( Aceh Tenggara, November 2020) Video kemunculan harimau Sumatera yang direkam langsung oleh seorang warga beredar di media sosial dan memancing rasa penasaran. Bahkan ada yang menyebut harimau Sumatera tersebut adalah Sri Nabila, yang dilepasliarkan di Kappi, TN Gunung Leuser, pada Selasa (3/11). Benarkah?

Menjawab pertanyaan tersebut, BBTN Gunung Leuser bersama mitra WCS-IP telah melakukan analisis dengan menggunakan extract compare terhadap foto atau video harimau Sumatera yang direkam di resor Pulo Gadung, kec. Darul Hasanah, kab. Aceh Tenggara. Hasil perbandingan kedua foto individu harimau secara visual dan dengan menggunakan software extract compare menunjukkan harimau tersebut merupakan individu yang berbeda.  Dengan kata lain harimau yang direkam warga bukan Sri Nabila.

Lebih lanjut Kabid Teknis Konservasi BBTN Gunung Leuser menjelaskan kawasan TNGL di desa Gulo tidak satu hamparan dengan Kappi (lokasi Sri Nabila).

“Banyak barrier antara kedua lokasi ini seperti jalan lintas Agara-Gayo Lues, pemukiman, sungai alas, juga perkebunan masyarakat.”, ujarnya.

Begitu pun pendapat drh. Anhar yang merawat Sri Nabila. “Sangat kecil kemungkinan Sri Nabila sudah berada dilokasi ini karena pergerakan harimau betina tidak begitu luas dan tempat released-nya juga tersedia pakan yang banyak”, jelasnya.

“Harimau adalah satwa yang pintar menyimpan energi (harimau akan bergerak bila diperlukan dan satwa ini tidak mau mengeluarkan energinya untuk sesuatu yang tidak diperlukan”, lanjutnya.

Sebelumnya pada Senin (9/11), setelah mendapat video harimau Sumatera dari warga desa Gulo (8/11), petugas BBTN Gunung Leuser, WCS-IP dan masyarakat mitra Polhut segera melakukan pengecekan dan pengusiran agar harimau kembali ke dalam Kawasan TN Gunung Leuser resor Pulo Gadung, Seksi Pengelolaan TN Wilayah IV Badar, Bidang Pengelolaan TN Wilayah II Kutacane.

Tim sempat mendapat arahan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Ditjen KSDAE, drh. Indra Exploitasia yang pada saat itu akan melepaskan harimau Malelang Jaya di Terangon. 

 “Pengusiran dilakukan dengan membunyikan petasan”, ujar Sufri Helmi yang terus melakukan pemantauan bersama timnya. Tim juga melakukan pemasangan papan himbauan.

Pada Rabu (10/11) , tim juga menemukan jejak satwa kharismatik ini di lokasi yang berbeda. Kemungkinan jejak ini jejak harimau yang sama dengan yang direkam warga.

Menanggapi kejadian ini, Kepala BBTN Gunung Leuser meminta masyarakat tetap waspada dan segera melaporkan kepada petugas jika menemukan jejak atau keberadaan harimau. Harimau dalam video di desa Gulo merupakan individu baru yang belum terekam dalam data di TN Gunung Leuser yang telah disusun selama ini.  

[foto&teks ©bbtngl, sufrí helmi, wcs-ip|13112020]

Category
Tags

Comments are closed

Selamat Datang

Masukkan alamat email:



Artikel Terkini

Berita Terkini

Locations of Site Visitors
Archives