Konservasi Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) dengan Penangkaran di Habitat Alaminya: Apakah bisa menjawab Konflik Manusia dan Harimau yang terus terjadi di Sumatra?

Seorang teman diskusi berkata:

Berbicara mengenai konservasi Harimau sumatra itu sangat pelik, sangat complicated.

Permasalahan yang sering muncul adalah konflik antara manusia dengan harimau, ancaman yang paling tinggi adalah dari konflik tersebut. Pertemuan pembahasan “Best Management Practices (BMP)” untuk konservasi in-situ Harimau Sumatra: yang diutamakan saat ini adalah konservasi in situ. Kalo penangkaran mah pasti bisa, tapi “that is not the main concept of sumatran tiger conservation”. Saya sudah sering mengikuti kegiatan pembahasan upaya konservasi harimau tersebut, dari kota ke kota dari provinsi ke provinsi: permasalahan utama adalah penyempitan habitat akibat peningkatan kebutuhan lahan oleh manusia. (Joko Prawoto)

Status Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae)

Tahun 2006, dua orang peneliti yaitu Colin P Groves dan JH Mazak, mengusulkan Harimau sumatra menjadi spesies terpisah, bukan menjadi sub spesies dari yang di mainland. Di captive breeding program tercatat lebih dari 270 Harimau sumatra. Apakah jumlah harimau di habitat liar Sumatra 300?. Kata Antonius Nurcahyo (Staf Ahli TNC Sumatra) bahwa: Saya sendiri saat di TN Bukit Barisan Selatan dalam satu tahun terkadang lebih dari 10 harimau dibunuh. Setahu saya saat ini yang intensif (dan memiliki data terakhir) melakukan survey populasi dengan kamera trap adalah WCS-IP (mereka baru menjalankan Wide Island Survey di Sumatra untuk harimau (Haryo Tabah Wibisono dkk), London Zoological Society (kalau tidak salah di Riau dan Jambi, Adnun Reno dkk), WWF dijalankan beberapa tahun lalu oleh Sunarto di TN Batang Gadis dan sekitarnya), kalo STP di TN Way Kambas saya tidak tahu apakah masih memonitor populasi harimau di tempat tersebut.

Karmila (Peneliti WWF Sumatra) mendukung pernyataan Antonius Nurcahyo, bahwa hasil penelitian Groves dan Mazak menunjukkan bahwa Harimau sumatra dan Harimau jawa masing-masing adalah species, bukan sub species. Sedangkan Harimau bali adalah sub species dari Harimau jawa. Tapi, hasil ini belum dikukuhkan dan diterima secara internasional. Jika ya, maka akan membawa dampak (politis dan ekologis) yang besar karena perlindungan terhadap jenis terakhir harimau di Indonesia ini menjadi sangat ‘sexy’.

Perkiraan terakhir berada di sekitar angka 300 individu di seluruh Sumatra. Ini angka yang sangat kasar karena proses survei di beberapa tempat masih berlangsung. Hasil sementara sudah dimasukkan ke STAKORNAS Harimau sumatra 2007-2017. Ada FFI yang survei di Ulu Masen, Aceh dan TN Kerinci Seblat (dan Hutan lindung Batang Hari). Ada WCS yang survei di KEL, Aceh dan Lampung (TNBBS), PKHS di TN Bukit Tigapuluh, sedangkan WWF di Lanskap Tesso Nilo-Bukit Tigapuluh, Riau.

Peta sebaran Taman Nasional di Sumatra

Peta sebaran Taman Nasional di Sumatra

(Sumber: http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_sumatera.htm)

Selain melakukan survei dengan camera traps (kamera intai), kami (Karmila, dkk) juga melakukan Island Wide Survey/Patch Occupancy. Keluaran dari kedua metode ini adalah estimasi populasi harimau dan proporsi penggunaan habitat. Khusus di Lanskap TNBT di Riau, kami di WWF tidak hanya melakukan survei di kawasan hutan, tapi juga di berbagai tipe lahan seperti Akasia, Sawit, Karet dan Kebun Campur. Hasil dari occupancy di berbagai tipe lahan ini menjadi bahan pendukung dalam pengembangan BMP Harimau sumatera. BMP ini yang diajukan ke perusahaan untuk diadopsi. Sehingga perusahaan juga turut berkontribusi terhadap upaya konservasi harimau.

Bagaimana penggunaan Kamera Trap?

Data (dalam konteks ini adalah gambar Harimau dari kamera trap) bagi ilmuwan adalah harta karun. Artinya mau dapat gambar Harimau yang sama berkali-kali ya tidak masalah. Dengan begitu mereka bisa mengerti/mengetahui kebiasaan Harimau (kamera trap biasanya tanggal dan jam di-set, sehingga setiap gambar pasti memiliki informasi tentang waktu yang berbeda), selain itu bisa memberikan informasi jelajahnya berdasarkan posisi dimana saja individu itu tertangkap oleh kamera trap. Tetapi tentu saja kalau mau tahu lebih baik tentang home range-nya ya pakai telemetri, terus langsung dipantau dengan satelit (bukan manual dengan triangulasi, yaitu dua orang memantau mencari arah Harimau yg ber-radio tadi dengan antena).

Bagaimana bisa membedakan individu harimau?

Justru dengan kamera trap kita bisa mengenali individu yang berbeda karena pola lorengnya. Setiap individu memiliki pola loreng yang berbeda seperti halnya setiap orang memiliki sidik jari yg berbeda. Dan hal ini lebih pasti daripada menggunakan ukuran jejak atau pola cakaran.

Hanya ilmuwan/peneliti yang memiliki integritas saja yang mau memelototi begitu banyak data untuk mengenali pola loreng ini. Belum lagi hambatan dari foto2 yang blur dan distorsi lainnya. Artinya salah identifikasi mungkin saja terjadi tetapi jika dibandingkan dengan ukuran tapak dan pola cakaran, gambar dari kamera trap lebih baik dalam identifikasi individu.

Harimau sumatera

Harimau sumatera

(Sumber: http://filesdown.esecure.co.uk/SumatranTigerTrust/_317-6_106-Lewis_1.JPG_15012009-1359-12.JPG)

Untuk mendapatkan gambar yang bagus agar bisa didentifikasi pola cakarannya bukan hal yang mudah. Pertama alat harus memiliki sensor yang baik (termasuk juga autofocus dari kameranya). Kedua sebelum memasang kamera trap (yang saya tahu di WCS), mereka melakukan studi dari apa yang pernah dilakukan oleh orang lain dan juga melakukan eksperimen dengan memasang kamera trap pada beberapa level ketinggian dari permukaan tanah. Akhirnya mereka menemukan ketinggian yang optimal agar bisa mendapatkan gambar yang cukup baik (kepala dan badan bisa terekam), jadi tidak ngawur memasangnya (bisa-bisa kalau ngawur ya dapat kepala atau kaki saja. Mereka juga mengukur jarak antara jalur satwa dengan  kamera trap. Memasang kamera trap pun tidak di sembarang tempat. Jalur satwa itu apa? Tanyakan kepada yg sering masuk ke hutan, mereka pasti dengan gampang dan mudah menentukan apa itu jalur satwa. Bahkan, menentukan jenis baterai alkaline mana yang lebih bagus untuk dipasang dalam kamera trap juga perlu. Banyak jenis alkaline, tapi kualitas berbeda. Karena terkadang kamera harus dipasang dalam waktu sebulan penuh.

Kenapa tapak kaki kurang akurat untuk menentukan individu?

Untuk menentukan individu dengan tapak yang dilihat adalah ukuran tapak tersebut. Nah, masalahnya ukuran tapak ini bisa dipengaruhi oleh banyak hal, faktor di luar manusia seperti: kekerasan tanah, hujan atau tidak hujan, kelerengan. Faktor dari manusia, ya ketelitiannya. Belum lagi apakah Harimau itu meloncat, apakah Harimau itu kepleset (kalau sering ke hutan yang ada populasi Harimaunya pasti bisa membedakan mana tapak yang “sempurna” untuk diukur, mana tapak Harimau kepleset). Dengan berbagai faktor tersebut satu individu harimau bisa menghasilkan berbagai ukuran telapak.

Telapak Harimau Sumatra

Telapak Harimau Sumatra

(Sumber: http://filesdown.esecure.co.uk/SumatranTigerTrust/Tiger_Print_in_Corridor.jpg_13012009-1154-41.jpg)

Densitas tinggi belum tentu mengembirakan, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan. Pertama: apakah ada cukup pakan memenuhi kebutuhan si Harimau. Kedua: apakah kepadatan tinggi ini adalah populasi yang terkompresi karena penyempitan habitat ataukah memang habitat itu cukup menyediakan pakan dan tempat bagi si Harimau. Artinya apakah daya dukung habitatnya cukup menunjang kelestarian si Harimau sumatra ini atau tidak. Bandingkan di TN Teso Nilo dengan kepadatan 1.25 per 100 km (10.000 ha) dengan beberapa tempat lain (kalau tidak salah angka yang di TN Teso Nilo hampir sama dengan di TNBBS). Di daerah dengan sumber mangsa tinggi Harimau bengal di India memiliki home range antara 5.000-100.000 ha, di Manchuria dan Siberia yang mangsanya lebih sedikit, home range-nya 50.000-400.000 ha. Penelitian di Nepal, home range harimau jantan bisa 3 kali lebih luas daripada home range harimau betina.

Menciptakan Habitat yang Aman dan Lestari bagi Harimau sumatra

Sebuah kalimat yang memiliki harapan besar bagi kelestarian Harimau sumatra di Indonesia. Banyak pihak dan institusi yang sekian puluh tahun berperan dan berusaha untuk memujudkan harapan tersebut. Saya sebagai penulis yang notabene dua tahun terakhir ini bercimpung dalam areal pariwisata alam di kawasan Taman Nasional Barat yang dulunya juga sempat “jaya” telah didiami satwa eksotik dan endemik yaitu Harimau bali, sangat perlu membangkitkan usaha-usaha konservasi yang telah lama didengungkan di Sumatra dengan tujuan tidak terulang kembali sejarah Harimau bali yang sudah punah tersebut.

Dengan kata lain: Mari hidup berdampingan dan saling menghargai bersama Harimau Sumatra.

Penulis:
Jarot Wahyudi, S.Hut
Staf Konservasi dan Pengembangan Masyarakat
Menjangan Jungle and Beach Resort
Buleleng-Bali

Email: [email protected]
Situs: www.menjangan.net

Category
Tags

Comments are closed

Locations of Site Visitors
Archives