Tanggal 23 Mei diperingati sebagai Hari Penyu Sedunia atau World Turtle Day. Waktu yang tepat untuk mengenal penyu dan Stasiun Konservasi Penyu Rantau Sialang yang ada di Taman Nasional Gunung Leuser.

Penyu merupakan kura-kura laut yang berasal dari ordo Testudinata. Hewan ini tersebar di hampir seluruh perairan dunia. Penyu memiliki cangkang yang berfungsi melindungi tubuhnya terhadap pamangsa. Penyu berbeda dengan kura-kura. Apabila dilihat sepintas, mereka memang terlihat sama. Ciri yang paling khas yang membedakan penyu dengan kura-kura yaitu penyu tidak dapat menarik kepalanya ke dalam apabila merasa terancam.

Terdapat dua famili penyu laut yang masih hidup sampai saat ini yaitu Cheloniidae dan Dermochelyidae. Kedua famili ini berasal dari waktu yang berbeda, kemungkinan juga berasal dari nenek moyang yang berbeda pula. Sedangkan tiga famili lainnya hanya berupa temuan fosil. Kedua famili penyu yang masih bertahan hidup sampai sekarang diperkirakan telah mengalami proses evolusi serta mampu bertahan hidup melewati seleksi alam.

Taksonomi Penyu

Berbincang tentang penyu, tidak lengkap rasanya jika tidak mengetahui secara detil silsilahnya, lebih tepatnya taksonominya. Secara keseluruhan, penyu memiliki 5 family yaitu: family Toxochelyidae, family Cheloniidae, family Thalassemyidae, family Dermochelyidae dan family Protostegidae yang termasuk dalam superfamily Chelonioidae (Hirayama, 1997). Saat ini hanya terdapat 2 famili yang masih hidup, sedangkan 3 lainnya telah punah yaitu Toxochelyidae, Thalassemyidae dan Protostegidae. Berikut adalah taksonomi penyu di dunia yang masih ada:

Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Sauropsida
Order: Testudines (Penyu, labi-labi dan kura-kura)
Suborder: Cryptodira
Superfamily: Chelonioidea (Bauer, 1893), ada 2 Family yaitu:
1. Family: Cheloniidae (Oppel, 1811)
    Species:
    1) Chelonia mydas (Penyu hijau)
    2) Eretmochelys imbricate (Penyu sisik)
    3) Lepidochelys kempi (Penyu lekang kempii)
    4) Lepidochelys olivacea (Penyu lekang)
    5) Natator depressus (Penyu pipih)
    6) Caretta caretta (Penyu tempayan)

2. Family: Dermochelyidae
    Species:

    1) Dermochelys coriacea (Penyu belimbing)

Morfologi Penyu

Penyu memiliki ukuran, bentuk dan warna yang berbeda-beda. Perbedaan tersebutlah yang dipakai untuk menentukan jenis mereka. Saat ini jumlah penyu di dunia telah berkurang dan hampir punah.

Penyu mempunyai keunikan dibandingkan hewan lainnya. Tubuh penyu terbungkus oleh tempurung atau karapas keras yang berbentuk pipih serta dilapisi oleh zat tanduk. Karapas tersebut mempunyai fungsi sebagai pelindung alami dari predator. Penutup pada bagian dada dan perut disebut dengan plastron. Ciri khas penyu secara morfologis terletak pada terdapatnya sisik infra marginal (sisik yang menghubungkan antara karapas, plastron dan terdapat alat gerak berupa flipper. Flipper pada bagian depan berfungsi sebagai alat dayung dan mampu berkelana bertahun-tahun di dalam air. Sedangkan flipper pada bagian belakang berfungsi sebagai alat kemudi.

Penyu mempunyai alat pencernaan luar yang keras, untuk mempermudah menghancurkan, memotong dan mengunyah makanan. Penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh selama 58 – 73 hari. Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itupun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan predator alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar.

Penyu bermigrasi untuk mencari dalam jarak yang jauh, dan selalu melintasi seluruh lautan. Penyu menghabiskan seluruh hidupnya di lautan, kecuali ketika penyu betina bertelur, ia akan datang ke pantai. Hal ini terjadi setiap 2 sampai 5 tahun.

Penyu di Indonesia dan di Stasiun Konservasi Rantau Sialang, Taman Nasional Gunung Leuser

Di wilayah Indonesia sendiri terdapat 6 jenis penyu, yaitu: penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu tempayan (Caretta caretta).

Di taman Nasional Gunung Leuser, tepatnya di Stasiun Konservasi Rantau Sialang, terdapat 3 jenis penyu, yaitu: penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Berikut perbedaan ketiga jenis penyu tersebut:

Keterangan penyu belimbing (Dermochelys coriacea) penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea) penyu hijau (Chelonia mydas)
Karapas Berbentuk seperti belimbing, warna gelap dengan bintik putih Seperti penyu hijau, tetapi kepala lebih besar, karapas lebih langsing dan bersudut. Tubuh berwarna hijau pudar, mempunyai lima buah atau lebih sisik lateral di sisi sampingnya dan merupakan penyu terkecil di antara semua jenis penyu Bentuk kepalanya  kecil dan paruhnya tumpul. Warna lemak yang terdapat di bawah sisiknya berwarna hijau. Tubuhnya bisa berwarna abu-abu, kehitam-hitaman atau kecoklat-coklatan.
Ukuran tubuh Panjang 121-305 cm, mencapai berat 500-700 kg ukuran tubuh 62-80cm, berat sekitar 40-60kg panjang 80-150 cm berat mencapai 400 kg
Habitat Perairan tropis terbuka  hingga lautan sub kutub Laut Tropik dalam Perairan beriklim sedang dan wilayah tropis
Makanan ubur-ubur dan cumi-cumi Ketam, udang, crustacea, mollusca, ikan dan rumput laut Lamun atau Algae
Tempat bertelur Pantai kawasan tropis Pantai kawasan tropis Pesisir Afrika, India, Asia Tenggara, Australia dan Kep.Pasifik Seatan.
Frekuensi bertelur 4-5 kali per musim. Per musim bertelur sekitar 2-3 thn Per musim bertelur sekitar 1-3 tahun 5-7 kali per musim telur. Per musim bertelur sekitar 3-4 thn
Jumlah telur 60-80 butir per individu 70-140 butir per individu 60-140 butir per individu
Waktu Bertelur di Rantau Sialang Sekitar Bulan November-Desember Sekitar Bulan Oktober-Februari Sekitar Bulan Februari-Maret
Masa inkubasi 60-63 hari 48-53 hari 45-75 hari

Upaya Konservasi Penyu di Stasiun Konservasi Penyu Rantau Sialang

Lokasi ini ditetapkan sebagai Stasiun Konservasi Penyu Rantau Sialang berdasarkan  Surat Keputusan  Kepala Balai Besar TNGL Nomor SK.45/T.3/BIDTEK/P2/03/2019 tanggal 13 Maret 2019. Melalui penetapan ini, diharapkan kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai lokasi ekowisata saja, tetapi juga berfungsi ganda sebagai stasiun konservasi bagi penyu yang melakukan pendaratan untuk tujuan bertelur di Pantai Rantau Sialang. Keputusan ini juga sebagai bentuk komitmen Balai Besar TN Gunung Leuser terhadap kelestarian penyu yang ada di dunia khususnya Rantau Sialang.

Teks Fitriana Saragih, TN Gunung Leuser

Category
Tags

Comments are closed

Locations of Site Visitors
Archives