(Tapaktuan, Oktober 2021) Tim gabungan yang terdiri dari Resor Konservasi Wilayah 15 Tapaktuan (BKSDA Aceh), BPTN Wilayah I Tapaktuan (BBTNGL), Babinsa (TNI), WCS – IP dan Forum Konservasi Leuser (FKL), melakukan kegiatan respon konflik satwa di Gampoeng Simpang, Kecamatan Bakongan Timur, Kabupaten Aceh Selatan.

Kegiatan penanganan konflik manusia dan harimau Sumatera ini berlangsung sejak Rabu (20/10) hingga Kamis (21/10) malam. Tim berdiskusi di rumah kepala desa Simpang. Tim sepakat upaya penanganan konflik dilakukan dengan cara menghalau satwa dilindungi ini menggunakan petasan (mercon).

Untuk mengetahui eksistensi dan keberadaan harimau Sumatera, tim juga memasang 2 unit kamera penjebak satwa liar (kamera trap) pada titik lokasi awal penampakan raja rimba yang sempat viral di media sosial ini.

Kepala Resor Konservasi Wilayah 15 Tapaktuan, Wirli, mengatakan bahwa harimau Sumatera tersebut masih berkeliaran di sekitar lahan perkebunan sawit masyarakat. Bahkan tim gabungan sempat melihat dan berjumpa langsung di lokasi pada jarak 10 – 20 meter.

“Meski adanya suara keras dentuman atau ledakan mercon, tampaknya mereka belum bergeming untuk kembali ke hutan” ujarnya.

Hasil tangkapan kamera trap, terlihat dua individu harimau Sumatera, 1 indukan dan 1 anakan (masih dalam sapihan induk). Dugaan sementara ada 3 ekor harimau yang masuk ke areal perkebunan masyarakat setempat. 

Dengan kejadian ini, masyarakat agar waspada dan sementara tidak mendekat lokasi turunnya harimau Sumatera di perkebunan.  

[Teks & Foto ©bbtngl, Efa Wahyuni – Wirli – Ulul Azmi|22102021]

Category
Tags

Comments are closed

Masukkan alamat email:



Artikel Terkini

Berita Terkini

Locations of Site Visitors
Archives
Categories