Letak administrasi

Stasiun Penelitian Ketambe terletak di Desa Ketambe Kecamatan Ketambe Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Secara pengelolaan, kawasan ini berada di Resor Lawe Gurah, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah IV Badar, Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah II Kutacane.

Penetapan

Keputusan Kepala Balai Besar TNGL Nomor SK.45/T.3/BIDTEK/P2/03/2019 tanggal 13 Maret 2019

Fungsi

  1. Sebagai lokasi penelitian dengan fokus penelitian orangutan sumatera serta jenis-jenis penelitian lainnya
  2. Sebagai pusat pengamatan rangkong

Luas

450 ha dengan

Koordinat

03°02’50,5’’ LU dan 097°25’02,0’’ BT

Aksesibilitas

Menuju Stasiun Penelitian dari Kota Medan – Kutacane dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat sekitar 6 jam. Dari Kutacane menuju Stasiun Penelitian dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari ibu kota Kabupaten Aceh Tenggara menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dan dilanjut dengan perahu penyeberangan.

Moda transportasi:

Menggunakan kendaraan umum jenis minibus L300 atau family car yang banyak tersedia di Jl. Jamin Ginting Medan. Selanjutnya dari Kutacane ke Stasiun Penelitian cukup banyak angkutan umum yang secara rutin melayani rute ini menuju Blangkejeren, turun di Lawe Gurah dan dilanjutkan dengan penyeberangan menggunakan perahu.

Tata Tertib Peneliti/Pengunjung:

  1. Wajib melapor kepada Manajer Stasiun dengan menyerahkan SIMAKSI
  2. Wajib didampingi oleh petugas stasiun penelitian
  3. Wajib menjelaskan rencana kegiatan penelitian kepada pendamping sebelum kegiatan penelitian dimulai.
  4. Menuliskan kegiatan harian penelitian di buku catatan harian (logbook)
  5. Saling toleransi, bersikap sopan santun serta perhatian antara pengunjung, peneliti dan pengelola di stasiun penelitian dan selama melaksanakan kegiatan, pengunjung dan peneliti dilarang mengganggu, merubah, atau merusak ekosistem kawasan antara lain melakukan penebangan pohon, melukai pohon, mengganggu kesejahteraan satwa, membunuh satwa, membuat suara menyerupai satwa, dan memberikan makanan kepada satwa.
  6. Dilarang membawa alkohol dan NARKOBA yang tidak mendukung kegiatan penelitian dan atau pengambilan sampel.
  7. Dilarang melakukan hal-hal yang mengganggu kenyamanan aktivitas di stasiun penelitian seperti berkelahi, melakukan kekerasan, mengganggu dan menyalahgunakan hak milik orang, membuat kegaduhan merusak atau menghancurkan properti umum dan milik orang lain.
  8. Dilarang meninggalkan stasiun penelitian tanpa sepengetahuan Manajer Stasiun Penelitian.
  9. Wajib menjaga kebersihan stasiun penelitian dengan membuang sampah dalam tempat yang disediakan atau dibawa saat meninggalkan stasiun penelitian.
  10. Dilarang membuang sampah atau benda-benda tidak mudah larut air ke dalam toilet di pipa pembuangan (seperti putung rokok, plastik, kain, dll).
  11. Pengunjung dan peneliti menggunakan sarana dan prasarana sesuai dengan pengaturan oleh Manajer Stasiun Penelitian.
  12. Pengambilan data dilapangan yang dilakukan oleh peneliti wajib sepengetahuan Pendamping Penelitian.
  13. Bagi peneliti yang akan mengambil sampel wajib mengisi catatan pengambilan sampel
  14. Peneliti wajib melaporkan catatan pengambilan sampel kepada Manajer Stasiun Penelitian pada hari terakhir kegiatan penelitian.
  15. Jumlah dan jenis sampel yang diambil harus sesuai dengan SK Pengambilan Sampel, apabila ada kelebihan pengambilan jenis dan jumlah sampel oleh peneliti maka kelebihan tersebut diserahkan dan disimpan oleh Manajer Stasiun Penelitian untuk penanganan lebih lanjut.
  16. Kegiatan perizinan dan pelaporan khusus peneliti wajib mengikuti tata cara yang diatur secara terpisah.

Kondisi Fisik

Tipe ekosistem termasuk tipe dataran tinggi dan pegunungan yang berbukit dan bergelombang. Suhu udara rata-rata di kawasan ini adalah 21,1°C – 27,5 °C, sedangkan kelembaban nisbi 80 – 100 %. Musim hujan merata sepanjang tahun tanpa musim kering yang berarti, dengan curah hujan rata-rata 2000 – 3200 mm per tahun. Sungai Alas yang menjadi pembatas antara zona pemanfaatan Lawe Gurah dengan Stasiun Penelitian Ketambe sering dijadikan sebagai tempat rafting nasional karena merupakan arung jeram terbaik di Indonesia. Jenis tanah pada kawasan hutan terdiri dari jenis tanah kompleks podsolik merah kuning, latosol, litosol dan kompleks podsolik coklat. Kawasan ini terletak di kaki bukit (zone ketiga).

Kondisi Ekologi

Kondisi tutupan lahan di kawasan Gurah hampir semuanya ditutupi oleh hutan primer seluas 3.191,83 Ha atau sekitar 91,47 % dari luasan zona pemanfaatan Lawe Gurah. Hutan yang masih primer merupakan habitat yang ideal bagi berbagai macam keanekaragaman flora dan fauna.Kawasan Gurah ditandai dengan tumbuhan duri. Rumpun duri ini bergelantungan di pohon lain, jumlahnya mencapai 8 persen dari keseluruhan spesies tumbuhan. Tumbuhan rambat lain adalah rotan (Spiny Palms). Banyak rotan kuat dan tebal di sini, terkadang mencapai 100 m. \

Di samping flora, belantara Leuser kaya pula dengan fauna. Sedikitnya terdapat 130 spesies mamalia menghuni hutan ini. Dan kebanyakan mamalia di Leuser adalah jenis kalong 15 spesies, kampret 13 spesies, dan tupai 17 spesies. Mamalia lainnya adalah Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Orangutan ini merupakan binatang paling populer di Leuser dan dikenal sebagai mamalia terbesar di dunia

Di samping itu, ada dua spesies kera Leuser yakni Monyet Ekor Panjang (Macaca fasicularis), dan Lutung (Presbytis cristata). Juga terdapat Kukang (Nycticebus coucang), yang hidupnya di malam hari seperti Musang. Terdapat beberapa jenis burung di kawasan ini, diantaranya adalah  Rangkong (Buceros rhinoceros), Manyar, Kakak Tua (Psittinus cyanurus) Elang (Spilornis cheela), Balam (Treron vernans), Merbuk (Merops leschenaulti), dan lain-lain.

Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya

Kondisi kualitas sumberdaya manusia masyarakat Desa Ketambe sebagian besar masih rendah. Masyarakat Ketambe cenderung memiliki sifat ekspresif, agamis dan terbuka sehingga dapat dikembangkan sebagai pendorong budaya transparansi dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan, salah satunya adalah pengembangan sektor pariwisata alam Gurah.

Masyarakat sekitar Lawe Gurah menjadi pelaku utama wisata di kawasan ini. Sebagian masyarakat menjadi pemandu wisata, penyedia guest house atau penginapan, menjual souvenir, menjual makanan dan agen perjalanan. Dari segi kesejahteraan ekonomi, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, namun banyak juga bekerja di sektor pariwisata seperti pemandu wisata, berjualan souvenir, agen wisata dan lain-lain.

Perekonomian Desa Ketambe, merupakan desa yang berbatasan dengan kawasan Gurah secara umum didominasi pada sektor perkebunan dengan sistem pengelolaan masih sangat tradisional (pengolahan lahan, pola tanam maupun pemilihan komoditas produk pertaniannya). Produk pertanian Desa Ketambe lahan produktif untuk lahan perkebunan seluas 60 Ha. Untuk lahan perkebunan non produktif seluas 30 Ha. Hal ini diakibatkan adanya struktur tanah yang mungkin belum tepat untuk produk unggulan yang mayoritas tanaman coklat, jagung dan nilam. Persoalan yang mendasar kurangnya pengetahuan tentang pola bercocok tanam dan pengendalian hama pada tanaman secara tepat. Untuk Desa Ketambe Luas wilayah menurut jenis penggunaan tanah, luas desa 888 Ha, luas lahan sawah nol, luas lahan bukan sawah 843 ha, dan luas lahan non pertanian 17 ha. Di Desa Ketambe tidak terdapat lahan persawahan. Sedangkan jumlah industri rumah tangga 5 buah, industri kecil 2 buah. Sarana perekonomian yang tersedia yaitu 14 kios/ warung. Terdapat juga rumah tangga pemelihara sapi potong sebanyak 3 rumah tangga.

Masyarakat Desa Ketambe masih mempertahankan kesenian tradisional yang telah mendunia, yaitu tari saman yang sering disebut Tari Tangan Seribu. Selain itu  terdapat Tarian Mesekat, adalah bentuk tarian yang mengkombinasikan gerakan tangan dan badan dengan lantunan syair-syair berisi tuntunan keagamaan dan kehidupan bermayarakat. Syair-syair tersebut dilantunkan oleh para penari sambil melakukan gerakan tarian. Mesekat biasanya dimainkan oleh kaum pria. Terdapat juga kesenian Pelebat yaitu seni perang  adat alas yang memakai rotan  sebagai alat dan tameng, dengan cara saling memukul terhadap lawan. Biasanya sering dilakukan dalam upacara untuk menyambut tamu  kehormatan. Kesenian lain adalah Bangsi yang menggunakan seruling sebagai medianya. sering dilantunkan dalam acara adat seperti jagai, sebagai musik  pengiring dalam acara perkawinan namun hal ini masih sering didengar walaupun sudah jarang orang yang bisa memainkannya. Disamping itu terdapat kesenian Canang yaitu kesenian Tradisonal adat Alas yang menggunakan alat musik berupa kaleng  ataupun gamelan yang terbuat dari logam, di mainkan oleh beberapa wanita. Dan kesenian Lagam  adalah salah satu kesenian suku Alas disamping berbagai kesenian tradisional lainnya yang menjadi unggulan wisata budaya di kawasan wisata alam Lawe Gurah.

Sarana dan Prasarana

Sampan, pos jaga, musholla, dapur umum, ruangan aula, seperangkat jenset, sumur cincin, mess peneliti, ruangan perpustakaan, tangki air, toilet, papan nama, pompa air, alat pengukur suhu/cuaca, alat pengukur suhu hutan, Kamera traf online, alat pengukur debit hujan, alat pengukur sungai, Kamera trap pengintai.

Layanan umum terdekat

Pasar, Puskesmas, Bank

Contact Person

Manager  Stasiun Penelitian Ketambe:

Supriadi

+62 85296674317

[email protected]

[email protected]