1. Letak 

Taman Nasional Gunung Leuser dengan luas 1.095.592 Hektar, berada pada koordinat 96º 35” s.d 98º 30” BT dan 2º 50” s.d 4º 10” LU. Secara administrasi di dua provinsi, yaitu Provinsi Acehdan Provinsi Sumatera Utara. Dikelilingi oleh 10 kabupaten/Kota (Gayo Lues, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Kota Subulussalam, Dairi, Aceh Tenggara, Karo, Deli Serdang, Langkat, dan Aceh Tamiang).

2. Topografi

Ditinjau dari segi topografi, kawasan TNGL memiliki topografi mulai dari 0 meter dari permukaan laut (mdpl) yaitu daerah pantai hingga ketinggian lebih lebih dari 3000 mdpl, namun secara rata-rata hampir 80% kawasan memiliki kemiringan di atas 40%.

3. Geologi

Dijelaskan oleh C.G.G. van Beek dalam C.V. Schaik dan J. Supriatna (Ed), 1996, bahwa TNGL terbagi ke dalam 5 Unit Fisiografi, dan di setiap Unit masih dapat dibagi ke dalam beberapa sub-unit. Unit-unit fisiografi utama tersebut terkait langsung dengan zona fisiografi longitudinal pada zona subduksi sepanjang Sumatera. Kelima unit fisiografi tersebut adalah:  West Coast Chain (Blangpidie plain, Tapaktuan chain, Kluet-Bakongan plain, dan Singkil Bay);  West Barisan (Senaboh chain, Leuser Kluet mountains, dan Bengkung plateau);  West Alas Chain (Kemiri block, Ketambe block, Mamas block, dan Sembabala block); Central Graben (Bukit limus block, Gunung Api block, Blangkejeren basin, Palok mountain, dan Alas graben);  East Barisan (Gayo mountains, Singgamata mountain, Kapi plateau, Bendaharan block, dan Karo highland);  dan East Coast Chain (East coast hiils, dan East coast plain).

Peta Formasi Geologi TNGL
Peta Formasi Geologi TNGL

4. Iklim

Kawasan TNGL dalam pengaruh inter-tropical convergence zone. Oleh karena itu sebagian besar klasifikasi iklimnya masuk ke dalam kategori Klas A, yaitu wet and hot tropical rainforest climate. Dalam tipe iklim ini, temperatur bulanan mencapai 18 derajat Celcius dan curah hujan tahunan lebih besar dari pada evaporasi tahunan aktual. Peta pembagian iklim di kawasan TNGL disajikan pada Gambar dibawah ini.

Peta Pembagian Iklim TNGL
Peta Pembagian Iklim TNGL

5. Tanah

Jenis tanah di kawasan TNGL cukup beragam dari jenis aluvial, andosol, komplek podsolik, podsolik coklat, podsolik merah kuning, latosol, litosol, komplek rensing, organosol, regosol, humus, tanah gambut, tanah sedimentasi dan tanah vulkanik.

Peta Jenis Tanah TNGL
Peta Jenis Tanah TNGL

ABSTRAK

                Pentingnya penelitian ini dilakukan adalah selain untuk mendeskripsikan gejala hukum dari pengelolaan lingkungan hidup dan pengelolaan hutan di kawasan EkosistemLesuer juga menjelaskan gejala dalam hidup lingkup otonomi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah tentang penerpan prinsip-prinsip hukum pengelolaan lingkungan hidup dan pengelolaan hutan di kawasan Ekosistem Lesuer, pengelolaan hutan dalam perspektif Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daeah yang telah di ganti dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 dan Faktor-Faktor enyebab kegagalanya.

                Metode penelitian yang dgunakan dalam disertasi ini adalah penelitian hukum normatif sosialogi dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan untuk selanjutnya spesifikasi penelitian dengan menggunakan pendekatan multi entry artinya penelitian ini bukan saja dianalisis menurut norma-norma hukum pengelolaan lingkungan hidup dan pengelolaan hutan yang terdapat dalam berbagai peraturan melainkan juga meliputi aspek non hukum. Dari pendekatan ini akan diperoleh bahan masukan yang bersifat yuridis sosiologi dan hal-hal yang bersifat normatif, aspek ekonomis dan politik dapat menjawab pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dan pengelolaan hutan khususnya di Nanggroe Aceh Darusslam. Responden penelitian dipilih dan di tentukan berdasarkan hasil survei yang dilakukan di dalam penelitian ini. Teknik penarikan sampel di tentukan dengan cara purposive sampling. Alat pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini dalah kuesioner, pedoman wawancara, observasi dan sudi dokumen untuk selanjutnya dilakukan analisis kualitatif.

ABSTRAK

                Dalam penelitian ini bersifat Deskriptif analitis. Lokasi penelitian yaitu Kota Medan, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Aceh Tenggara (KuaCane). Pendekatan yang adalah Yuridis normatif, dan pendekatan yuridis empiris hanya sebagai penunjang, yaitu dengan milih beberapa informan yaitu Kepala Balai TNGL, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Langkat, Camat Bahorok, Kepala Resosrt TNGL wilayah Langkat, Unit Managemen Taman Nasional Gunun Leuser, dan Kepala Desa Batu Jongjong. Kemudian dianalisis dengan pendekatan Kualitatif dedukatif.

                Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan hukum lahan enclave pada kawasan taman Nasional Guung Leuser masih berdasarkan pada Besluit Selfbesjuur No. 138 Tahun 1935 yang di tetapkan ke dalam tiga enclave yaitu lahan enclave Semberlin, lahan enclave sapo padang dan taman Nasional Gunung Leuser. Ketentuan yang terkait dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Langkat terhadap lahan enclave adalah Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, dan Keputusan Presiden Nomor 33.

ABSTRAK

                Hasil penelitian ini berdasarkan korelasi rank Spearman (rs) dapat diketahui bahwa adanya hubungan antara perencanaan kebijakan dengan partisdipasi masyarakat. Hubungan ini dapat dilihat dari nilai rs = 0,455 dan nilai t hitung = 4,570 lebih besar dari t tabel = 1,67 yang artinya kebijakan dalam perencanaan dapat mempengarui tingkat peranserta masyarakat, begitu juga hubungan antara kebijakan dalam pelaksanaan mempunyai hubungan sedang. Hubungan ini dapat kita lihat nilai rs = 0,635 dan nilai t hitung = 7,924 lebih besar dari t tabel = 1, 67, sedangkan hubungan nilai rs = 0,635 yang menunjukan hubungan kuat dimana t hitung = 7,924 lebih besar dari t tabel = 1,67.

                Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa kebijakan yang diterbitkan pemerintah Kabupaten Aceh tenggara, baik kebijakan dalam perencanaan, maupun kebijakan dalam pelaksanaan dan kebijakan dalam pengawasan mempunyai korelasi positif dengan peran serta masyarakat.

ABSTRAK

                Pada dewasa ini tela terjadi perambahan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) oleh sekitar 1.500 orang pendatang yang terdiam yang berdiam di wilayah Sei Minyak Kasio, Damar Hitam, Desa Hamparan Jaya Kecamatan sei Lepan Langkat merambah sekitar 1.000 Hektare hutan yang dioah menjadi tempat tinggal dan pertanian (Media Indonesia, 30/11/2000) dan diperhitungkan saat ini telah mencapai sekitar 1.500 ha, hal ini merupakan suatu perubahan yang sangat besar bagi masyarakat di sekitar Taman nasional Gunung Leuser (TNGL) yang selama ini berpuluh-tahun selalu menjaga kelestarian hutan TNGL.

Tujusn penelitian ini untuk pengaruh akibat kegiatan perambahan hutan di KEL ole masyarakt pendatang terhadap terhadap perubahan pendapatan, pendidikan, pertanian permukiman, pelayan kesehatan masyarakat disekitarnya. Dan untuk melihat faktor-faktor apakah yang mempengarui perambahan hutan di KEL.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan serta hasil pembahasan data-data dengan menggunakan alat bantu statistik pada program komputer SPSS 11.000, dapat di tarik kesimpulan adalah bahwa pengarui perambahan hutan di daerah Kawasan Ekosistem Leuser pada umumnya memberikan pengaruh yang baik (positif) dalam jangka oendek yang di tandai dengan semakin besar pendapatan masyarakat, semakin membaiknya pelayankesehatan, juga meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat serta semakin tegaknya hukum dan mulai di galakkanya organisasi-organisasi kemasyarakatan di daerah penelitian. Namun dalam jangka panjang akan memberikan kerusakan bagi masyarakat di sekitar.

                Faktor-faktor yang mempengarui pemanfaatan huta secara kostruktif dalam pengelolaan lingkungan adalah : (1) Kesiapan masyarakata, (2) pengetahuan, (3) penyuluhansedangkan yang mempengarui secara destruktif adalah : (1) kepatuhan terhadap hukum, serta (2) keanggotaan organisasi kemasyarakatan. Dimana faktor yang paling dominan mempengarui peramabahan hutan adalah yaitu kesiapan masyarakat menerima perambahan hutan itu sendiri.

ABSTRAK

                Kegiatan pembangunan jalan Ladia Galaska dalam Kawasan Ekosistem Leuser telah menjadi bahan perdebatan sejak lama. Masalahna adalah apakah keberadaan jalan yang akan di bangun dapat membuka akses kedunia luar bagi masyarakat yang terisolir atau akan membuka jalan bagi para pendatang untuk mengeksploitasi kawasan alami yang sebelum nya tidak tersentuh.

                Untuk itulah penelitian tertarik untuk melihat pengaruh pengembangan jalan sebahagian Ladia Galaska Blangkejeren – Kuta Cane terhadap sosial ekonomi masyarakat yang berada di Kawasan Ekosistem Leuser.

                Berdasarkan penjelasan diatas, maka perumusan masalah dalan penelitian in adalah : (1) apakah pengembangan jalan sebahagian Blangkejeren-Kuta Cane akanberpengaruh terhadap sosial ekonomi masyarakatyang berada di kawasan Ekosistem Leuser, (2) pengaruh apa yang akan di timbulkan dari pengembangan jalan sebahagian Blangkejeren – Kuta Cane terhadap kawasan hutan,lahan pertanian/perkeunan yang berada di sepanjang jalan pengembangan disekitar Kawasan Ekosistem Leuser.

                Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui pengeruh pengembangan jalan sebahagian Blangkejeren_Kuta Cane terhadap sosial ekonomi masyarakat yang berada di Kawasan Ekositem Leuser (2) Untuk mengetahui pengaruh dari pada pelebaran jalan sebahagian Blangkejeren-Kuta Cane terhadap kawasan hutan, lahan Pertanian/perkebunan yang berada disepanjang jalan pengembangan disekitar Kawasan Ekosistem Leuser.

ABSTRAK

                Penelitian ini termasuk kategori survey mengingat banyaknya populasi yang dapat dijadikan sebagai unit penelitian. Tempat penelitian dilakukan di Taman Wisata Alam punti kayu palembang. Variabel dan masing-masing indikator yang digunakan adalah tingkat kepuasan pelanggan dengan indikator harga tiket masuk, lokasi taman wisata alam, tempat ibadah, fasilitas parkir, kuantitas hiburan, jenis hiburan, keamanan, kebersihan lokasi, keramahan dan komunikasi yang efektif. Populasi penelitian adalah seluruh konsumen Taman Wisata Alam Punti kayu Palembang yang diambil 100 orang secara accidental sampling. Data primer yang diperlukan adalah jawaban responden terhadap kuesioner dan dokumentasi. Analisi data yang dilakukan adalah analisis kuantatif dan kuantatif dengan teknik analisis Indeks Kepuasan Pelanggan (IKP).

                Hasil analisis menunjukkan pengunjung merasa tidak puas untuk 10 indikator pelayanan jasa tersebut. Tingkat kinerja pelayanan sebesar 33,47 rata-rata kinerja pelayanan sebesar 3,34, nilai IKP dengan nilai rata-rata IKP sebesar -0,8. Indikator tertinggi terdapat pada atribut harga tiket masuk dengan IKP sebesar -0,17 sedangkan indikator yang paling kecil terdapat pada atribut kuantitas hiburan dengan IKP sebesar -1,3.

Kata Kunci : Tingkat Kepuasan Pelanggan, Pelayanan.

ABSTRAK

                Kawasan  hutan Taman Nasional Gunung Leuser merupakan ekosistem yang dihuni oleh berbagai jenis satwa liar, di antaranya adalah Gajah Sumatera ( Elephas Maximus Sumatranus). Akibat terfragmentasinya habitat gajah, muncul masalah seperti konflik antara manusia dengan gajah. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi faktor fisik tempat terjadinya konflik gajah dengan manusia serta mengetahui tingkat kerusakan tanaman akibat konflik gajah dengan manusia di Resort Tangkahan, Cinta Raja dan Sei Lepan serta kawasan Ekosistem Leuser. Dengan memanfaatkan koordinat kejadian konflik gajah, kemudian diolah dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis dapat di ketahui beberapa faktor yang dapat menyebabkan konflik antara gajah dan manusia di antaranya ketinggian tempat, kelerengan, jarak dari sungai, jarak dari hutan dan pengunaan lahan di sekitar Taman Nasional Gunung Leuser serta kawasan Ekosistem Leuser.

                Melalui penelitian ini dapat di ketahui bahwa kejadian konflik lebih banyak terjadi pada ketinggi antara 0-200 mdpl, pada kelerengan 0-8%, 8-15% dan 15-25% kemudian jarak 0-400 meter dari sungai di wilayah Taman nasional Gunung Leuser dan Kawasan Eksosistem Leuser. Hubungan antara masing masing faktor fisik dengan jumlah kerusakan akibat kejadian konflik gajah di uji menggunakan korelasi spearman. Hasil uji menunjukkan bahwa faktor fisik kawasan yang paling kuat mempengarui kejadian konflik adalah fakror kelerengan dan yang paling lemah adalah faktor jarak dari hutan.

Kata Kunci : Gajah, Konflik Gajah dan Manusia,SIG TNGL

ABSTRAK

                Tujuan peneltian ini adalah untuk mengindentifikasi dan memetakan potensi wisata alam yang terdapat di sepanjang jalur wisata alam gajah di Kawasan Ekowisata Tangkahan, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat. Pengambilan data dilakukan dengan pengambilan titik koordinat potensi di tampilkan dengan peta dasar. Hasil observasi potensi wisata dianalisis secara deskriptif dan tabulasi.

                Potensi wisata yang di temukan adalah potensi flora, fauna dan alam. Potensi flora, fauna dan alam tersebar di sepanjang jalur. Potensi flora ditemukan sebanyak 63 jenis. Potensi alam yang di temukan yaitu panorama alam, air terjun sei garud, ceruk, pantai kupu-kupu, gua kalong, gua air panas sekucib, dan gua kambing.

Kata Kunci : Tangkahan, Wisata, Potensi, Peta, Jalur

ABSTRAK

Taman Nasional Gunung Leuser dan Kawasan Ekosistem Leuser merupakan kawasan hutan konservasi yang harus tetap di jaga keberadaannya. Kawasan ini menyediakan jasa lingkungan serta memiliki tipe ekosistem hutan dengan berbagai vegetasi dengan kondisi fisik kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi fisik kawasan dengan tingkat kerapatan tajuk yang ada di lokasi. Dengan menggunakan sistem Informasi Geografis dapat di ketahui tingkat kerapat tajuk serta kondisi fisik kawasan seperti ketinggian dan kelerengan. Selanjutnya, dari analisis data yang di peroleh dapat dilihat hubunganya dengan uji korelasi.

                Topografi sebagian besar di wilayah penelitian adalah daerah pada ketinggi 0-500 mdpl seluas 40.393,55 ha, Kelerengan lahan sebagian besar oleh lahan bertopografi sangat curam (>40%) seluas 41.885,44 ha dan nilai indeks vegetasi sebagaian besar berada pada kisaran NDVI 0,537-0,646 seluas 39.328,19 ha. Hubungan antara ketinggian dengan kerapatan vegetasi diperoleh korelasi yang kuat yaitu 0,600 dengan korelasi positif sehingga semakin tinggi ketinggian maka tingkat kerapatan tajuk semakin meningkat dan hubungan antara kelerengan dengan kerapatan tajuk di peroleh cukup rendah yaitu 0,326 dengan korelasi negatif.

Kata Kunci : TNGL, Ketinggian, Kelerengan, Kerapatan tajuk, SIG

 

ABSTRAK

Serangga permukaan tanah di stasiun penelitian ketambe telah di teliti dengan tujuan untuk membandingkan keragaman, kepadatan relatif dan frekuensi relatif serangga permukaan tanah pada habitat hutan primer dan hutan sekunder. Penelitian ini menggunakan metode survei eksploratif. Sampel di koreksi dengan metode perangkap jebak barber (Barber pit fall trap), dengan lokasi penelitian pada hutan primer dan hutan sekunder di Stasiun penelitian Ketambe, Ekosistem Leuser. Hasil peneltian menujukkan bahwa di hutan primer didapatkan 2.598 individu serangga yang terdiri atas 11 ordo, 28 familia dan 47 genus, sedangkan di hutan sekunder didapatkan 2.276 individu yang terdiri atas Drosophylidae merupakan serangga yang paling banyak didapatkan pada kedua habitat baik jumlah genus maupun jumlah invidunya. Familia Scarabaedae, Staphylinidae, Cloropidae dan Phoridae merupakan serangga yang paling banyak didapatkan di hutan primer. Sementara familia Nasutitermetidae lebih banyak ditemukan di hutan sekunder, namun frekuensi relatifnya rendah