(Telagah, 29 Juni 2021) Dusun Perteguhen berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Dusun ini masuk dalam administrasi pemerintahan Desa Telagah, Sei Bingei, Langkat. Dusun yang berpenduduk tidak lebih dari 40 Kepala Keluarga ini menopangkan hidup terutama di sektor pertanian. Beberapa tahun terakhir di dusun ini terdapat destinasi wisata yang cukup populer di Sumatera Utara seperti Rumah Pohon Habitat dan Puncak Akui. Hanya saja masyarakat setempat belum melirik ke arah pengembangan potensi wisata.

Perjalanan menuju dusun ini dapat ditempuh sekitar 20 menit dari Desa Telagah, atau 10 menit dari Pamah Simelir. Jalanan masih bebatuan dan di beberapa titik cukup sulit untuk dilalui. Sepanjang jalan terlihat lahan pertanian masyarakat. Masyarakat pada umumnya menanam cabai, kopi dan tanaman horti lainya. Selain itu, hutan bambu yang rimbun dapat kita lihat sejauh mata memandang. Sesekali terlihat masyarakat yang sedang menebang bambu untuk dijual gelondongan. Lewat dusun ke arah Kuta Belkih terdapat juga tanaman sawit meski produksi sawit disana belum begitu memuaskan berdasarkan penuturan masyarakat.

Dahulu, kopi sempat menjadi tanaman yang paling diminati masyarakat. Sekarang hampir seluruh kebun kopi disana kurang terawat. Mengapa kopi ditinggalkan? Pertanyaan ini muncul sebelum diskusi dimulai. Ternyata petani tidak memiliki keterampilan dan minim pengetahuan dalam budidaya kopi. Tanam dan tunggu hasil adalah ciri khas petani kopi disana. Tanaman kopi memang dapat memberi hasil meski minim perawatan sampai usia 5 tahun. Setelah itu tanaman ini butuh perawatan untuk dapat mencapai produksi maksimal. Petani juga menjual kopi dalam bentuk gabah, belum ada keahlian menghasilkan kopi dalam bentuk olahan lain untuk menaikkan harga jual. Selain itu, selama pandemi ini harga kopi sempat anjlok sehingga tanaman kopi semakin ditinggalkan petani. Namun, pertengahan tahun 2021 tampaknya harga kopi mulai kembali meningkat secara perlahan. Akhir Juni 2021 harga kopi gabah kering telah mencapai Rp. 23.000/kg di tingkat pengepul desa.

Beberapa petani berinisiatif untuk kembali memulihkan nama baik kopi di dusun ini. Dua kelompok masyarakat telah terbentuk di awal juni 2021. Kelompok Tani Perteguhen yang semua anggotanya adalah laki laki dan Kelompok Wanita Ersada Arihta yang semua anggotanya adalah perempuan. Kedua kelompok ini fokus kepada tanaman kopi. Kelompok Tani Perteguhen berencana dan fokus pada pertanian kopi sampai panen. Sedang kelompok wanita tersebut berfokus pada kopi pasca panen termasuk sampai produk jadi kopi dan pemasarannya.. Kedua kelompok tersebut bekerja sama dengan Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KP SHK) untuk menggapai impian tersebut.

Pada Senin (28/6), bertempat di kantor Resor Bekancan kelompok masyarakat tersebut menyelenggarakan Focus Group Disscussion (FGD) bertema arah pengembangan kelompok tani dan penjajakan kerjasama dengan multi pihak. Turut hadir dalam FGD adalah pengurus Kelompok Tani Perteguhen, Kelompok Wanita Ersada Arihta, Staf KP SHK, pemerintah Desa Telagah, kepala resor Bekancan dan staf seksi pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuser Wilayah V Bahorok.

Pemerintahan Desa Telagah sangat mengharapkan kelompok ini menjadi pioneer dalam pembangunan pertanian di dusun mereka. Mereka ingin kerja sama program dengan KP SHK yang akan berlangsung selama satu tahun dapat diteruskan masyarakat. Pihak KP SHK sendiri berharap agar masyarakat proaktif dan tidak hanya menunggu bantuan dari pihak luar.

Dalam diskusi juga kedua kelompok masyarakat tersebut bermohon agar dapat menjadi binaan Taman Nasional Gunung Leuser tidak hanya di bidang pertanian tapi juga dalam rangka perlindungan dan pemanfaatan kawasan hutan yang berbatasan dengan desa. Balai Besar TN Gunung Leuser sangat mengapresiasi keinginan kedua kelompok masyarakat tersebut. Sebagai tindak lanjut UPT Ditjen KSDAE Kementerian LHK ini mengharapkan agar kedua kelompok mengajukan permohonan ke Kepala Balai Besar TN Gunung Leuser secara resmi.

Harapannya, dengan adanya kelompok masyarakat yang semakin peduli dengan keberadaan kawasan, aktivitas illegal dapat dikendalikan. Selain itu dapat dijajaki pengembangan kerjasama yang lebih dalam lagi seperti penguatan lembaga, pengembangan wisata alam dan peningkatan keterampilan masyarakat.

[teks & foto ©bbtngl, salmen sembiring|29062021]

Category
Tags

Comments are closed

Masukkan alamat email:



Artikel Terkini

Berita Terkini

Locations of Site Visitors
Archives
Categories