Burung Rangkong merupakan salah satu burung berukuran besar yang menjadi kekayaan fauna di Indonesia. Burung yang sering disebut enggang ini memiliki ukuran badan relatif besar, paruh besar, panjang, namun ringan. Kepakan sayapnya terdengar keras serta memiliki suara yang khas. Beberapa jenis memiliki tanduk yang menonjol di atas paruh, dengan warna agak mencolok. Kemampuan daya jelajah yang luas sekitar 100 km², menjadikan burung ini memiliki peran penting dalam menyebarkan biji dan menjaga keanekaragaman pohon.

Stasiun penelitian ketambe berlokasi di Resor Lawe Gurah, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Badar , Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kutacane, Desa Ketambe, Kecamatan Ketambe Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Stasiun Penelitian Ketambe ditunjuk melalui Keputusan Kepala Balai Besar TNGL Nomor SK.45/T.3/BIDTEK/P2/03/2019 tanggal 13 Maret 2019.  Salah satu fungsinya adalah melakukan pengambilan data dasar stasiun penelitian (informasi cuaca, informasi tumbuhan dan satwa liar, informasi fenologi, dan informasi lainnya yang direkam secara rutin). Dalam pengelolaannya Balai Besar TNGL didukung oleh mitra kerja Forum Konservasi Leuser (FKL) dan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP).

Terdapat 13 jenis rangkong yang tersebar di Indonesia,  9 diantaranya berada di pulau sumatera dan 5 jenis telah berhasil diidentifikasi di Stasiun Penelitian Ketambe. Kegiatan identifikasi rangkong di Stasiun Penelitian Ketambe dimulai pada bulan Juli-September tahun 2019 dengan metode Line Transek. Spesies rangkong  tersebut yakni: julang emas (Rhyticeoros undulatus), rangkong badak (Buceros rhinoceros), enggang klihingan (Anorrhinus galeritus), enggang jambul (Berenicornis comatus), dan rangkong gading (Rhinoplax vigil). Berikut jenis-jenis rangkong yang ada di Stasiun Penelitian Ketambe:

1. Rangkong gading (Rhinoplax vigil)

Leher merah tidak berbulu. Ekor amat panjang dan ada dua garis hitam. Suara sperti ketawa mak lampir.

2. Rangkong badak (Buceros rhinoceros)

Tanduk besar melengkung. Ekor bergaris hitam. Suara: Raungan “honk” kasar atau “honk-hank” jika dengan betina

3. Julang emas (Rhyticeros undulatus)

Paruh atas dan bawah berkerut. Sekeliling mata merah. Terdapat garis hitam di kantung leher. Suara:“Ku-guk” diulang, pendek, dan parau.

4. Enggang klihingan (Annorhinus galeritus)

Bulu hitam. Ekor dua warna. Suara: Lengkingan bernada tinggi dan terus menerus

5. Enggang jambul (Berenicornis comatus)

Jambul putih. Ujung sayap putih. Ekor panjang putih. Suara: Nyaring bergaung “kuk-kuk-kuk” seperti merpati.

Estimasi kepadatan burung rangkong di Stasiun Penelitian Ketambe yakni Julang emas (Rhyticeros undulatus) terdapat 39 individu/km2, Rangkong badak (Buceros rhinoceros) terdapat 3 individu/km2, Enggang klihingan (Annorhinus galeritus) terdapat 6 individu/km2, dan Enggang jambul (Berenicornis comatus) terdapat 1 individu/km2. Sedangkan untuk Rangkong gading (Rhinoplax vigil) tidak dapat diestimasi karena hanya ditemukan sekali selama survey.

Berdasarkan hasil survey, ditemukan sebanyak  166 pohon pakan rangkong  yang terdiri dari 16 spesies di 9 famili yaitu: Canangium odorata, Garcinia dioica, Terminalia bellirica, Elaeocharphus ptiolatus, Sapium baccatum, Dysoxylum alliaceum, Antiaris toxicaria, Ficus altissima, Ficus annulate, Ficus benjamina, Ficus drupacea, Ficus obscura, Ficus parietalis, Ficus sp., Knema laurina, dan Pometia pinnata.

Ketersediaan pakan yang cukup bagi rangkong, menjadi indikator bahwa kondisi tutupan hutan di Stasiun Penelitian Ketambe relatif masih bagus.  Selain itu, jenis rangkong yang ditemukan di Stasiun Penelitian Ketambe sebanyak 5 jenis, menunjukkan bahwa habitat di Kawasan ini masih kondusif. Burung rangkong adalah salah satu bioindikator  masih bagusnya suatu ekosistem.  Stasiun Penelitian Ketambe merupakan  salah satu representative masih baiknya kondisi kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, karena masih layak sebagai “rumah” bagi keanekaragaman hayati.

Sumber :

Ardiantiono, Karyadi, Muhammad I, Abdul K.H, Isma K, Arwin, Ibrahim, Supriadi, William M. 2020. Hornbill density estimates and fruit availability in a lowland tropical rainforest site of Leuser Landscape, Indonesia: preliminary data towards long-term monitoring. Jornbill Natural History and Concervation Vol. 1, Num. 1

Category
Tags

Comments are closed

Locations of Site Visitors
Archives