badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Taman Nasional Gunung Leuser

Tanggal 22 September dikenal sebagai hari badak sedunia. Peringatan ini dicetuskan pertama kali pada tahun 2010 di Afrika Selatan.

Badak merupakan salah satu penghuni bumi terlama, kurang lebih 50 juta tahun. Hewan purba ini menyisakan 5 spesies saja di dunia, yaitu badak putih, badak hitam, badak india, badak sumatera dan badak jawa. Figur badak tidak sepopuler satwa lain, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa keberadaan badak terancam punah dan harus dijaga.

Di indonesia, terdapat 2 jenis badak dengan status critically endangered atau terancam punah yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis). Perbedaan mencolok dari dua jenis badak ini adalah jumlah culanya. Badak jawa bercula satu, sementara badak sumatera memiliki dua cula di kepalanya.

Kini, badak jawa hanya dapat ditemui di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Sedangkan badak sumatera habitatnya tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Bukit Barisan Selatan, dan Way Kambas. Badak sumatera juga ditemukan di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur tepatnya di Sanctuary Kelian.

badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Taman Nasional Gunung Leuser

Keberadaan satwa endemik pulau Sumatera ini dulunya juga terdapat di Taman Nasional Kerinci Seblat. Namun sudah tidak ditemukan lagi jejaknya sejak tahun 2011.

Keberadaan badak sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam. Badak sebagai absolut browser yaitu pemakan pemakan pucuk daun, ranting, kulit kayu, bunga, buah, dan liana. Jasanya penting untuk memelihara kualitas hutan. Oleh sebab itu, badak turut serta memelihara lingkungan hidup dalam hal ini mengurangi pemanasan global.

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menjadi salah satu benteng terakhir badak sumatera di ujung barat Indonesia. Pada tahun 2019, kondisi sebaran satwa yang identik dengan dua cula ini ialah sebanyak 7,5 individu/10.000 ha dan sebaran di lokasi site monitoring yang terekam adalah 18 individu.

Lambat laun populasi badak sumatera terus mendapat perhatian. Sulitnya dalam bereproduksi hingga terganggunya habitat membuat satwa herbivora ini menjadi prioritas di TNGL selain gajah, harimau, dan orangutan. Singkatnya, tantangan kelestarian badak yang harus dihadapi adalah perburuan cula dan aktivitas illegal logging serta aktivitas manusia di sekitar hutan bisa menyusutkan habitat satwa ini.

Oleh sebab itu diperlukan upaya konservasi badak yaitu patroli rutin, monitoring populasi dan habitat serta pemulihan ekosistem. Salah satunya ialah pembangunan Suaka Badak Sumatera atau Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) di Aceh Timur. Harapannya agar populasi badak Sumatera di Leuser dan berbagai tempat di Indonesia terus tumbuh sehingga dapat terus lestari di alam.

Selamat Hari Badak Sedunia

Category
Tags

Comments are closed

Masukkan alamat email:



Artikel Terkini

Berita Terkini

Locations of Site Visitors
Archives
Categories