Tanggal 21 Maret diperingati masyarakat dunia sebagai Hari Hutan Internasional (HHI). Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya keberadaan hutan.  Tema HHI untuk tahun 2020 adalah “Forest and Biodiversity” atau dalam bahasa kita, “Hutan dan Keanekaragaman Hayati”.

Sejarah

Hari Hutan Internasional atau dikenal dengan International Day of Forest pertama kali diperingati berdasarkan Resolusi PBB 67/200 yang berlangsung pada tahun 2012. Peringatan perdananya setahun kemudian, yaitu 21 Maret 2013. Berdasarkan resolusi tersebut, PBB mendorong negara-negara anggota untuk memperingati Hari Hutan Internasional dengan melakukan kegiatan yang mengangkat isu hutan dan pohon.

Hutan dan Keanekaragaman Hayati

Hutan merupakan sumber daya alam yang berperan penting dalam kehidupan manusia dan lingkungannya.  Dalam Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan, definisi hutan adalah: “Suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.”

Komponen biologi dan fisik yang ada di hutan membentuk siklus yang saling ketergantungan.  Salah satunya adalah keberadaan satwa liar di hutan. Mereka mempunyai peranan sebagai salah satu bagian rantai makanan, penyeimbang ekosistem hutan dan membantu penyerbukan tanaman. Satwa liar secara tidak langsung membantu dalam penyebaran biji sebagai bibit untuk menjadi tumbuhan baru. Itulah mengapa satwa liar sering dijadikan sebagi indikator kualitas lingkungan.

Kehadiran satwa liar mempunyai fungsi dan peranan penting bagi ekosistem alami serta kehidupan manusia. Di alam, setiap individu satwa liar ikut serta dalam siklus perputaran makanan pada habitatnya (hutan). Pepohonan di hutan dapat tumbuh dan memastikan hutan itu sendiri. Dengan demikian fungsi hutan sebagai pemasok oksigen dan air, pengontrol suhu udara dan pengendali musim akan tetap berlangsung. Manusia dan seluruh mahluk hidup di bumi merasakan manfaat ini.

Deforestasi dan Zoonosis

Hilangnya hutan akibat kegiatan manusia (deforestasi) akan meningkatkan potensi zoonosis atau penyakit menular dari hewan ke manusia. Menurut Komite Ahli WHO pada tahun 1958, zoonosis merupakan suatu penyakit yang secara alamiah dapat menular di antara hewan vertebrata dan manusia. Lebih lanjut menurut Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Penyakit zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, ataupun sebaliknya.

Zoonosis merupakan ancaman baru bagi kesehatan manusia. Dengan hutan yang terbuka, satwa liar akan menginvasi atau melakukan pergerakan ke luar habitatnya untuk memenuhi pakannya. Sebagai dampak lanjutan dari kondisi tersebut, satwa liar  mempunyai akses yang sangat dekat dengan manusia. Terbukanya hutan membuat lingkungan pemukiman masyarakat semakin dekat dan membuat kemungkinan kontak dengan hewan liar yang memiliki virus meningkat. Hal tersebut perlu menjadi perhatian kita semua karena hewan seperti kelelawar terbukti memiliki virus-virus yang berpotensi menginfeksi manusia.

Organisasi WHO memperkirakan sebanyak 61% dari semua penyakit yang terjadi pada manusia berasal dari zoonosis. Begitu pula 75% penyakit baru yang ditemukan dalam dekade terakhir ini juga zoonosis.

Menurut temuan dari peneliti IPB dan LIPI, kelelawar buah di Indonesia memiliki 6 jenis virus yang menimbulkan zoonosis. Tim peneliti IPB dan Research Center for Zoonosis Control (RCZC) Universitas Hokkaido di Jepang menemukan jenis virus pada kelelawar buah, yakni coronavirus, bufavirus, polyomavirus, alphaherpesvirus, paramyxovirus, dan gammaherpesvirus. Dan baru-baru ini, Novel Coronavirus awalnya berasal dari konsumsi hewan liar seperti ular dan kelelawar. Coronavirus dapat menyebabkan pneumonia dengan gejala batuk berdahak, demam, dan kesulitan bernapas.

Untuk menghindari penyebaran virus itu, kita dianjurkan untuk menghindari kontak langsung dan tidak langsung dengan satwa liar karena berpotensi menstransmisi agen penyebab penyakit.  Agar dapat berperan sebagai penyeimbang ekosistemnya, satwa liar harus dapat hidup nyaman dihabitat alaminya. 

Risiko yang kita hadapi jika deforestasi atau memelihara satwa liar terlebih yang dilindungi, adalah terganggunya fungsi hutan, kepunahan satwa dan penularan penyakit dari dan ke satwa tersebut. Menjaga dan melestarikan hutan merupakan tanggung jawab bagi kita semua.

Teks : Alfian Fandi Nugroho, PEH BBTN Gunung Leuser

Category
Tags

Comments are closed

Locations of Site Visitors
Archives