Taman Nasional (TN) Gunung Leuser merupakan kawasan pelestarian alam yang kaya akan keanekaragaman sumber daya alam hayati. Salah satu TN pertama di Indonesia ini menjadi habitat bagi 4000 spesies tumbuhan, 129 spesies mamalia dan 350 spesies burung. Keberadaan 4 satwa kunci di TN Gunung Leuser yaitu, Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) dan Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae). Keanekaragaman hayati yang ada di kawasan ini, membuat satu dari 54 TN di Indonesia ini semakin istimewa.

Dikelola oleh Balai Besar TN Gunung Leuser, unit pelaksana teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini membawahi 3 Bidang Pengelolaan dan 6 Seksi Pengelolaan. Seksi Pengelolaan TN Wilayah V Bahorok berada dibawah Bidang Pengelolaan TN wilayah III Stabat. Wilayahnya dibagi kedalam 4 resor dan 1 stasiun konservasi.

Resor Bukit Lawang, Bahorok, Bekancan dan Marike berbatasan langsung dengan wilayah masyarakat. Tindakan seperti illegal loging, perambahan dan perburuan tak jarang menjadi ancaman di wilayah ini. Dampaknya, permasalahan pun datang seiring trejadinya konflik antara satwa dan manusia. Diantaranya konflik orangutan yang masuk ke perkebunan milik masyarakat, konflik gajah yang merusak kebun serta konflik harimau yang masuk ke pemukiman dan menyerang ternak hingga menyebabkan korban jiwa.

Kejadian Konflik Harimau Sumatera di Bahorok

Kejadian konflik di Seksi Pengelolaan TN Wilayah V Bahorok telah mengakibatkan kerugian. Matinya ternak warga akibat dimangsa harimau bermula pada tahun 2014. Ternak Jumingin, warga Bahorok, diduga menjadi mangsa harimau kala itu. Dugaan diperkuat dengan hasil foto dari kamera penjebak (camera trap) yang memperlihatkan satwa yang menyerang ternak tersebut adalah harimau sumatera.

Empat tahun berlalu, lagi-lagi ternak milik Jumingin menjadi korban satwa berkharisma ini. Selain lembu, anjing penjaga ternak miliknya juga menjadi korban dalam serangan tersebut.

Terakhir, di penghujung tahun 2019, petugas BBTN Gunung Leuser mendapat dua laporan kejadian konflik harimau dari masyarakat. Peristiwa pertama terjadi pada tanggal 26 Oktober 2019 di Blok Hutan Sungai Landak Desa Timbang Lawan Kec. Bahorok yang merupakan wilayah kerja resor Bukit Lawang. Pemilik ternak mengaku ternaknya dimangsa satwa tersebut pada malam hari di ladang miliknya.

Petugas BBTN Gunung Leuser mengecek ke lokasi dan menemukan bagian badan lembu yang telah dimakan oleh harimau. Bersama BBKSDA Sumut, WCS-WRU dan YHUA, petugas BBTN Gunung Leuser memasang kamera penjebak untuk memantau pergerakan satwa tersebut. Selain itu, dilakukan juga sosialisasi kepada masyarakat dan pemilik ternak serta penjagaan di sekitar kawasan.

Tepat 5 hari dari kejadian sebelumnya, petugas kembali menerima laporan konflik harimau yang memangsa ternak. Pemilik lembu yang bernama Amat melaporkan kejadian yang diperkirakan terjadi pada tanggal 31 Oktober 2019 di lokasi yang cukup berdekatan dengan kejadian sebelumnya.

Sebab dan Analisa

Banyak sebab kenapa harimau mendekati pemukiman. Bisa jadi makanan mereka di habitatnya semakin berkurang atau bahkan sudah habis akibat hutan yang rusak karena aktivitas manusia. Kemungkinan lainnya, harimau terkena jerat sehingga pergerakannya dalam melakukan perburuan terhadap mangsa yang lincah menjadi terganggu. Tak heran jika satwa tersebut mendekati pemukiman untuk mencari mangsa yang lebih mudah ditangkap.

Kejadian ini menjadi alarm bagi semua pihak baik BBTN Gunung Leuser, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, pemerintah daerah, LSM (mitra BBTN Gunung Leuser) dan masyarakat untuk segera mengatasi permasalahan yang timbul dari munculnya harimau di beberapa titik di wilayah Sumatera Utara khususnya di wilayah SPTN V Bahorok.

Berkaca kembali pada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar, dalam penyelesaian konflik antara manusia dan satwa liar perlu diperhatikan beberapa prinsip yaitu manusia dan satwa liar sama-sama penting.  Dalam pemilihan opsi penyelesaian konflik harus mempertimbangkan langkah untuk meminimalisir resiko kerugian yang diderita oleh manusia dan juga mempertimbangkan solusi terbaik untuk kelestarian satwa liar yang terlibat konflik.

Kedua, melihat kondisi lokasi konflik. Setiap konflik pasti memiliki karakteristik habitat, kondisi populasi dan faktor lain yang mempengaruhi sehingga diperlukan pilihan kombinasi solusi yang beragam pada masing-masing wilayah konflik.

Yang diperhatikan selanjutnya adalah skala landscape. Harimau merupakan satwa yang memiliki daerah jelajah yang sangat luas sehingga diperlukan upaya penilaian yang menyeluruh dari keseluruhan daerah jelajahnya. Sedangkan terakhir, tak kalah penting adalah tanggungjawab multipihak baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Penanggulangan Konflik

Dalam menanggulangi konflik harimau di Bahorok, BBTN Gunung Leuser melakukan rapat koordinasi di kantor BBTNGL yang dihadiri oleh mitra yaitu BBKSDA Sumatera Utara, GEF Tiger, WCS-IP, YOSL-OIC, Scorpion dan YEL. Rapat tersebut menghasilkan solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang dalam menyelesaikan kasus ini.

  1. Solusi Jangka Pendek
  • Pertemuan Multipihak

Pertemuan multipihak digelar di kantor kecamatan Bahorok yang dilaksanakan pada tanggal 15 November 2019. Dari pertemuan tersebut diperoleh kesepakatan antara lain himbauan terhadap aktivitas penggembalaan  ternak di dekat kawasan; pemetaan dan identifikasi peternak dan aktivitas warga yang berada di pinggir kawasan; monitoring dan analisis prilaku Harimau Sumatera di wilayah SPTN V Bahorok; membentuk quick respon penanggulangan konflik satwa; melakukan pelatihan alat mitigasi konflik sederhana kepada masyarakat serta sosialisasi dan penyadartahuan masyarakat terkait fungsi hutan.

  • Patroli Gabungan

Patroli gabungan melibatkan pihak BBTN Gunung Leuser, BBKSDA Sumatera Utara, WCS-IP, YOSL-OIC, TNI dan Polri serta volunteer. Kegiatan patroli meliputi pemasangan kamera penjebak, pemetaan wilayah, pengusiran dan penjagaan terhadap masyarakat yang melakukan aktivitas di sekitar wilayah konflik.

Pemasangan kamera penjebak dilakukan di beberapa titik pada jalur yang dilewati satwa. Pemetaan daerah jelajah harimau pun dilakukan. Hasilnya dianalisis oleh WCS-IP.

Penjagaan terhadap masyarakat di sekitar wilayah konflik dilakukan untuk menimbulkan rasa aman dan nyaman di kalangan masyarakat. Sedangkan pengusiran satwa dilakukan dengan membuat suara menggunakan mercon dan kembang api. Tujuannya, agar harimau kembali ke dalam kawasan hutan TN Gunung Leuser.

  • Pembuatan Kandang Anti harimau

Kandang anti harimau digunakan oleh para pemilik ternak agar aman dari serangan harimau. Kandang biasanya dibuat menggunakan tiang kayu yang dililit kawat berduri dengan ukuran 20m x 40m. Kandang tersebut mampu menampung lebih dari 40 ekor lembu. Lokasi pembangunan kandang dipilih jauh dari kawasan hutan agar tidak terjadi konflik lagi. Pembuatannya mendapat support dari WCS-IP.

  • Sosialisasi dan Penyadartahuan

Sosialisasi dan penyadartahuan diberikan kepada masyarakat terkait fungsi hutan, penanggulangan konflik dan ekologi satwa. Sedangkan pelatihan berupa penggunaan alat mitigasi konflik sederhana. Tujuannya, agar masyarakat sadar dan mengetahui apa yang harus dilakukan apabila terjadi konflik kedepannya.

  1. Solusi Jangka Panjang

Beberapa aktivitas berikut akan dilakukan sebagai solusi jangka panjang atas kejadian konflik : pembentukan desa mandiri yang dilengkapi peraturan desa dan pelatihan mitigasi; sinkronisasi data dan informasi terkait pemetaan area konflik dan area peternakan yang berbatasan dengan kawasan TNGL; percepatan terbitnya SK Gubernur Sumatera Utara tentang Tim Koordinasi dan Satgas Penanganan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam menyelesaikan kasus konflik satwa dan manusia. Hal ini memerlukan konsistensi dan tanggung jawab semua pihak terkait. Mari bergandeng tangan untuk kehidupan yang aman dan nyaman bagi setiap makhluk di muka bumi ini.

Penulis : Dimas Arie Pratama, S.Kel, Penyuluh Kehutanan BBTN Gunung Leuser

Category
Tags

Comments are closed

Locations of Site Visitors
Archives