Letak administrasi:

Pantai Rantau Sialang berjarak + 10 km dari Danau Laut Bangko melewati Sungai Bakongan. Objek wisata ini terbentang di dua desa yakni Desa Ujung Mangki dan Desa Pasie Lembang, Kecamatan Kluet Selatan dan Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Aceh.

Secara pengelolaan, pantai ini berada pada dua wilayah kerja yaitu Resor Bakongan dan Resor Kluet Selatan, SPTN Wilayah II Kluet Utara, BPTN Wilayah I Tapaktuan. Zona Pemanfaatan Pantai Rantau Sialang berupa pantai yang terbentang di pinggir jalan lintas barat Medan-Banda Aceh sepanjang + 12 km dengan dengan luas sekitar 67,52 Ha hektar.  Keseluruhan zona pemanfaatan Rantau Sialang adalah ruang publik, artinya diperuntukkan bagi kegiatan wisata pengunjung.

Koordinat:

02°56’19,2’’ LU dan 097°25’12’’ BT

Aksesibilitas:

  1. Medan – Aceh Selatan
  2. Banda Aceh – Aceh Selatan

Sarana transportasi ke Pantai Rantau Sialang cukup memadai dapat dilihat dari jalan yang sudah di aspal dan ketersediaan transportasi darat. Untuk mencapainya dapat ditempuh melalui perjalanan darat dari kota Banda Aceh (ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi dengan waktu tempuh sekitar 12 jam perjalanan.

Sedangkan perjalanan dari Kota Tapaktuan sekitar 1 jam perjalanan dengan kendaraan umum atau pribadi.

Moda transportasi:

  1. Menggunakan angkot (mobil L300) rute Tapaktuan – Subulussalam dari Medan, perjalanan sekitar 7-8 jam.
  2. Menggunakan kendaraan rental (milik perorangan/biro travel), perjalanan kurang lebih 7-8 jam.

Sejarah Kawasan

Secara historis, Danau Laut Bangko merupakan bekas perkampungan nenek moyang Suku Kluet. Raja Bangko saat itu memiliki 7 orang anak. Saat regenerasi kepemimpinan kerajaan terjadi percekcokan antar keturunan raja dan berakhir dengan sebuah banjir besar. Keturunan Raja Bangko akhirnya menyebar ke sekitar danau dan ke bagian utara mengikuti alur sungai Kluet ke daerah Alas dan Karo. Saat ini suku yang mendiami sekitar Danau Laut Bangko dan Pantai Rantau Sialang adalah Aceh, Jamee dan Suku Kluet, merupakan suku minoritas.

Kawasan wisata Pantai Rantau Sialang oleh masyarakat setempat hanya digunakan untuk memancing atau sekadar tempat menghabiskan waktu sore mereka.  Di lokasi ini terdapat objek berupa panorama Pantai Singgamata, Panorama Pantai Rantau Sialang, stasiun konservasi penyu abu-abu, hijau dan belimbing dan objek viewing site buaya di salah satu titik Rawa Kluet. Objek wisata alam ini biasanya dijadikan tempat rekreasi bagi masyarakat sekitar kawasan. Masyarakat mencari telur penyu di sekitar pantai untuk dikonsumsi karena itu pada tahun 2010 didirikan Stasiun Pembinaan Populasi Penyu di Pantai Rantau Sialang. Masyarakat akhirnya secara perlahan-lahan diedukasi untuk mengurangi dan menyerahkan telur penyu yang mereka dapatkan ke pihak TNGL. 

Kondisi Fisik:

Pantai Rantau Sialang secara umum merupakan kawasan hutan dataran rendah dan rawa gambut hutan tropis. Rantau Sialang merupakan perwakilan hutan pantai dataran rendah dengan topografi landai. Ketinggian daerah sekitar Pantai Rantau Sialang sekitar  0 – 250 MDPL sehingga masih dapat dilalui oleh perahu atau boat kecil sampai 8 – 10 Km ke hulu sungai.Hidrologi di Kawasan Pantai Rantau Sialang dicirikan dengan rawa-rawa yang berair sepanjang tahun. Selain itu terdapat aliran sungai baik sungai yang panjang dan anak-anak sungainya. Dengan adanya aliran sungai dan anak-anak sungai, juga rawa yang berair sepanjang tahun, maka kawasan tersebut berfungsi sebagai kawasan tangkapan air hujan, sehingga harus dipelihara, dilindungi dan dijaga.  Kawasan Rawa Kluet juga merupakan lahan gambut yang harus tetap dijaga untuk menyeimbangkan kadar karbon bumi. Semakin ke arah utara dari rawa, kondisi topografi dan ketinggian lebih dari 450 meter dpl menyebabkan air sungai mengalir melalui celah-celah bukit dan lereng yang terjal, hal ini menyebabkan aliran sungai tersebut tidak dapat digunakan sebagai sarana transportasi lagi.

Suhu udara rata-rata 21,1°C – 27,5 °C dengan kelembaban nisbi 80 – 100 %. Musim hujan merata sepanjang tahun tanpa musim kering yang berarti dengan curah hujan rata-rata 2000 – 2600 mm per tahun. Jenis tanah di kawasan ini termasuk regosol, yang dicirikan dengan butiran besar/kasar.

Kondisi Ekologi:

Pantai Rantau Sialang didominasi oleh beberapa tumbuhan seperti cemara laut, nyamplung, dan nipah. Kawasan tersebut  merupakan satu-satunya kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang memiliki habitat pantai serta menghadap langsung ke samudera Hindia.

Kawasan tersebut merupakan habitat bertelur bagi penyu belimbing (Dermochelys coriace), penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea ) dan penyu hijau (Chelonia mydas) saat musim kawin tiba. Kawasan ekowisata ini juga berfungsi sebagai Stasiun Konservasi Penyu Rantau Sialang.

Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya:

Mayoritas masyarakat Desa Pasie Lembang merupakan nelayan atau petani dan sebagian kecil adalah  pedagang. Penduduk nelayan dapat mendukung kegiatan pengembangan wisata terutama penyediaan perahu di sekitar Pantai Rantau Sialang. Masyarakat sekitar Pantai Rantau Sialang dan merupakan masyarakat multi etnis. Berdasarkan data sosial dan budaya, mayoritas suku Aceh, Jame dan Kluet dengan agama mayoritas Islam. Dari segi kesejahteraan ekonomi, sebagian masyarakat masih belum sejahtera.

Hotel

Tersedia di Kota Tapaktuan

  1. Hotel Dianrana : Jl. Merdeka – Tapaktuan
  2. Hotel Cathrine : Jl. Merdeka – Tapaktuan
  3. Hotel Metro : Jl. Merdeka – Tapaktuan

Rumah Makan

  1. Ayam Penyet Jogja : Jl. Merdeka – Tapaktuan
  2. Rindu Alam Café : Jl. Merdeka – Tapaktuan
  3. RM. Wisata : Jl. Merdeka – Tapaktuan
  4. Hero Café : Jl. Merdeka – Tapaktuan

Sarana dan Prasarana wisata di dalam site

Gedung pemeliharaan tukik, bak penetasan telur, kantor pengelolaan, gedung karantina penyu / kolam penyu, Toilet, Papan informasi, Jembatan plat beton dan area parkir

Aktivitas yang dapat dilakukan pengunjung

Pelepasliaran tukik, melihat penyu bertelur, kunjungan edukasi, patrol malam, camping ground, menyaksikan acara tolak bala, kenduri Maulid Nabi dan menikmati panorama pantai.

Layanan umum terdekat

Pasar, Puskesmas, Bank

Jasa Pemandu Wisata

Belum tersedia, dapat menghubungi Kantor BPTN Wilayah I Tapaktuan

Waktu Kunjungan Terbaik

Januari – Februari dan September s/d Desember (musim peneluran penyu)