Sejarah Hari Bumi

Tahukah kamu bahwa Hari Bumi yang selalu diperingati setiap tanggal 22 April itu  ternyata mempunyai sejarah yang cukup panjang. Bermula dari kepedulian seorang warga sipil Amerika Serikat yang bernama Gaylord Nelson terhadap kondisi  daerah sekitarnya yang rusak karena tumpahan minyak besar-besaran pada tahun 1969 di Santa Barbara, California. Dia kemudian berinisiatif untuk menjadi pengajar dan mendidik masyaraka sekitar tentang lingkungan. Nelson kemudian merekrut Denis Hayes yang aktif di dunia politik sebagai Koordinator Nasional dan Pete McCloskey dari California menjadi wakil ketua. Dengan jumlah staf awal sebanyak 85 orang, mereka berhasil menggerakkan sekitar 20 juta orang di seluruh AS pada tanggal 20 April 1970 untuk mengadakan protes serta berdiskusi di tempat umum untuk membahas soal lingkungan dan cara mempertahankan planet bumi.  Pada tahun 1990, Hari Bumi dijadikan acara global yang diikuti oleh lebih dari 200 juta orang dari 141 negara.  Pada tahun 1997, para pemimpin dunia di Kyoto, Jepang mengakui fakta ilmiah bahwa penyebab utama pemanasan global adalah emisi karbon dari konsumsi bahan bakar fosil dan langkah-langkah nyata untuk menekan laju pemanasan global. Kemudian pada tahun 2000, Hari Bumi diikuti oleh 5.000 kelompok lingkungan dari 184 negara. Hari ini, lebih dari 1 miliar orang  di seluruh dunia telah berpartisipasi dalam kegiatan Hari Bumi.

Implikasi Hari Bumi di Indonesia

Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap Hari Bumi diimplementasikan dalam kebijakan peraturan perundang-undangan terkait lingkungan hidup, air, kehutanan, konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya serta lainnya yang terkait dengan lingkungan. Terkait konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, Pemerintah Indonesia melalui UU Nomor 5 Tahun 1990, telah menetapkan tujuan dari kegiatan konservasi adalah mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. Kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan: a. perlindungan sistem penyangga kehidupan; b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;  serta c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Ekosistem merupakan bagian dari biosfer bumi yang memberikan peran penting dalam kehidupan manusia. Manusia sebagai elemen dalam ekosistem, adalah sebagai subjek dan objek yang memberikan kontribusi bagi kelestarian maupun kerusakan ekosistem. Sehingga sudah sewajarnya, jika manusia menempatkan posisi sebagai penanggung jawab dalam kelestarian bumi yang kita diami.

Apa Yang Bisa Dilakukan untuk merayakan  Hari Bumi

Pertama, mengajak orang lain untuk lebih memahami masalah lingkungan. Hal ini akan membuat lebih banyak orang sadar dan diharapkan mau ikut andil melakukan tindakan nayata untuk melindungi lingkungan.

Kedua, berkomitmen pada diri sendiri untuk “melayani “bumi. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan tindakan sederhana seperti menanam pohon di sekitar kita, ikut serta dalam gerakan bersih sungai, mematikan peralatan elektronik saat tidak dibutuhkan, menggunakan produk perawatan dari bahan alami, mematikan lampu saat siang hari untuk menghemat energi, mengurangi sampah plastik, ikut serta dalam gerakan bersih kawasan hutan dan tidak merusak kawasan hutan, tidak memelihara satwa dan tumbuhan yang dilindungi undang-undang dan lain sebagainya.

Dan yang paling penting, Hari Bumi tidak hanya tanggal 22 April saja, tetapi Hari Bumi adalah sepanjang hari. Karena Bumi adalah tempat dimana kita hidup, menghirup nafas dan berinteraksi dengan makhluk lainnya. Sehingga kita memiliki tanggung jawab untuk melayani bumi sebagaimana Bumi telah berkontribusi nyata bagi kehidupan kita umat manusia.

Hari Bumi dan Pandemi

Hari Bumi tahun ini tentu berbeda. Pandemi COVID-19 yang meluas di berbagai negara melahirkan kebijakan pemerintah termasuk Indonesia untuk #DiRumahAja. Anak sekolah belajar di rumah, orangtua pun bekerja di rumah. Kehadiran seluruh anggota keluarga di rumah membuat beberapa alat elektronik terpaksa terus menyala untuk memenuhi kebutuhan dan kenyamanan. Sebut saja AC, kipas angin, televisi, rice cooker, dispenser dan laptop. Termasuk handphone yang sebentar-sebentar di-charge. 

Menyikapi hal ini, langkah kecil yang dapat kita lakukan untuk bumi adalah dengan menghemat listrik dan air. Susun jadwal menonton sehingga tak hanya televisi yang istirahat tetapi justru mata kita. Jadikan satu ruangan untuk belajar dan bekerja di rumah sehingga tidak semua kipas atau AC menyala. 

Menghemat penggunaan air bukan berarti tidak mandi atau tidak mencuci tangan. Mandi tetap penting untuk membuat tubuh lebih segar. Cuci tangan di masa pandemi dianjurkan sesering mungkin dilakukan. Namun kita bisa menimbang secukupnya air untuk membasuh tubuh maupun tangan.

Teks @Fitriana Saragih, 2020

Category
Tags

Comments are closed

Locations of Site Visitors
Archives