. Dalam setiap pergantian musim,gajah-gajah melakukan migrasi untuk memperoleh areal makanan yang lebih baik. Saat ini rute migrasi gajah telah terganggu dan kawanan gajah terus menerus harus menyingkir karena adanya pemukiman dan tanah pertanian baru, dimana kedatanggan gajah-gajah tersebut tidak diinginkan. Kalau gajah tersebut bermigrasi melewati lahan pertanian (bahkan tidak jarang melewati daerah pemukiman), maka akan terjadi konflik karena orang mencoba mengusir gajah-gajah itu dengan tembakan senjata ataupun bomb crude. Gajah dan manusia pun terluka dan tidak jarang ada yang terbunuh.

Kematian Gajah Selama Penangkapan Liar

Penangkapan gajah liar untuk dijinakkan telah menjadi ancaman yang serius bagi populasi gajah liar tersebut karena mengakibatkan menurunnya jumlah populasi yang serius.Ratusan gajah ditangkap setiap tahunnya untuk keperluan industri kayu, sayangnya metode penagkapan yang kasar telah menjadi salah satu sebab utama tingkat kematian gajah yang tinggi.

Perburuan Liar

Gajah jantan Asia sangat menderita akibat perdagangan gading. Hal ini sama sekali bukan merupakan fenomena baru karena gading memang merupakan barang yang sangat berharga sejak dulu kala dan para seniman juga para pemahat Asia memang sudah dikenal akan ketrampilan mereka dalam menyulap gading gajah menjadi barang indah. Laporan terakhir menunjukkan bahwa perburuan gajah untuk diambil gading, kulit, dan tulangnya semakin meningkat. Kulit gajah diseludupkan sebagai obat bisul dan luka, abu tulang gajah di gunakan sebagai obat sakit perut.

Ancaman Genetis

Semakin berkurangnya jumlah gajah besar bergading telah menimbulkan keprihatinan mengenai adanya pengaruh genetis terhadap spesies gajah tersebut. Kalau gajah yang mempunyai gading dibunuh maka jumlah pejantan dalam populasinya juga akan jauh berkurang dan ini mengakibatkan terjadinya rasio jenis kelamin yang tidak seimbang. Kondisi semacam itu selanjutnya akan mengakibatkan meningkatnya penyimpangan genetis (genetic duft) yang bisa menyebabkan terhambatnya pembiakan dan akhirnya menyebabkan tingginya tingkat kematian gajah yang masih muda dan perkembangbiakan yang rendah.

Penyakit

Contoh kasus, pada bulan Mei 1994 wabah haemorrhagic pepticaemia yang merupakan penyakit binatang ternak yang sebenarnya jarang terjadi pada gajah, menjadi penyebab utama matinya beberapa spesies seperti gajah di Taman Nasional Uda Walawe. Kalau sebuah epidemi terjadi pada sekelompok kecil gajah, akibat selanjutnya akan dapat membunuh semua anggota kelompok itu.

Pintu Keluar Pemecah Masalah

Dari berbagai faktor tersebut diatas tampak bahwa kunci untuk mewujudkan pelestarian gajah sepenuhnya terletak di tangan manusia. Program konservasi yang bisa mempertemukan kebutuhan manusia dan gajah harus menjadi perioritas utama. Survei-survei dan studi sosioligis perlu dilakukan di sekitar tempat hidup gajah untuk mencatat/mendeteksi adanya konflik antara gajah dan manusia. Gerakan anti peburuan liar sendini mungkin harus menjadi hal yang konkrit. Dari segi hukum, tindakan tegas dan keras harus ditegakkan bagi para pemburu dan penyelundup itu.

Masyarakat yang hidup berdampingan dengan gajah idealnya harus memperoleh keuntungan dari adanya gajah-gajah tersebut tanpa mengurangi kelangsungan hidup dari gajah tersebut. Mereka dapat dipekerjakan dalam manajemen kawasan lindung, misalnya sebagai tenaga teknis lapangan. Dan apabila kawasan tersebut dapat dikomersialkan melalui kegiatan pariwisata yang merupakan sumber pendapatan, dana itu sebagian dapat juga dialokasikan kepada masyarakat setempat.

Kalau gajah di pandang sebagai sumber pendapatan dan kesejahteraan, sebuah simbol yang disediakan oleh hutan dalam hubungannya dengan hasil dan manfaat yang bisa digunakan, maka gajah akan dapat diselamatkan. Masa depan gajah dibumi tercinta ini sepenuhnya berada di tangan manusia yang telah hidup berdampingan dengan binatang tersebut selama ribuan tahun. Kelak hewan ini akan “hilang” dan hanya meninggalkan nama, apabila kita masih tidak mau tahu dan tidak berbuat sesutu untuk kelestarian mamalia besar ini.

Referensi

  • Buletin Konservasi Alam. Volume 4 Nomor I Juni 2004. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.
  • Elizabeth Kemf & Peter Jakson. 1994. Gajah-gajah Asia di Belantara. WWF-Indonesia Programme.
  • Po Meurah. Volume 3 Nomor 7 Januari-Maret 2003. Fauna & Flora International -Sumatran Elephant Conservation Programme.
  • Kompas. Sejak 1985, Ribuan Gajah Mati di Riau. 20 July 2004. Jakarta
Category
Tags

Comments are closed

Locations of Site Visitors
Archives