Letak administrasi:

Kawasan ekowisata Lawe Gurah secara administratif terletak di Desa Ketambe, Kecamatan Ketambe Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Aceh.  Lawe Gurah berada pada zona pemanfaatan Resor Lawe Gurah, SPTN Wilayah IV Badar, BPTN Wilayah II Kutacane dengan luasan 3.489,137 Ha, dengan perincian ruang publik seluas 3.381,31 ha dan ruang usaha seluas 107,827 ha. Ruang publik, artinya diperuntukkan bagi kegiatan wisata pengunjung, sedangkan ruang usaha memberikan peluang investasi kepada pihak swasta untuk mengembangkan kawasan Lawe Gurah dalam bentuk investasi sarana prasarana penunjang ekowisata.

Koordinat:

03°41’01’’ LU dan 097°39’03’’ BT

Aksesibilitas:

Menuju kawasan Lawe Gurah dari Kota Medan – Kutacane dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat sekitar 6 jam. Dari Kutacane menuju kawasan wisata alam Gurah dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Jarak tempuh menuju lokasi  pintu masuk kawasan ± 30 km.

Moda transportasi:

Menggunakan kendaraan umum jenis minibus L300 atau family car yang banyak tersedia di Jl. Jamin Ginting Medan. Selanjutnya dari Kutacane ke kawasan Lawe Gurah cukup banyak angkutan umum yang secara rutin melayani rute ini menuju Blangkejeren.

Sejarah Kawasan

Keberadaan Rafflesia sebagai bunga terbesar di dunia, Orangutan Sumatera, kedih, pemandian air panas alami, dan air terjun serta hutan hujan tropis menjadi daya tarik wisata di Gurah. Gurah sebagai kawasan wisata alam tidak lepas dari sejarahnya dimana keberadaan Gurah juga tidak terlepas dari Stasiun Penelitian Ketambe yang berada di seberang kawasan Lawe Gurah. Di sekitar kawasan Gurah tersebut terdapat stasiun penelitian Ketambe yang telah terkenal sebagai stasiun penelitian hutan tropis sejak tahun 1970an sebagai hutan penelitian. Selama tiga puluh tahun lebih, silih berganti para ahli dunia menimba pengetahuan di hutan tropis ini. Penelitian di TNGL tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan peran Stasiun Penelitian Ketambe yang didirikan pada tahun 1971 oleh Herman D. Rijksen (Suharto, 2006). Pada awalnya tempat ini difungsikan untuk merehabilitasi orangutan sitaan dari penduduk, dalam rangka penegakan hukum dan konservasi alam. Tempat ini dipilih karena kaya dengan tumbuhan pakan orangutan yaitu jenis beringin (Ficus spp.), durian (Durio sp.) dan banyak jenis yang lain. Tempat ini merupakan semenanjung yang diapit oleh dua sungai yaitu Sungai Ketambe dan Sungai Alas, terletak di dalam TNGL. Pertimbangan lainnya ialah tempat ini jauh dari perkampungan penduduk dan dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat pada lintasan jalan Kutacane – Blangkejeren. Pada awalnya pusat penelitian Ketambe seluas 1.5 km2 (Rijksen, 1978).

Kondisi Fisik:

Tipe ekosistem di kawasan Gurah termasuk tipe dataran tinggi dan pegunungan yang berbukit dan bergelombang. Di samping itu terdapat topografi landai  di sekitar camping ground. Kawasan Gurah memiliki berbagai jenis flora dan fauna yang merupakan ciri khusus dari kawasan ini, memasuki kawasan Gurah,  serasa menemui sebuah alam surga. Suhu udara rata-rata di kawasan ini adalah 21,1°C – 27,5 °C, sedangkan kelembaban nisbi 80 – 100 %. Musim hujan merata sepanjang tahun tanpa musim kering yang berarti, dengan curah hujan rata-rata 2000 – 3200 mm per tahun. Sungai Alas yang menjadi pembatas antara zona pemanfaatan Lawe Gurah dengan Stasiun Penelitian Ketambe sering dijadikan sebagai tempat rafting nasional karena merupakan arung jeram terbaik di Indonesia. Jenis tanah pada kawasan hutan terdiri dari jenis tanah kompleks podsolik merah kuning, latosol, litosol dan kompleks podsolik coklat. Kawasan ini terletak di kaki bukit (zone ketiga).

Kondisi Ekologi:

Kondisi tutupan lahan di kawasan Gurah hampir semuanya ditutupi oleh hutan primer seluas 3.191,83 Ha atau sekitar 91,47 % dari luasan zona pemanfaatan Lawe Gurah. Hutan yang masih primer merupakan habitat yang ideal bagi berbagai macam keanekaragaman flora dan fauna.Kawasan Gurah ditandai dengan tumbuhan duri. Rumpun duri ini bergelantungan di pohon lain, jumlahnya mencapai 8 persen dari keseluruhan spesies tumbuhan. Tumbuhan rambat lain adalah rotan (Spiny Palms). Banyak rotan kuat dan tebal di sini, terkadang mencapai 100 m. Di samping flora, belantara Leuser kaya pula dengan fauna. Sedikitnya terdapat 130 spesies mamalia menghuni hutan ini. Dan kebanyakan mamalia di Leuser adalah jenis kalong 15 spesies, kampret 13 spesies, dan tupai 17 spesies. Mamalia lainnya adalah Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Orangutan ini merupakan binatang paling populer di Leuser dan dikenal sebagai mamalia terbesar di dunia. Di samping itu, ada dua spesies kera Leuser yakni Monyet Ekor Panjang (Macaca fasicularis), dan Lutung (Presbytis cristata). Juga terdapat Kukang (Nycticebus coucang), yang hidupnya di malam hari seperti Musang. Terdapat beberapa jenis burung di kawasan ini, diantaranya adalah  Rangkong (Buceros rhinoceros), Manyar, Kakak Tua (Psittinus cyanurus) Elang (Spilornis cheela), Balam (Treron vernans), Merbuk (Merops leschenaulti), dan lain-lain.

Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya:

Kondisi kualitas sumberdaya manusia masyarakat Desa Ketambe sebagian besar masih rendah. Masyarakat Ketambe cenderung memiliki sifat ekspresif, agamis dan terbuka sehingga dapat dikembangkan sebagai pendorong budaya transparansi dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan, salah satunya adalah pengembangan sektor pariwisata alam Gurah.

Masyarakat sekitar Lawe Gurah menjadi pelaku utama wisata di kawasan ini. Sebagian masyarakat menjadi pemandu wisata, penyedia guest house atau penginapan, menjual souvenir, menjual makanan dan agen perjalanan. Dari segi kesejahteraan ekonomi, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, namun banyak juga bekerja di sektor pariwisata seperti pemandu wisata, berjualan souvenir, agen wisata dan lain-lain.

Perekonomian Desa Ketambe, merupakan desa yang berbatasan dengan kawasan Gurah secara umum didominasi pada sektor perkebunan dengan sistem pengelolaan masih sangat tradisional (pengolahan lahan, pola tanam maupun pemilihan komoditas produk pertaniannya). Produk pertanian Desa Ketambe lahan produktif untuk lahan perkebunan seluas 60 Ha. Untuk lahan perkebunan non produktif seluas 30 Ha. Hal ini diakibatkan adanya struktur tanah yang mungkin belum tepat untuk produk unggulan yang mayoritas tanaman coklat, jagung dan nilam. Persoalan yang mendasar kurangnya pengetahuan tentang pola bercocok tanam dan pengendalian hama pada tanaman secara tepat. Untuk Desa Ketambe Luas wilayah menurut jenis penggunaan tanah, luas desa 888 Ha, luas lahan sawah nol, luas lahan bukan sawah 843 ha, dan luas lahan non pertanian 17 ha. Di Desa Ketambe tidak terdapat lahan persawahan. Sedangkan jumlah industri rumah tangga 5 buah, industri kecil 2 buah. Sarana perekonomian yang tersedia yaitu 14 kios/ warung. Terdapat juga rumah tangga pemelihara sapi potong sebanyak 3 rumah tangga.

Masyarakat Desa Ketambe masih mempertahankan kesenian tradisional yang telah mendunia, yaitu tari saman yang sering disebut Tari Tangan Seribu. Selain itu  terdapat Tarian Mesekat, adalah bentuk tarian yang mengkombinasikan gerakan tangan dan badan dengan lantunan syair-syair berisi tuntunan keagamaan dan kehidupan bermayarakat. Syair-syair tersebut dilantunkan oleh para penari sambil melakukan gerakan tarian. Mesekat biasanya dimainkan oleh kaum pria. Terdapat juga kesenian Pelebat yaitu seni perang  adat alas yang memakai rotan  sebagai alat dan tameng, dengan cara saling memukul terhadap lawan. Biasanya sering dilakukan dalam upacara untuk menyambut tamu  kehormatan. Kesenian lain adalah Bangsi yang menggunakan seruling sebagai medianya. sering dilantunkan dalam acara adat seperti jagai, sebagai musik  pengiring dalam acara perkawinan namun hal ini masih sering didengar walaupun sudah jarang orang yang bisa memainkannya. Disamping itu terdapat kesenian Canang yaitu kesenian Tradisonal adat Alas yang menggunakan alat musik berupa kaleng  ataupun gamelan yang terbuat dari logam, di mainkan oleh beberapa wanita. Dan kesenian Lagam  adalah salah satu kesenian suku Alas disamping berbagai kesenian tradisional lainnya yang menjadi unggulan wisata budaya di kawasan wisata alam Lawe Gurah.

Hotel

Untuk fasilitas hotel terdapat di pusat kota:

  1. Hotel Maron
  2. Hotel Lawe Mamas

Penginapan

  1. Wisma Eka Jaya
  2. Wisma Tjut Nyak Dhien
  3. Wisma Jambu Alas
  4. Wisma Rindu Alam
  5. Wisma Ketambe
  6. Wisma Mamas

Homestay

  1. Guest house
  2. Gurah Bungalow
  3. Pondok wisata (cottages)

Rumah Makan

Terdapat sebanyak 2 warung

Sarana dan Prasarana wisata di dalam site

Camping ground, jalan trail, papan informasi, menara pengamat satwa, shelter, musholla, toilet, panggung pertunjukan

Aktivitas yang dapat dilakukan pengunjung

Camping, trekking, arung jeram di Sungai Alas, mandi air panas alami, rekreasi sungai, pengamatan hidupan liar dan menyaksikan kebudayaan lokal  Alas Gayo.

Layanan umum terdekat

Pasar, Puskesmas, Bank

Jasa Pemandu Wisata

Belum ada yang mempunyai ijin sebagai pemandu wisata

Waktu Kunjungan Terbaik

Januari-Desember